About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Kamis, 04 Februari 2016

DI DUNIA IMAJI 1, TAMAN PUTIH KEINDAHAN


I

            Aku sering mengembara di dunia imaji dan menemukan berbagai macam pengalaman di sana. Mungkin bagi sebagian orang, aku orang yang aneh, tapi, ah … aku tidak peduli. Banyak hal-hal menyenangkan yang kudapati di dunia imaji daripada di dunia nyata. Sejak menyadari hal itu, aku mulai menciptakan dunia imaji dalam keseharianku. Selalu menyempatkan diri masuk ke alam itu, sebab … sekali lagi kukatakan, banyak hal yang tak kutemukan di dunia nyata di sana.
            Hal-hal yang tidak menyenangkan di dunia nyata, bisa menjadi sangat menyenangkan di dunia imaji. Bahkan ketika menangis di dunia nyata, aku malah tersenyum di dunia imaji. Itulah mengapa aku lebih menyenangi dunia imajiku daripada dunia nyataku. Sebab dunia nyataku penuh kekelaman dan selalu diselimuti kabut gelap yang amat dingin menusuk tulang.
            Di dunia imaji, kudapati semua hal yang sejalan dengan hatiku. Aku bisa memilah adegan-adegan yang bisa kuperankan, lebih senangnya lagi, aku bisa menghapus adegan sedih, kejam, menyebalkan, dan segala hal yang tak kuinginkan semauku, ketika ia tertangkap di indraku. Pokoknya dunia imaji lebih menyenangkan.
            Dan hari ini, aku kembali mengembara ke dunia imaji dan lagi-lagi kutemukan hal tak terduga di sana.
            Di dunia itu, aku mendapati diriku berjalan di sebuah taman yang indah, luar biasa indah, sebab taman tersebut dipenuhi dengan aneka bunga yang keseluruhan berwarna putih, hingga taman terlihat bercahaya. Yah, aku memang pencinta warna putih.
Taman itu amat ramai dan sekali lagi kukatakan, amat menyenangkan. Banyak orang yang berlalu lalang dengan wajah berseri, bercahaya dan raut wajah yang ramah luar biasa. Mereka semua yang ada di taman itu tersenyum menyapaku, mengangguk dengan sekali anggukan kemudian kembali keaktifitas masing-masing.
Saat aku melewati seorang penjaga taman yang sedang menyirami bunga—ah, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana eloknya dipandang penjaga taman itu—ia menghentikan langkahku dengan menyodorkan setangkai bunga putih berbentuk hati. Sangaaat indah, aku yakin tak ada di dunia nyata bunga yang serupa dengan itu.
Aku meraih bunga tersebut sambil berucap terima kasih, dan penjaga taman tersebut membalasnya dengan menepuk pundakku teramat pelan sambil berucap, “Jika bapak perhatikan, hanya cahaya mata anak yang berbeda di taman ini. Bapak temukan cahaya kepedihan yang terus mendekap di sana. Bunga yang anak pegang itu, cabutlah kelopaknya setiap Anak merasak bersedih, maka anak akan merasa tenang. Dan ketika kelopak bunga itu telah habis Anak cabuti, maka akan kamu dapati hal yang luar biasa.”
Bapak penjaga taman itu berlalu, meninggalkanku yang berdiri mematung sambil terperangah. Bapak penjaga taman itu bisa membaca ‘pedih’ yang coba kusembunyikan di dunia yang serba menyenangkan ini, di dunia imaji yang bisa kuciptakan sendiri.
Aku menggelengkan kepala dengan kencang, pedih itu tidak boleh mengikutiku hingga ruang imajiku sendiri, ia tak akan kubiarkan walau hanya akan mengetuk pintu dunia menyenangkan ini.
Aku mengangkat kepala, memasang wajah berseri serupa dengan orang-orang yang ada di taman. Aku terus melangkah menelusuri taman, dimana semakin jauh, semakin indah. Taman itu sangat luas, banyak bangku putih memanjang—yang dapat bergoyang-goyang—tempat istirahat para pengunjung.
Di sisi sebelah kiri setiap bangku, ada kolam mungil yang dipenuhi ikan berwarna-warni. Aku berlari kecil dengan riang, menghampiri kolam ikan yang paling dekat dengan posisiku.
Aku mencelupkan tangan ke dalam kolam, ikan-ikan cantik itu mengeremuni, menggigit-gigit tanganku hingga aku tersenyum geli.
Namun, tiba-tiba saja seorang lelaki tua sudah ada di sampingku, tersenyum padaku, lalu ikut pula mencelupkan tangannya ke dalam kolam. Ia memakai pakaian yang bersinar, tapi anehnya mataku tidak silau karenanya. Baru saja aku akan bersuara untuk menyapa, lelaki tua itu terlebih dahulu berucap,
“Nak, dunia nyata akan terlihat sangat kejam bagi orang yang berhati lemah. Ia akan tertindas dengan orang kuat yang lebih banyak memalingkan wajah. Nak, dunia nyata akan teramat mengerikan bagi orang yang memelihara penyakit hati. Iri, dengki, benci, dendam adalah penyakit mematikan yang menciptakan dunia menakutkan.” Lelaki tua itu menyodorkan sebuah kotak kayu yang tiba-tiba saja sudah ada di tangannya. “Nak, di dalam kotak ini, ada sebuah obat yang teramat mujarab bagi orang yang berhati lemah. Pergunakanlah di saat dirimu mengalami hal itu.”
Setelah menyodorkan kotak yang dimaksudnya, lelaki tua itu menghilang, tanpa memberiku kesempatan bersuara walau sepatah kata. Tapi, hal seperti itu tidak aneh di dunia ini. Datang tiba-tiba kemudian menghilang adalah hal biasa. Bukannya ini dunia imaji?
Aku memandang bunga dan kotak di tanganku. Aku amat penasaran dengan benda yang ada di baliknya.
Benarkah apa yang ada di balik kelopak bunga itu dapat melenyapkan pedihku?
Benarkah benda yang tersembunyi di dalam kotak itu, adalah obat bagi orang yang berhati lemah sepertiku.

Penuh  Imaji

Makassar, 04 Feb 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar