Sejatinya kita tidak memiliki kesempatan untuk tidak bersyukur
kepada Sang Pencipta, jika kita memikirkan banyak hal tentang nikmat yang
melekat pada diri atau sekeliling kita. Namun, terkadang kita buta dengan
segala nikmat itu karena keserakahan yang membelenggu hati kita.
Bagiku, pengingat syukur yang primer ialah nikmat yang melekat
dalam tubuh. Hal-hal seperti nikmat melihat, mendengar, berjalan, bernafas dan
lain-lain, meski terkadang aku lupa dengan nikmat-nikmat itu. Sedangkan pengingat
syukur sekunder bagiku ialah ketika melihat keindahan alam ciptaan-Nya. Rasa
syukur yang menyempit di hatiku terasa lapang. Hati yang melemah menguat saat
menyaksikan pemandangan yang menghijau, laut yang membiru atau melihat alam
ciptaan-Nya dari tempat yang tinggi.
Keindahan lukisan-Nya membuatku candu untuk terus melangkah
menapaki jejak hasil karya seni-Nya. Semakin aku berhasil menyingkap tirai
lukisan agung-Nya yang terpajang di setiap museum perjalanan, aku tidak bisa
tidak berdecak kagum. Aku rasa kau setuju jika kau termasuk di salah satu
anggota club penggemar karya-karya-Nya.
Kali pertama aku sadar bahwa puncak gunung itu menyenangkan di
suatu hari bulan agustus 2016 yang tanggalnya tidak kuingat lagi. Saat itu
teman-teman kursus di Marvelous Pare merencanakan liburan di Bromo. Aku tidak
tahu menahu kalau kami akan mendaki gunung. Kau tahu? Aku memakai gamis yang
bertolak belakang dengan gunung yang sungguh tidak cocok dengan suasana di sana
dan cukup menarik perhatian sebagian pendaki. Rasa malu kemudian menguap
bersama dinginnya puncak dan keindahan sunrise di sana, meski aku tidak
terlalu menikmatinya karena awan yang terkadang menutupi, punggung-punggung
turis yang super tall dan juga ... kurang sehat—yaaah cuaca subuh hari
di sana cukup ekstrim, setidaknya bagiku yang sensitif dengan dingin. Semoga
kelak aku masih diberi kesempatan untuk mengulang jejak di sana. Puncak dan sunrise,
kawah gunung Bromo, pasir berbisik, dan bukit teletubies, aku ingin melihatnya
lagi.
Di tahun 2017 berkemah di Lembah Ramma Malino, menikmati
pemandangan di Talung dengan sensasi lutut gemetar di antara jurang meskipun
kemudian berkabut. Oh kabut, aku sungguh ingin menangkapmu lalu melenyapkanmu,
tapi itu tidak mungkin. Lagi pula aku percaya, kabut juga adalah sebuah seni,
mengingat di waktu-waktu tertentu aku suka melihatnya.
Tahun 2018, aku ingat hanya mendaki gunung-gunung pendek, mungkin
lebih tepat disebut bukit, di sekitaran rumah. Sepanjang ingatanku, puncak
gunung menjadi momen yang begitu langka bagiku.
Lain halnya dengan puncak Bulusaraung. Gunung yang berada di kec.
Balocci, kab. Pangkep itu sudah begitu lama menjadi idamanku. Sulit sekali
menyatukan antara kesempatan dan izin untuk mendaki di sana. Ibuku selalu
bilang, gunung lain boleh, tapi jangan Bulusaraung. Jadilah setiap
pulang ke rumah di akhir pekan, aku hanya bisa menatap dengan nanar para
pengendara motor dengan carrier seberat 30-100 L di punggung mereka yang lewat
di depan rumah.
Kau tahu? Akhirnya di penghujung holiday kemarin, selasa-rabu
(9-10/07) aku akhirnya punya kesempatan dan izin dari ibu untuk ke sana.
Mungkin kasihan melihat tampang memelasku sepanjang waktu tentang puncak
Bulusaraung yang begitu kudambakan. Bahkan, keempat adikku juga dibolehkan
ikut. Pendakian kali ini menyenangkan dengan hadirnya mereka. Pertengkaran yang
selalu renyah antara si bungsu Dila dan kakaknya, Ipul, dimana di lain waktu
membuat alis mengernyit melihat mereka kembali akur. Bahkan aku tidak bisa
menahan tawa saat Ipul mengaku akan menjadi kakak yang lucu dan romantis
seperti impian si bungsu.
Malam sebelum berangkat, aku ingat bermimpi tentang kekhawatiran
tidak diizinkan oleh kepsek untuk nanjak, mengingat kami pergi di hari efektif.
Saat bangun aku segera menghembuskan nafas lega. Bukankah saat itu lagi liburan
semester? Mimpi itu selalu berhasil membuatku tertawa jika kuingat. Saking antusias
kali, yah?
Esoknya, menjelang
pukul 13.00, kami memulai pendakian setelah istirahat sejenak dari perjalanan
yang cukup membuat hatiku deg-degkan tentang ban motorku yang bisa saja meletus.
Kami berangkat 10 orang. Hamdana’s Family 5 bersaudara, dan 5 lainnya.
Normalnya,
ada 9 pos yang harus dilalui untuk menuju puncak. Setiap pos dapat dilalui
dengan waktu 30 menit. Tapi kami sedikit menghemat waktu tempuh perjalanan. Leader
rombongan mengetahui jalan pintas dari kaki gunung menuju pertengahan pos 3.
Pendaki amatiran sepertiku cukup kaget melihat track yang kami lalui.
Tanjakannya lumayan bikin lutut ngilu. Jarang ditemukan jalanan yang landai.
Akar
pohon yang kutaksir umurnya berkali-kali lipat dari umurku sangat banyak
membantu saat nanjak. Meski beberapa kali, my brother and my hero, Ipul,
menarik tanganku untuk membantu. Kadang pula dia bertindak seperti sweeper
di belakangku. Karena mendaki pake rok, jadilah diriku sangat rempong. Rok
celana yang seharusnya kupake kutinggalkan di kost dan juga aku tidak punya
baju panjang hingga lutut. Pastinya risih untuk pakai celana. Jadi, Ipul,
maafkan daengmu yang merepotkan
saat mendaki.
Saat
sampai di pos 8, lelahku seperti berkurang setengah. Di sana kau bisa melihat
pemandangan yang menakjubkan, viewnya juga bagus untuk berfoto. Meski
cukup membuat lutut gemetar jika dekat-dekat dengan bibir tebing.
Setelah
puas mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan. Menjelang ashar kami tiba
di pos 9, kemudian mendirikan tenda di sana. Cuaca dingin menyerangku pertama
kali, hingga ketulang-tulang. Mengingat saat sampai hanya dirriku seorang yang
menggigil dan susah bergerak. Yaaah, aku memang butuh waktu untuk beradaptasi
dengan cuaca dingin.
Setelah
cukup istirahat, kami menuju mata air yang jaraknya hanya beberapa meter untuk
mengambil air wudhu. Jalurnya yang menurun, membuat pergelangan lututku mulai
ngambek. Tapi yaah, aku masih bisa mengatasinya saat itu. Lagi pula itu segera
terlupa setelah air mata air membasuh wajah ... bagaimana yah menggambarkannya?
Pokonya segar sekali.
Perut
yang keroncongan membuatku mengubur dalam-dalam keinginan untuk melihat sunset
di puncak. Aku memilih duduk diam menanti makanan siap. Jika di gunung,
memasak adalah pekerjaan para lelaki, hehehe. Katanya kebanyakan seperti itu.
Dan saat itu memang seperti itu. Pokoknya terima kasih kepada dua koki kami.
Esoknya,
setelah shalat subuh, kami berangkat menuju puncak. Berharap berhasil mengejar sunrise
yang konon katanya waktu tempuhnya tidak sampai sejam. Saat itu Hamdana’s
Family berangkat duluan. Yang lain memilih tiduran dulu di tenda.
Cuaca memang sangat dingin. Katanya apalagi di puncak, tapi demi sunrise semua
itu kami abaikan.
Track menuju puncak
ternyata luar biasa. Apalagi bagi pendaki yang pergelangan lututnya lagi kena
musibah sepertiku. Kemiringan tanjakan menuju puncak sekitar 90-100 derajat.
Saat itu aku tidak sempat mengambil foto jalurnya, terlalu sibuk mengejar sunrise,
takut ketinggalan. Beberapa kali kabut juga menyerang saat tracking menuju
puncak, tapi itu seru.
Semakin
dekat dengan puncak, kami semakin saling menyemangati, meniru film 5 cm.
Dan ...
saat kakiku berpijak di puncak, woooww .... lukisan yang tersaji di hadapanku
membuatku kehabisan kata. Meminjam istilah Maman Suherman, lelahku terbayar
tuntas. Fabiayyi alaai rabbikumaa tukadzdzibaan? Saat itu matahari juga
sudah mulai terbit, hanya saja separuh tertutup awan. Aku puaaas sekali.
Akhinya, puncak Bulusaraung dengan tinggi 1.353 MDPL bisa kuraih.
(Hamdana's Family)
Keberanianku
yang kendur dan lutut yang sakit membuatku hampir menolak untuk melanjutkan
perjalanan menuju puncak dua. Dari kejauhan jalurnya terlihat mengerikan,
setidaknya bagiku yang lututnya suka gemetar jika berjalan di bibir tebing.
Namun, akhirnya aku bisa sampai di sana. Melihat eloknya alam dari sisi puncak
dua.
(Foto si bungsu yang ternyata strong banget mendaki)
Kau juga
perlu tahu ini jika belum pernah ke sana. Angin di puncak luar biasa kencang.
Beberapa kali tubuhku tergeser karena angin. Sungguh bukan pilihan tepat untuk
memakai rok di puncak Bulusaraung. Tidak untuk kali kedua.
Pada
akhirnya untuk mengakhiri tulisan ini, aku berterima kasih dengan
sungguh-sungguh kepada Hamdana’s Family dan teman-teman yang membantu
mewujudkan keinginanku ini. Jika bukan karena bantuan leader dan
teman-temannya, tentunya puncak Bulusaraung masih berupa angan bagiku. Terima
kasih juga untuk teman yang rela meminjamkan tracking pole nya untukku.
Kaki kiriku yang pincang akan semakin sulit turun gunung tanpa bantuan benda
itu.
(Hamdana's Family and friends)
(Ini foto my brother and my hero)
Arigatou
gozaimasu ....
Syukran
wa jazakumullah khairan katsiro ....
Senin, 15/07/19
Di sudut hati yang bernama ... syukur






Tidak ada komentar:
Posting Komentar