Teparrr. Itulah yang kurasakan
setiap malam beberapa hari ini, saat mulai mengurus berkas-berkas untuk
keperluan lanjut studi. Berkas-berkas yang tergolong penuh kesabaran ekstra
untuk mendapatkannya.
Asrama, Fakultas, Rektorat, Poliklinik
adalah tempat dimana saya menjadi bola pimpong di dalamnya. Bahkan pernah saya
sampai empat kali bolak-balik Rektorat dan Fakultas di hari yang sama, belum
terhitung pula asrama.
Betis yang terasa ingin meletus, terus
kupaksakan saja melangkah, demi berkas-berkas yang harus kurampungkan sebelum
tanggal 25 yang akan datang.
Baru benar-benar kurasakan sekarang,
betapa pentingnya tahu mengendarai motor, terlebih lagi bagi muslimah yang tak
mungkin berboncengan dengan yang bukan mahram, ditambah perasaan tidak enak
jika harus meminta bantuan teman.
Saya jadi teringat dengan alasan kakak
laki-lakiku dulu, kenapa dia tidak mau mengajariku mengendarai motor. “Kalo
mutau’mi nanti naik motor, keluyuran terusmi itu mukerja,” katanya. Dan amat
kusadari sekarang, alasan itu tidak sepenuhnya benar.
Seorang perempuan, pun harus pandai
mengendarai motor, terutama jika ia seorang mahasiswi, sebab tahu mengendarai
motor tidak berarti juga dia seorang pajokka—baca tukang keluyuran. Akan
ada saat, dimana kita hanya bisa mengurus sesuatu yang mendesak seorang diri
dan kemampuan itu berperan di waktu itu.
Kepada teman-teman, sebagai sesama perempuan,
sesama muslimah, saya sarankan bagi yang tidak tahu mengendarai motor untuk
segera mempelajarinya, terutama seorang mahasiswi, sebab ada saat dimana kalian
akan begitu sibuknya mengurus ini itu, sedang tidak ada yang bisa membonceng
kalian. Maka di saat itu, kalian akan merasakan penyesalan seperti yang saya
alami.
“Kenapa
saya tidak tahu naik motor?”
20 Feb
2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar