Menginjak semester akhir, sepertinya ‘baper’
menjadi kata favorit yang senantiasa terucap, bahkan di setiap
khalaqah-khalaqah angkatan kami. Kata ‘baper’ mengandung makna khusus
tersendiri di kalangan teman-teman.
Kali ini kata baper saya sangkut
pautkan dengan kunjungan kami ke rumah, teman seangkatan sekaligus teman
sekamarku, guna melanjutkan episode menciptakan kenangan sebelum berpisah.
Semuanya
berawal saat terdengar berita tak terduga—baca berita kaget—terdengar masih
sangat asing di telinga sebagian teman-teman. Bahkan Cece—si gadis bermata
sipit, saat mendengar berita itu jadi paling baper. Katanya perasaan kaget, senang,
juga benci bercampur. Hohoho, sayangnya saya belum bisa cerita tentang berita
kaget itu.
Setelah seru-seruan, bercanda ria,
selfie, akhirnya sebagian rombongan harus pulang, mengikuti ustaz Ghani—pembina
kami tercinta.
Tersisalah delapan orang, menanti
kedatangan Choi Dal Po—begitulah teman-teman menyebutnya akhir-akhir ini, kami rombongan
yang ikut di mobilnya. Ia sedang ke bandara menjemput kakaknya.
Singkat cerita, saat detik jam sudah
merangkak ke arah waktu kepulangan, datanglah sang tuan rumah di tengah-tengah
khalaqah kami sambil membawa buah salak teman berbincang. Dan sungguh
kedatangannya membuat kami menyimak cerita proses lamaran seseorang yang
membuat baper, hohoho.
Apalagi Choi Dal Po—secara dia paling
tua di antara kalangan kami, menjadi pendaratan ejekan teman-teman. Bahwa kapan
menyusul dan bla bla bla ….
Baper … dan kata pernikahan menjadi
dua kata yang selalu terselip di khalaqah angkatan kami. Ada yang bapernya
berlebihan, ada yang biasa saja, dan mungkin ada juga yang tidak baper. Tapi,
jika kata ‘akan nikah’ menyentuh salah satu personil angkatan kami, maka
semuanya bakal pasang telinga. Kepo menjalar ke tulang-tulang.
***
Sepenggal kisah di atas hanyalah secuil
kenangan tentang teman-teman seangkatanku. Masih banyak kisah seru, heboh,
humor serta gokil lainnya.
Begitulah kami, begitulah teman
seangkatanku yang heboh, teman yang selalu mengundang rindu jika tak bersua,
teman-teman yang menggenggam jiwa solidaritas. Teman-teman yang humoris dan
memiliki keunikan karakter masing-masing. Teman-teman, yang entah bagaimana
sedihnya jika waktu harus memaksa kami berpisah dan menjalani kehidupan
masing-masing. Lebay memang, tapi mataku berkaca-kaca saat menulis ini.
Tuh kan,
baper lagi.
Menjelang perpisahan, kami kan terus
menciptakan episode-episode kenangan yang kan kami tonton di ingatan kami
kelak. Bahwa kami sahabat, seangkatan sekaligus juga saudara.
Baper
Gowa, 09
Feb 2016



Tidak ada komentar:
Posting Komentar