Tentang negeri impian yang kutak hanya
ingin berakhir menjadi sekedar mimpi, kan kusibak segala semak yang menghalangi
jalanku, meski harus melahap masa yang tak terhitung.
Di tengah perjalanan, mungkin saja
lenganku akan tergores kayu kecil nan berujung tajam, ataukah kakiku mungkin
akan tertusuk duri yang pengalasnya sudah semakin tipis dikikis tanah, namun
aku tidak peduli. Aku akan terus melangkah. Luka di lengan akan kuplaster
dengan kegigihan, akan kukenakan pula tongkat semangat tuk menyeimbangkan
langkah kaki yang pincang, demi impian hidup yang butuh perjuangan.
Ketika di perjalanan … tekad,
semangat, gigih serta kawan-kawan seperjuangannya, terus kukumpulkan dalam kemasan
baja, agar terkekang di sana sepanjang masa, agar ia tak lari meninggalkanku
tatkala kabut lemah dan capai menyelimuti pandanganku yang tak henti mencari
pintu negeri impian.
Tentang negeri impian, yang hanya bisa
kukagumi melalui cerita dari bibir ke bibir, yang hanya bisa kuraba melalui
gambar yang disodorkan sang pengisah dengan suka cita, saat kami berpapasan di
simpang jalan.
Ia sudah kembali, dan aku masih meniti
jalan.
Tentang negeri impian, yang kutakkan
pernah menyerah menapaki jalan mencari ujungnya menuju pintu gerbang penentu.
Apakah aku layak memasukinya atau
tidak?
Jawabannya hanya masih terkaan. Jelasnya
bisa kuketahui saat berdiri di hadapannya. Namun, aku yakin … waktu selalu
menjawab dengan baik setiap usaha dan kerja keras.
Terlepas dari semua hal itu, aku … dan
negeri impian, masih berupa teka-teki.
Sang
pejuang negeri impian
Gowa, 11
Feb 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar