About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Minggu, 14 Februari 2016

SURAT KE-8, TANJOUBI OMEDETOU, AYAH



       Hari ini di luar sana, orang-orang menyebutnya hari valentine. Namun, bagiku, hari ini hari Ayah.
Meskipun mungkin ucapan ini tidak tepat, namun saya tetap ingin mengucapkannya kepada Ayah. Tanjoubi Omedetou, Ayah ….

       Saya juga minta maaf, sebab tidak pernah mengucapkannya secara langsung, habisnya saat itu saya masih kecil dan belum terlalu mengerti ketika ayah melalui tanggal 14 Februari setiap tahun.
       Nah, sebagai kado ulang tahun, saya akan menceritakan kepada Ayah tentang si Bungsu Dila. Ayah pastinya tidak terlalu mengenalnya sebab ia masih menyusui saat ayah pergi.
       Berbicara tentang si bungsu, saya jadi teringat dengan sepotong kenangan itu, saat masih awal-awal kepergian Ayah. Si bungsu Dila, setiap melihat orang yang berkumis, dia memanggilnya ayah. Kami semua pasti bersedih lagi jika melihatnya seperti itu. Dia belum mengenalimu, Ayah. Ah sudahlah, lupakan tentang itu, bukan saatnya bersedih.
       Si bungsu sekarang sudah besar, Ayah, kelas 6 SD. Dia juga semakin cantik dan teramat manja. Oh yah, juga sangat sensitif. Hahaha, kami … kakak-kakaknya sering mencandainya. Jika dia sudah merasa terpojok, maka  dia akan langsung masuk kamar tanpa berucap apa pun. Dia ngambek dan menangis sembunyi-sembunyi. Jika sudah seperti itu, kami pasti kena marah oleh mama.
       Oh yah, kami di rumah juga punya senjata untuk si bungsu jika kebetulan dia malas jika disuruh. Kami mengancam akan memasukkannya ke pesantren. Dia akan langsung rajin jika sudah seperti itu karena sangat tidak ingin sekolah di pesantren, mungkin sebabnya tidak sanggup pisah dengan mama.
       Cerita tentang si bungsunya sampai di sini dulu, Ayah, lain waktu saya sambung dengan cerita-cerita saudara yang lain.
14 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar