Mendapat tantangan untuk menulis tentang cinta pertama
dari sang ketua FLP dan Vira, membuat saya gelisah sepanjang hari. Bahkan sampai
saat saya mengetik kalimat ini, file-file di otakku masih campur aduk, tidak
tahu mau memulai dengan kata apa. Terlebih lagi setelah membaca tulisan mereka, Vira, Ekis
dan Warti tentang cinta pertama, membuatku semakin keringat dingin. Mereka
berhasil merangkai kata-kata yang menohok hati untuk menggambarkannya.
Namun, sesusah bagaimanapun saya harus tetap menjawab
tantangan mereka, bukan?
CINTA PERTAMA? HEMMM ….
Saya termasuk orang yang mudah mengagumi seseorang, alias
kelebihan mereka. Misalkan Tere-Liye, saya bahkan langsung mengaguminya begitu
membaca karyanya tuk pertama kali. Habiburrahman, penulis keren yang novelnya
banyak diadaptasi menjadi film. Apalagi sosok satu ini, Bukhari, periwayat
hadis yang super kece bin top. (Hohoho :D)
Namun tidak dengan cinta, tidak semudah itu. “C-I-N-T-A
adalah rangkaian huruf yang sarat makna, ia hanya terbang dan hinggap di hati
pilihan, ada maupun tiada alas an.” (Cihuuyyy)
“Cinta tidak sekonyong-konyong hadir karena bentuk
ketertarikan atau kekaguman kepada lawan jenis. Cinta tercipta dari sebuah
proses antara rasa dan masa yang pada akhirnya menemukan tempat di dalam hati.”
Hahaha, itu hanya teoriku. Semua orang bebas berpendapat, kan?
Baiklah, sekarang juga saya akan menghentikan kalimatku
yang bertele-tele, sebelum kalian mengernyitkan alis lalu berucap tidak
nyambung dengan sekian banyak kalimat yang kutulis di atas.
Jika berbicara tentang cinta pertama, maka itu sama saja
dengan menarikku memasuki lorong waktu menuju tahun 201*.
“Sekuat bagaimanapun kau membentengi hatimu, pasti ia
pernah goyah jua. Hanya tinggal bagaimana cara kau mengolah rasa itu.”
Namun, saya belum benar-benar yakin apakah itu
benar-benar cinta atau bukan. Bisa saja itu hanyalah masih bentuk kekaguman—saya
memang belum benar-benar mengerti bagaimana bentuk cinta itu, sebab saya
berharap cinta pertamaku kelak ialah orang yang namanya dan namaku tertulis di Lauh
Mahfuz. Kepada orang yang berusaha menjaga hati sebagaimana saya berusaha
menjaga hati untuknya (huhuhu).
Kata Kang Abay dalam lagunya, “Mungkin Tuhan ingin … kita
sama-sama mencari dan merindukan, dalam doa-doa ….” Eh, Nggak nyambung yah?
Daripada tulisan saya semakin ngawur, maka sudahi saja. Rasanya
cerita di atas semakin lama semakin lebay.
Sebelum mengakhiri saya ingin menyampaikan ini, “Cerita
di atas bisa saja fiktif dan bisa saja fakta. Yang jelas saya sudah berhasil
menjawab tantangan dua orang yang berhasil membuat saya begadang.” :p
29 Feb 2016

hahahaha... okehhhh....
BalasHapuslelaki berkaca mata kahh?
BalasHapusIiiih, kenapa laki-laki berkacamata terusss??? Anime itu duluuu, just anime ...
BalasHapusoh,,, anime,,, sya kira lelaki berkacamata itu beliau
BalasHapushahaha, beliaunya jadi tanda tanya ....
BalasHapus