I
Aku sering mengembara di dunia imaji
dan menemukan berbagai macam pengalaman di sana. Mungkin bagi sebagian orang,
aku orang yang aneh, tapi, ah … aku tidak peduli. Banyak hal-hal menyenangkan
yang kudapati di dunia imaji daripada di dunia nyata. Sejak menyadari hal itu,
aku mulai menciptakan dunia imaji dalam keseharianku. Selalu menyempatkan diri
masuk ke alam itu, sebab … sekali lagi kukatakan, banyak hal yang tak kutemukan
di dunia nyata di sana.
Hal-hal
yang tidak menyenangkan di dunia nyata, bisa menjadi sangat menyenangkan di
dunia imaji. Bahkan ketika menangis di dunia nyata, aku malah tersenyum di
dunia imaji. Itulah mengapa aku lebih menyenangi dunia imajiku daripada dunia
nyataku. Sebab dunia nyataku penuh kekelaman dan selalu diselimuti kabut gelap
yang amat dingin menusuk tulang.
Di dunia imaji, kudapati semua hal
yang sejalan dengan hatiku. Aku bisa memilah adegan-adegan yang bisa
kuperankan, lebih senangnya lagi, aku bisa menghapus adegan sedih, kejam,
menyebalkan, dan segala hal yang tak kuinginkan semauku, ketika ia tertangkap
di indraku. Pokoknya dunia imaji lebih menyenangkan.
Dan hari ini, aku kembali mengembara
ke dunia imaji dan lagi-lagi kutemukan hal tak terduga di sana.
Di dunia itu, aku mendapati diriku
berjalan di sebuah taman yang indah, luar biasa indah, sebab taman tersebut
dipenuhi dengan aneka bunga yang keseluruhan berwarna putih, hingga taman
terlihat bercahaya. Yah, aku memang pencinta warna putih.
Taman
itu amat ramai dan sekali lagi kukatakan, amat menyenangkan. Banyak orang yang
berlalu lalang dengan wajah berseri, bercahaya dan raut wajah yang ramah luar
biasa. Mereka semua yang ada di taman itu tersenyum menyapaku, mengangguk
dengan sekali anggukan kemudian kembali keaktifitas masing-masing.
Saat aku
melewati seorang penjaga taman yang sedang menyirami bunga—ah, aku tidak bisa
menggambarkan bagaimana eloknya dipandang penjaga taman itu—ia menghentikan
langkahku dengan menyodorkan setangkai bunga putih berbentuk hati. Sangaaat indah,
aku yakin tak ada di dunia nyata bunga yang serupa dengan itu.
Aku
meraih bunga tersebut sambil berucap terima kasih, dan penjaga taman tersebut
membalasnya dengan menepuk pundakku teramat pelan sambil berucap, “Jika bapak
perhatikan, hanya cahaya mata anak yang berbeda di taman ini. Bapak temukan
cahaya kepedihan yang terus mendekap di sana. Bunga yang anak pegang itu,
cabutlah kelopaknya setiap Anak merasak bersedih, maka anak akan merasa tenang.
Dan ketika kelopak bunga itu telah habis Anak cabuti, maka akan kamu dapati hal
yang luar biasa.”
Bapak
penjaga taman itu berlalu, meninggalkanku yang berdiri mematung sambil
terperangah. Bapak penjaga taman itu bisa membaca ‘pedih’ yang coba
kusembunyikan di dunia yang serba menyenangkan ini, di dunia imaji yang bisa
kuciptakan sendiri.
Aku
menggelengkan kepala dengan kencang, pedih itu tidak boleh mengikutiku
hingga ruang imajiku sendiri, ia tak akan kubiarkan walau hanya akan mengetuk
pintu dunia menyenangkan ini.
Aku
mengangkat kepala, memasang wajah berseri serupa dengan orang-orang yang ada di
taman. Aku terus melangkah menelusuri taman, dimana semakin jauh, semakin
indah. Taman itu sangat luas, banyak bangku putih memanjang—yang dapat
bergoyang-goyang—tempat istirahat para pengunjung.
Di sisi
sebelah kiri setiap bangku, ada kolam mungil yang dipenuhi ikan berwarna-warni.
Aku berlari kecil dengan riang, menghampiri kolam ikan yang paling dekat dengan
posisiku.
Aku
mencelupkan tangan ke dalam kolam, ikan-ikan cantik itu mengeremuni,
menggigit-gigit tanganku hingga aku tersenyum geli.
Namun,
tiba-tiba saja seorang lelaki tua sudah ada di sampingku, tersenyum padaku,
lalu ikut pula mencelupkan tangannya ke dalam kolam. Ia memakai pakaian yang
bersinar, tapi anehnya mataku tidak silau karenanya. Baru saja aku akan
bersuara untuk menyapa, lelaki tua itu terlebih dahulu berucap,
“Nak,
dunia nyata akan terlihat sangat kejam bagi orang yang berhati lemah. Ia akan
tertindas dengan orang kuat yang lebih banyak memalingkan wajah. Nak, dunia
nyata akan teramat mengerikan bagi orang yang memelihara penyakit hati. Iri,
dengki, benci, dendam adalah penyakit mematikan yang menciptakan dunia
menakutkan.” Lelaki tua itu menyodorkan sebuah kotak kayu yang tiba-tiba saja
sudah ada di tangannya. “Nak, di dalam kotak ini, ada sebuah obat yang teramat
mujarab bagi orang yang berhati lemah. Pergunakanlah di saat dirimu mengalami
hal itu.”
Setelah
menyodorkan kotak yang dimaksudnya, lelaki tua itu menghilang, tanpa memberiku
kesempatan bersuara walau sepatah kata. Tapi, hal seperti itu tidak aneh di
dunia ini. Datang tiba-tiba kemudian menghilang adalah hal biasa. Bukannya ini
dunia imaji?
Aku
memandang bunga dan kotak di tanganku. Aku amat penasaran dengan benda yang ada
di baliknya.
Benarkah
apa yang ada di balik kelopak bunga itu dapat melenyapkan pedihku?
Benarkah
benda yang tersembunyi di dalam kotak itu, adalah obat bagi orang yang berhati
lemah sepertiku.
Penuh Imaji
Makassar,
04 Feb 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar