About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Selasa, 09 Februari 2016

SEPOTONG KENANGAN TENTANG KALIAN, SAHABAT


         
        Menginjak semester akhir, sepertinya ‘baper’ menjadi kata favorit yang senantiasa terucap, bahkan di setiap khalaqah-khalaqah angkatan kami. Kata ‘baper’ mengandung makna khusus tersendiri di kalangan teman-teman.
          Kali ini kata baper saya sangkut pautkan dengan kunjungan kami ke rumah, teman seangkatan sekaligus teman sekamarku, guna melanjutkan episode menciptakan kenangan sebelum berpisah.

Semuanya berawal saat terdengar berita tak terduga—baca berita kaget—terdengar masih sangat asing di telinga sebagian teman-teman. Bahkan Cece—si gadis bermata sipit, saat mendengar berita itu jadi paling baper. Katanya perasaan kaget, senang, juga benci bercampur. Hohoho, sayangnya saya belum bisa cerita tentang berita kaget itu.
          Setelah seru-seruan, bercanda ria, selfie, akhirnya sebagian rombongan harus pulang, mengikuti ustaz Ghani—pembina kami tercinta.
          Tersisalah delapan orang, menanti kedatangan Choi Dal Po—begitulah teman-teman menyebutnya akhir-akhir ini, kami rombongan yang ikut di mobilnya. Ia sedang ke bandara menjemput kakaknya.
          Singkat cerita, saat detik jam sudah merangkak ke arah waktu kepulangan, datanglah sang tuan rumah di tengah-tengah khalaqah kami sambil membawa buah salak teman berbincang. Dan sungguh kedatangannya membuat kami menyimak cerita proses lamaran seseorang yang membuat baper, hohoho.
          Apalagi Choi Dal Po—secara dia paling tua di antara kalangan kami, menjadi pendaratan ejekan teman-teman. Bahwa kapan menyusul dan bla bla bla ….
          Baper … dan kata pernikahan menjadi dua kata yang selalu terselip di khalaqah angkatan kami. Ada yang bapernya berlebihan, ada yang biasa saja, dan mungkin ada juga yang tidak baper. Tapi, jika kata ‘akan nikah’ menyentuh salah satu personil angkatan kami, maka semuanya bakal pasang telinga. Kepo menjalar ke tulang-tulang.
***
          Sepenggal kisah di atas hanyalah secuil kenangan tentang teman-teman seangkatanku. Masih banyak kisah seru, heboh, humor serta gokil lainnya.
          Begitulah kami, begitulah teman seangkatanku yang heboh, teman yang selalu mengundang rindu jika tak bersua, teman-teman yang menggenggam jiwa solidaritas. Teman-teman yang humoris dan memiliki keunikan karakter masing-masing. Teman-teman, yang entah bagaimana sedihnya jika waktu harus memaksa kami berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Lebay memang, tapi mataku berkaca-kaca saat menulis ini. 
            Tuh kan, baper lagi.
          Menjelang perpisahan, kami kan terus menciptakan episode-episode kenangan yang kan kami tonton di ingatan kami kelak. Bahwa kami sahabat, seangkatan sekaligus juga saudara.
Baper

Gowa, 09 Feb 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar