Selain gambar, ikat pulalah kenangan dengan tulisan. Olehnya itu aku memutuskan untuk menuliskan catatan perjalanan Danau Slank (15-16 April 2022), agar kelak bisa dilihat dan dibaca kembali. Mana tahu ada juga orang lain yang tertarik healing melalui tulisan ini.
Mari memulai dari tempatku memulai perjalanan.
Pukul 08.00 malam aku start dari kost menuju Meeting Point pertama, Samata, depan kampus UIN Alauddin. Selanjutnya kurang lebih pukul 10.00 rombongan yang berkumpul di Samata sampai di mepo kedua di Parangloe, di sini kami kembali saling menunggu untuk kemudian berangkat bersama ke base camp.
Ada
drama singkat, si kuda putih ngambek dan tidak mau menyala sama sekali. Aku sempat terserang panik, bagaimana akan melanjutkan perjalanan dengan rekan boncenganku, Dilla? Beruntungnya ada dua motor yang boncengannya kosong, jadilah kami
ikut dengan kawan perjalanan tersebut, sementara si kuda putih dititip di teras
rumah warga setempat. Di kemudian hari aku tidak akan lagi mengabaikan memanaskan mesin motor sebelum berangkat di pagi hari.
Untuk
sampai di base camp kami melewati jalanan yang berkelok sekaligus menanjak. Sesekali kami juga mendapati jalanan aspal yang sudah rusak, jadi motor cukup
bekerja keras untuk melewatinya. Di boncengan aku mencoba kalem meski
sebenarnya deg-degkan luar biasa.
Allah
selalu lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, itu yang kupikirkan di
perjalanan saat itu. Selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian. Jika saja
motorku tidak mogok, aku tidak yakin bisa bawa motor di medan seperti itu. Dan apakah si kuda putih sanggup melewati medannya?
Kurang
lebih pukul 11.30 malam kami sampai di Base Camp, beristirahat sejenak lalu
kemudian melanjutkan perjalanan pukul 12 lewat setelah berdoa bersama.
Beberapa
meter berjalan menanjak rombongan kami jeda untuk registrasi. Setelah
memastikan semua nama sudah tercatat, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Setengah
jam pertama masih aman, aku masih bisa mengikuti ritme langkah mereka yang
berjalan di depan. Tetapi setelah hampir sejam berjalan dan mereka yang di
depan benar-benar seperti ga pake rem saat nanjak, aku mulai kewalahan.
Sebentar-sebentar aku mulai berhenti dan beristirahat. Karena merasa bersalah
dengan orang yang berjalan di belakang, kupersilakan mereka
mendahului.
“Tidak
apa-apa,” katanya.
“Istirahat
saja jika capek, jangan dipaksakan,” celetuk kawan perjalanan yang lain di
belakang.
Aku lega sekali mendengarnya, pastinya aku takut juga kalau ditinggal sendiri. Setelah beristirahat sejenak aku memulai
perjalanan kembali, tidak enak dengan kawan-kawan yang sudah setia menunggu,
jangan sampai kelamaan.
Track yang dilalui hanya bisa dilewati
satu orang, jadi kami berjalan berbaris dan benar-benar harus memastikan
langkah. Ada dua hal yang harus kami perhatikan, ranjau besar (Red ta*i sapi) yang bisa saja kami injak
dan jurang di samping kanan kami.
Sesampai di air terjun kecil, tempat para pendaki mengisi botol minum, kami istirahat kembali.
Aku lagi-lagi meletakkan ransel yang semakin lama rasanya semakin berat dan duduk menselonjorkan kaki.
“Kak
mauki dibawakan ranselta?” tawar seorang kawan.
Aku menolak karena tentu saja merasa tidak enak dan lagi pula aku masih bisa
membawanya.
Setelah
percakapan yang cukup panjang aku mengalah dan akhirnya setuju ranselku
dibawakan, khawatir perjalanan semakin lambat karena beban berat di pundak, itu juga akan menghambat langkah kawan yang lain. Gagal deh rencana untuk menjadi mandiri.
Ada
adegan lucu sekaligus membuat haru, saat dua orang kawan memperebutkan ranselku.
Mereka saling tarik ransel dan ngotot mau membawanya. Lalu kawan yang lain
nyeletuk, “Kalo kalian bertengkar biar saya yang bawa.”
Masya
Allah. Barangkali demikianlah yang disebut fastabiqul
khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Terima kasih kalian, semoga Allah
memudahkan dan melancarkan urusan-urusan kalian.
Yang
istimewa di perjalanan kali ini adalah bulan sedang bersinar anggun. Cahayanya
yang terang menemani langkah-langkah kami. Saat sampai di area yang cukup
tinggi, seorang kawan yang menjadi leader memperlihatkan kerlap-kerlip lampu
kota dari kejauhan.
“Itu
Makassar,” tunjuknya.
Pemandangan
itu sangat indah ditambah cahaya bulan yang memesona. Terbayar pokoknya,
terbayar meski sempat injak ta*i sapi.
Di
perjalanan ini aku sangat jarang memotret atau merekam video, sedikit
menyesal juga karena tidak ada penguat untuk tulisan ini. Tapi tak apalah. Aku memang tidak begitu pandai mengedit video, hanya sedikit bisa menulis.
Sekitar
jam setengah tiga subuh kami sampai di lokasi camp dan beristirahat sejenak, lalu
kemudian mendirikan tenda masing-masing.
Aku lagi-lagi mengagumi bulan dan
keanggunannya dari bingkai pintu tenda. Maha Besar Ia yang menciptakan alam
beserta keindahannya. Aku mencoba memotret saat itu, hasilnya tentu biasa
saja. Kamera hapeku tidak bisa menangkap cantiknya. Aku ingat terakhir kali
menikmati bulan purnama di puncak adalah sewaktu KKN di Jeneponto. Saat itu
juga sangat berkesan, kami shalat isya di puncak bukit diterangi cahaya bulan. Meski
angin sedang kencang-kencangnya, yang menakjubkan adalah saat sujud suasana
sekitar terasa begitu tenang dan menentramkan. Suasana waktu itu belum bisa kulupakan dan belum lagi kutemukan yang kedua kalinya.
Setelah
sahur rombongan memilih menunggu waktu shalat subuh terlebih dahulu baru kemudian terlelap.
Shalat berjamaah di alam adalah salah satu
moment yang kunantikan, tapi saat itu lagi tidak bisa ikut jadi aku hanya
memotret.
Perjalanan membawamu berkenalan dengan teman-teman baru. Yang memakai jilbab hitam misalnya, ternyata dia adalah admin Pendaki Cantik di ig, perempuan tangguh yang bisa membawa carrier besar, Dilla. Kami pertama bertemu di Meeting point Samata dan menjadi akrab setelahnya. Dia adalah tipe orang yang hanya dengan ekspresinya bisa membuatmu tertawa. Sekocak itu. Sedangkan yang jilbab abu-abu, kami kali pertama bertemu di trip Bulu Baria, aku mengingatnya sebagai orang yang baik dan ramah, Lutfi. Kebanyakan foto-fotoku di sana by using her phone, jernih soalnya 😄. Mereka berdua paling heboh kalau lagi meributkan siapa yang paling bocil, aku cuma bisa ngakak liat mereka. Dan teman-teman perjalanan lain yang belumlah namanya kuhafal satu-satu, tetapi satu hal yang pasti, mereka seru-seru.
(Ini Zahiya yang ikutan nanjak) Pada akhirnya big thanks to gapakerem.adventure untuk trip ini, untuk sahur on the montainnya. Perjalanan ini seru dan menyenangkan. Terima kasih pula untuk teman-teman yang banyak bersabar dan membantu selama di jalur pergi maupun pulang. Aku teringat dengan seorang kawan saat di perjalanan kembali, dia mengaku senang membawa beban berat 😁. Aku tahu itu hanya kata-kata menghibur demi mengurangi rasa bersalahku. Pokoknya terima kasih. Semoga kalian orang-orang baik senantiasa dikelilingi oleh kebaikan-kebaikan dalam hidup.
NB: Sekadar catatan tambahan untuk kalian yang tertarik ke Danau Slank, jalur menuju tempat ini tidak terlalu menyiksa, ada banyak track yang landai, bonus menghibur bagi pendaki amatiran sepertiku. Dan lama tempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Perjalanan yang singkat untuk pemandangan yang memikat, bukan? Yok, jangan takut menjadi lelah untuk menelusuri segala pesona alam. Alam-alam benar-benar indah ketika tersenyum.


%20-%20Copy.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

%20-%20Copy.jpeg)
%20-%20Copy.jpeg)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar