About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Rabu, 20 April 2022

MENIKMATI LUKISAN DI ATAS AIR (DANAU SLANK 1376 MDPL)

 


       Selain gambar, ikat pulalah kenangan dengan tulisan. Olehnya itu aku memutuskan untuk menuliskan catatan perjalanan Danau Slank (15-16 April 2022),  agar kelak bisa dilihat dan dibaca kembali. Mana tahu ada juga orang lain yang tertarik healing melalui tulisan ini.

Mari memulai dari tempatku memulai perjalanan.

    Pukul 08.00 malam aku start dari kost menuju Meeting Point  pertama, Samata, depan kampus UIN Alauddin. Selanjutnya kurang lebih pukul 10.00 rombongan yang berkumpul di Samata sampai di mepo kedua di Parangloe, di sini kami kembali saling menunggu untuk kemudian berangkat bersama ke base camp.

    Ada drama singkat, si kuda putih ngambek dan tidak mau menyala sama sekali. Aku sempat terserang panik, bagaimana akan melanjutkan perjalanan dengan rekan boncenganku, Dilla? Beruntungnya ada dua motor yang boncengannya kosong, jadilah kami ikut dengan kawan perjalanan tersebut, sementara si kuda putih dititip di teras rumah warga setempat. Di kemudian hari aku tidak akan lagi mengabaikan memanaskan mesin motor sebelum berangkat di pagi hari.

    Untuk sampai di base camp kami melewati jalanan yang berkelok sekaligus menanjak. Sesekali kami juga mendapati jalanan aspal yang sudah rusak, jadi motor cukup bekerja keras untuk melewatinya. Di boncengan aku mencoba kalem meski sebenarnya deg-degkan luar biasa.

    Allah selalu lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, itu yang kupikirkan di perjalanan saat itu. Selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian. Jika saja motorku tidak mogok, aku tidak yakin bisa bawa motor di medan seperti itu. Dan apakah si kuda putih sanggup melewati medannya?

    Kurang lebih pukul 11.30 malam kami sampai di Base Camp, beristirahat sejenak lalu kemudian melanjutkan perjalanan pukul 12 lewat setelah berdoa bersama.

    Beberapa meter berjalan menanjak rombongan kami jeda untuk registrasi. Setelah memastikan semua nama sudah tercatat, kami kembali melanjutkan perjalanan.

    Setengah jam pertama masih aman, aku masih bisa mengikuti ritme langkah mereka yang berjalan di depan. Tetapi setelah hampir sejam berjalan dan mereka yang di depan benar-benar seperti ga pake rem saat nanjak, aku mulai kewalahan. Sebentar-sebentar aku mulai berhenti dan beristirahat. Karena merasa bersalah dengan orang yang berjalan di belakang, kupersilakan mereka mendahului.

    “Tidak apa-apa,” katanya.

    “Istirahat saja jika capek, jangan dipaksakan,” celetuk kawan perjalanan yang lain di belakang.

    Aku lega sekali mendengarnya, pastinya aku takut juga kalau ditinggal sendiri.  Setelah beristirahat sejenak aku memulai perjalanan kembali, tidak enak dengan kawan-kawan yang sudah setia menunggu, jangan sampai kelamaan.

    Track yang dilalui hanya bisa dilewati satu orang, jadi kami berjalan berbaris dan benar-benar harus memastikan langkah. Ada dua hal yang harus kami perhatikan, ranjau besar (Red ta*i sapi) yang bisa saja kami injak dan jurang di samping kanan kami.

    Sesampai di air terjun kecil, tempat para pendaki mengisi botol minum, kami istirahat kembali.

  Aku lagi-lagi meletakkan ransel yang semakin lama rasanya semakin berat dan duduk menselonjorkan kaki.

   “Kak mauki dibawakan ranselta?” tawar seorang kawan.

      Aku menolak karena tentu saja merasa tidak enak dan lagi pula aku masih bisa membawanya.

     Setelah percakapan yang cukup panjang aku mengalah dan akhirnya setuju ranselku dibawakan, khawatir perjalanan semakin lambat karena beban berat di pundak, itu juga akan menghambat langkah kawan yang lain. Gagal deh rencana untuk menjadi mandiri.

    Ada adegan lucu sekaligus membuat haru, saat dua orang kawan memperebutkan ranselku. Mereka saling tarik ransel dan ngotot mau membawanya. Lalu kawan yang lain nyeletuk, “Kalo kalian bertengkar biar saya yang bawa.”

    Masya Allah. Barangkali demikianlah yang disebut fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Terima kasih kalian, semoga Allah memudahkan dan melancarkan urusan-urusan kalian.

    Yang istimewa di perjalanan kali ini adalah bulan sedang bersinar anggun. Cahayanya yang terang menemani langkah-langkah kami. Saat sampai di area yang cukup tinggi, seorang kawan yang menjadi leader memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota dari kejauhan.

    “Itu Makassar,” tunjuknya.

    Pemandangan itu sangat indah ditambah cahaya bulan yang memesona. Terbayar pokoknya, terbayar meski sempat injak ta*i sapi.

    Di perjalanan ini aku sangat jarang memotret atau merekam video, sedikit menyesal juga karena tidak ada penguat untuk tulisan ini. Tapi tak apalah. Aku memang tidak begitu pandai mengedit video, hanya sedikit bisa menulis.

    Sekitar jam setengah tiga subuh kami sampai di lokasi camp dan beristirahat sejenak, lalu kemudian mendirikan tenda masing-masing.

    Aku lagi-lagi mengagumi bulan dan keanggunannya dari bingkai pintu tenda. Maha Besar Ia yang menciptakan alam beserta keindahannya. Aku mencoba memotret saat itu, hasilnya tentu biasa saja. Kamera hapeku tidak bisa menangkap cantiknya. Aku ingat terakhir kali menikmati bulan purnama di puncak adalah sewaktu KKN di Jeneponto. Saat itu juga sangat berkesan, kami shalat isya di puncak bukit diterangi cahaya bulan. Meski angin sedang kencang-kencangnya, yang menakjubkan adalah saat sujud suasana sekitar terasa begitu tenang dan menentramkan. Suasana waktu itu belum bisa kulupakan dan belum lagi kutemukan yang kedua kalinya.

            Setelah sahur rombongan memilih menunggu waktu shalat subuh terlebih dahulu baru kemudian terlelap.

(Ini foto kawan-kawan yang sedang bersiap shalat subuh berjamaah)

    Shalat berjamaah di alam adalah salah satu moment yang kunantikan, tapi saat itu lagi tidak bisa ikut jadi aku hanya memotret.

    Nah foto di atas kami ambil saat sedang mengungsi di tenda kawan yang lain. Saat itu sekitar pukul 9 atau 10 di Sabtu pagi. Kami menunggu gerimis reda.

    Perjalanan membawamu berkenalan dengan teman-teman baru. Yang memakai jilbab hitam misalnya, ternyata dia adalah admin Pendaki Cantik di ig, perempuan tangguh yang bisa membawa carrier besar, Dilla. Kami pertama bertemu di Meeting point Samata dan menjadi akrab setelahnya. Dia adalah tipe orang yang hanya dengan ekspresinya bisa membuatmu tertawa. Sekocak itu. Sedangkan yang jilbab abu-abu, kami kali pertama bertemu di trip Bulu Baria, aku mengingatnya sebagai orang yang baik dan ramah, Lutfi. Kebanyakan foto-fotoku di sana by using her phone, jernih soalnya 😄. Mereka berdua paling heboh kalau lagi meributkan siapa yang paling bocil, aku cuma bisa ngakak liat mereka. Dan teman-teman perjalanan lain yang belumlah namanya kuhafal satu-satu, tetapi satu hal yang pasti, mereka seru-seru.

                                                         (Ini Zahiya yang ikutan nanjak)


(Foto ini di take setelah gerimis reda)

    Setelah gerimis reda kami ke pinggiran danau untuk menikmati pesona Danau Slank.


    Fabiayyi alaai rabbikumaa tukadzdzibaan, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan? Aku sangat suka menatap viewnya yang bagai lukisan di atas air. Dan permukaan air danau yang tenang lagi jernih seakan mentransfer ketenangan ke dalam diri.
    Sekedar informasi, sumber air Danau Slank berasal dari sungai kecil yang mengalir dari gunung, berkelok memanjang. Dan ternyata mulanya danau ini bernama Lembah Loe sebelum akhirnya berubah saat terjadi longsor di tahun 2004.


    Setelah menikmati pemandangan danau, kami naik ke puncak yang tanjakannya lumayan miring. Pemandangan dari tempat ini lebih luas dan tentu saja lebih indah. Bagiku tidak masalah menjadi lelah, karena alam membuatku betah.

(Ini Dilla yang dipaksa foto karena mengaku tidak suka difoto)


    Pada akhirnya big thanks to gapakerem.adventure untuk trip ini, untuk sahur on the montainnya. Perjalanan ini seru dan menyenangkan. Terima kasih pula untuk teman-teman yang banyak bersabar dan membantu selama di jalur pergi maupun pulang. Aku teringat dengan seorang kawan saat di perjalanan kembali, dia mengaku senang membawa beban berat 😁. Aku tahu itu hanya kata-kata menghibur demi mengurangi rasa bersalahku. Pokoknya terima kasih. Semoga kalian orang-orang baik senantiasa dikelilingi oleh kebaikan-kebaikan dalam hidup.

NB: Sekadar catatan tambahan untuk kalian yang tertarik ke Danau Slank, jalur menuju tempat ini tidak terlalu menyiksa, ada banyak track yang landai, bonus menghibur bagi pendaki amatiran sepertiku. Dan lama tempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Perjalanan yang singkat untuk pemandangan yang memikat, bukan? Yok, jangan takut menjadi lelah untuk menelusuri segala pesona alam. Alam-alam benar-benar indah ketika tersenyum.


Gowa, 21 April 2022
Catatan Perjalanan Danau Slank (15-16 April 2022)


Selasa, 16 Juli 2019

Puncak Bulusaraung

     Sejatinya kita tidak memiliki kesempatan untuk tidak bersyukur kepada Sang Pencipta, jika kita memikirkan banyak hal tentang nikmat yang melekat pada diri atau sekeliling kita. Namun, terkadang kita buta dengan segala nikmat itu karena keserakahan yang membelenggu hati kita.

Senin, 04 Maret 2019

KETIKA ALAM TERSENYUM


     Segala penat yang mengkristal di kepalaku, mencair seperti air yang menetes di dedaunan selepas hujan. Kau tahu? Perjalanan melintasi 8 kabupaten dan kota—kurang lebih 400 km jika matematikaku tidak keliru—amat seru dan menyenangkan. Yang membuat petualanganku dan teman-teman lebih menyenangkan karena kami mengendarai motor. Segala keindahan yang tersaji di sepanjang perjalanan bisa kunikmati dengan lebih bebas.

Rabu, 13 Februari 2019

SURAT KE-12 UNTUK AYAH (TANJOUBI OMEDETOU 2)


Hai Ayah, apa kabar? Sungguh kata-kata di kepalaku seperti membeku saat memutuskan untuk menulis surat untukmu. Sudah terlalu lama saya tidak berbicang denganmu lewat surat. Terakhir, surat ke-11 kutulis waktu Senin, 24 April 2017 lalu. Lama. Nyaris genap dua tahun. Si bungsu yang kuceritakan di surat terakhir sudah kelas III SMP sekarang.

Senin, 16 Oktober 2017

JEJAK LANGKAH


Dari sekian cara untuk mengikat momen penting ialah menyimpannya di dalam hati dan menulisnya untuk dibaca di kemudian hari. Saya memilih cara keduanya untuk kelak menapaki kembali jejak langkah kita di masa lalu.

Rabu, 30 Agustus 2017

SELAMAT JADI IBU KAKAK IPAR

Di tanggal 30 Agustus 2017
     Selamat, Ega, selamat Sobat sekaligus kakak iparku. Meminjam istilah Nisa, Selamat jadi perempuan yang sesungguhnya dan selamat jadi ibu. Selamat atas kelahiran bayinya.
Beribu selamat kuucapkan untukmu.

Met Milad, Bungsu


Dia si bungsu Dila, nama lengkapnya Rezkia Nur Fadilah dan paling sering protes jika ada yang salah menulis namanya. Jinjin, salah satu personel ASTRO adalah artis korea favoritnya. Dia Korea Lover banget.