Hari ini di
luar sana, orang-orang menyebutnya hari valentine. Namun, bagiku, hari
ini hari Ayah.
Meskipun mungkin ucapan ini tidak tepat, namun
saya tetap ingin mengucapkannya kepada Ayah. Tanjoubi Omedetou, Ayah ….
Saya juga minta
maaf, sebab tidak pernah mengucapkannya secara langsung, habisnya saat itu saya
masih kecil dan belum terlalu mengerti ketika ayah melalui tanggal 14 Februari
setiap tahun.
Nah, sebagai kado
ulang tahun, saya akan menceritakan kepada Ayah tentang si Bungsu Dila. Ayah
pastinya tidak terlalu mengenalnya sebab ia masih menyusui saat ayah pergi.
Berbicara tentang
si bungsu, saya jadi teringat dengan sepotong kenangan itu, saat masih
awal-awal kepergian Ayah. Si bungsu Dila, setiap melihat orang yang berkumis,
dia memanggilnya ayah. Kami semua pasti bersedih lagi jika melihatnya seperti
itu. Dia belum mengenalimu, Ayah. Ah sudahlah, lupakan tentang itu, bukan saatnya
bersedih.
Si bungsu
sekarang sudah besar, Ayah, kelas 6 SD. Dia juga semakin cantik dan teramat manja.
Oh yah, juga sangat sensitif. Hahaha, kami … kakak-kakaknya sering
mencandainya. Jika dia sudah merasa terpojok, maka dia akan langsung masuk kamar tanpa berucap
apa pun. Dia ngambek dan menangis sembunyi-sembunyi. Jika sudah seperti itu,
kami pasti kena marah oleh mama.
Oh yah, kami di
rumah juga punya senjata untuk si bungsu jika kebetulan dia malas jika disuruh.
Kami mengancam akan memasukkannya ke pesantren. Dia akan langsung rajin jika
sudah seperti itu karena sangat tidak ingin sekolah di pesantren, mungkin
sebabnya tidak sanggup pisah dengan mama.
Cerita tentang
si bungsunya sampai di sini dulu, Ayah, lain waktu saya sambung dengan
cerita-cerita saudara yang lain.
14 Februari 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar