About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Minggu, 28 Februari 2016

MENJAWAB TANTANGAN; CINTA PERTAMA?



            Mendapat tantangan untuk menulis tentang cinta pertama dari sang ketua FLP dan Vira, membuat saya gelisah sepanjang hari. Bahkan sampai saat saya mengetik kalimat ini, file-file di otakku masih campur aduk, tidak tahu mau memulai dengan kata apa. Terlebih lagi setelah membaca tulisan mereka, Vira, Ekis dan Warti tentang cinta pertama, membuatku semakin keringat dingin. Mereka berhasil merangkai kata-kata yang menohok hati untuk menggambarkannya.

            Namun, sesusah bagaimanapun saya harus tetap menjawab tantangan mereka, bukan?
            CINTA PERTAMA? HEMMM ….
            Saya termasuk orang yang mudah mengagumi seseorang, alias kelebihan mereka. Misalkan Tere-Liye, saya bahkan langsung mengaguminya begitu membaca karyanya tuk pertama kali. Habiburrahman, penulis keren yang novelnya banyak diadaptasi menjadi film. Apalagi sosok satu ini, Bukhari, periwayat hadis yang super kece bin top. (Hohoho :D)
            Namun tidak dengan cinta, tidak semudah itu. “C-I-N-T-A adalah rangkaian huruf yang sarat makna, ia hanya terbang dan hinggap di hati pilihan, ada maupun tiada alas an.” (Cihuuyyy)
            Cinta tidak sekonyong-konyong hadir karena bentuk ketertarikan atau kekaguman kepada lawan jenis. Cinta tercipta dari sebuah proses antara rasa dan masa yang pada akhirnya menemukan tempat di dalam hati.” Hahaha, itu hanya teoriku. Semua orang bebas berpendapat, kan?
            Baiklah, sekarang juga saya akan menghentikan kalimatku yang bertele-tele, sebelum kalian mengernyitkan alis lalu berucap tidak nyambung dengan sekian banyak kalimat yang kutulis di atas.
            Jika berbicara tentang cinta pertama, maka itu sama saja dengan menarikku memasuki lorong waktu menuju tahun 201*.
            Sekuat bagaimanapun kau membentengi hatimu, pasti ia pernah goyah jua. Hanya tinggal bagaimana cara kau mengolah rasa itu.”
            Namun, saya belum benar-benar yakin apakah itu benar-benar cinta atau bukan. Bisa saja itu hanyalah masih bentuk kekaguman—saya memang belum benar-benar mengerti bagaimana bentuk cinta itu, sebab saya berharap cinta pertamaku kelak ialah orang yang namanya dan namaku tertulis di Lauh Mahfuz. Kepada orang yang berusaha menjaga hati sebagaimana saya berusaha menjaga hati untuknya (huhuhu).
            Kata Kang Abay dalam lagunya, “Mungkin Tuhan ingin … kita sama-sama mencari dan merindukan, dalam doa-doa ….” Eh, Nggak nyambung yah?
            Daripada tulisan saya semakin ngawur, maka sudahi saja. Rasanya cerita di atas semakin lama semakin lebay.
            Sebelum mengakhiri saya ingin menyampaikan ini, “Cerita di atas bisa saja fiktif dan bisa saja fakta. Yang jelas saya sudah berhasil menjawab tantangan dua orang yang berhasil membuat saya begadang.” :p
29 Feb 2016

5 komentar: