About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Senin, 04 Maret 2019

KETIKA ALAM TERSENYUM


     Segala penat yang mengkristal di kepalaku, mencair seperti air yang menetes di dedaunan selepas hujan. Kau tahu? Perjalanan melintasi 8 kabupaten dan kota—kurang lebih 400 km jika matematikaku tidak keliru—amat seru dan menyenangkan. Yang membuat petualanganku dan teman-teman lebih menyenangkan karena kami mengendarai motor. Segala keindahan yang tersaji di sepanjang perjalanan bisa kunikmati dengan lebih bebas.

    Pagi ini aku merasa perlu menceritakan perjalananku kepadamu. Izinkan aku memulainya dari sejak kami memulai perjalanan ini.
    Kami berempat. Aku, kak Hera, bu Evi dan Anha. Nama terakhir baru kukenal di perjalanan. Orangnya cukup seru dan membuat saya senang memiliki teman baru. Kami berangkat meninggalkan Gowa pada Sabtu sekitar jam 07.00 pagi setelah berkumpul di Pallangga. Taman Cinta di Palleko Takalar menjadi sampul utama dari buku perjalanan kami.

Aku bertanya-tanya, apakah kau juga setuju jika kukatakan kalau nama taman ini romantis seromantis tempatnya? Tidak apa-apa jika kau tidak ingin menjawab.
Pokoknya setelah puas menikmati taman ini sambil berfoto, kami segera berangkat, melanjutkan perjalanan yang jauh dari kata sampai. Meskipun kami tidak begitu terburu-buru karena tujuan utama kami ialah berpetualang. Menikmati segala yang bisa dijangkau di perjalanan.
Selanjutnya Jenneponto, kabupaten yang di sepanjang perjalanan menyajikan hamparan sawah yang menghijau. Mataku tidak bisa berhenti melihatnya. Dan kurasa kau juga perlu tahu ini, di perjalanan kali ini aku terus duduk di bocengan hingga bisa dengan bebas lirik kiri lirik kanan. Mataku jadi sehat karenanya. Aku pernah membaca artikel yang mengatakan, berdasarkan psikologi warna, warna hijau memiliki arti keseimbangan yang membawa keseimbangan emosi, menyegarkan mata dan pikiran, juga menenangkan. Bukankah dalam Islam warna hijau itu spesial? Rasulullah menyukai warna hijau dan kelak ahli surga akan mengenakan pakaian dari sutra halus yang berwarna hijau.
Setelah sampai di salah satu kecamatan di Jeneponto yang sebenarnya tidak kutahu namanya, kak Hera mengajak kami singgah untuk menikmati laut biru sepanjang mata memandang, juga untuk istirahat sejenak dari terik matahari. Kalau tidak salah saat itu sekitar pukul sebelas kurang atau lebih. Panas, bukan?

Tidak sampai tiga puluh menit di sana, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Bantaeng, kabupaten yang kami sepakati sebagai tempat singgah untuk memuaskan cacing-cacing yang menggeliat marah di perut. Well, di antara kami hanya satu orang yang mengaku sempat sarapan.
 Matahari sudah di atas kepala saat kami menikmati sop ayam dan sop ubi yang kami pesan setelah menunggu dengan sedikit tidak sabar.

Kurasa dengan melihat tempatnya kau tahu kalau latar foto di atas di Pantai Seruni.
Karena berkejaran dengan waktu agar kami bisa salat zuhur di pondok pesantren di Bulukumba tempat kak Hera dulu mondok, dengan itu kau pasti bisa menebak kalau kami tidak lama menikmati pantai ini. Cuacanya juga lagi tidak romantis untuk itu. Jadi kami hanya take tiga foto sebelum satpol PP yang mengawasi kami mendekat karena kelamaan. Kami parkir sembarangan.
Perjalanan menuju Bulukumba juga menyenangkan. Lagi-lagi aku melihat laut di sebelah kananku. Tapi tidak ada foto yang sempat kuabadikan di sana. Kak Hera ngebut dan cukup membuatku takut memotret. Mungkin hanya ini yang satu-satunya tidak kunikmati di perjalanan ini, saat kak hera tidak tanggung-tanggung ngebut dengan kecepatan seratus.
Setelah sampai di pondok, begitu menyentuh sofa, saya terlelap yang menurutku sangat lama. Tapi saat bertanya, ternyata aku hanya tidur lima menit. Lima menit yang berkualitas karena membuatku begitu segar saat bangun, yaaaah meskipun aku sempat salah mengenali arah sajadah hingga sempat takbir membelakangi kiblat. Mata oh mata.
Setelah cukup beristirahat dan hujan mulai reda di luar, kami segera pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai Apparalang. Pantai yang membuatku terus terkagum dengan pesona alaminya begitu melihatnya, terus tersenyum penuh kemenangan bahwa apa yang kualami demi melihat keindahannya dibayar impas. Melupakan lutut yang lecet karena gesekan tanah yang membuat aku dan kak Hera semakin mencintai tanah air dengan menciumnya. Sebuah DRAMA untuk perjalanan ekstrim selepas hujan. Tapi lihatlah ini, lautnya sangat jernih dan indah.

Sebelum melangkah pulang dari Apparalang, aku berdoa dengan sungguh-sungguh di hati, semoga pantai ini tidak tersentuh tangan-tangan tidak bertanggungjawab sampai kapan pun. Agar kejernihan dan ikan-ikan aneka warna di sana bisa terus menikmati dunianya. Aku tidak tahu apa perlu memberi tahumu hal ini, tapi aku memilih menulisnya. Entah kenapa setiap melihat ke bawah aku selalu membayangkan diriku terpeleset turun dan tidak ada pangeran berkuda putih yang bisa menolongku. Makanya aku hanya bisa mengintip ikan-ikan cantik yang menari dengan takut-takut.
Matahari serasa berputar cepat menuju barat. Setelah puas di Apparalang, kami bergegas berangkat menuju tujuan akhir. Sinjai. Rumah kediaman kak Hera. Oh iya, sebelum itu kami sempat singgah di pantai Karangpuang Sinjai Timur.
Keluarga kak Hera menyambut kami dengan ramah. Beberapa buah durian segera terhidang. Satu-satunya yang aku lakukan ialah sedikit menyingkir dari mereka yang sedang menikmati buah durian. Menguat-nguatkan diri agar tidak terganggu dengan aromanya. Sampai saat ini aku belum juga bisa berdamai dengan durian, tidak tahu nanti.
Perjalanan kami tanggal 2-3 Maret ternyata sangat panjang kutuliskan. Kuharap kau tidak bosan membacanya meskipun gaya menulisku mungkin sedikit membosankan.
Demikianlah, kami menginap semalam di rumah kak Hera dan berangkat ke esokan harinya pukul setengah sebelas siang menuju Kajuara Bone, pesantren Darul Huffaz tempat adik kak Hera mondok. Sebelum itu, kami singgah di Hutan Mangrov atau lebih dikenal dengan Hutan Bakau di Sinjai Timur.
            Kami juga sempatkan singgah bersilaturahmi di rumah bu Evi yang berjarak sekitar 10 menit dari pesantren Darul Huffaz. Salat dan makan siang di sana. Sekitar jam setengah tiga, kami kembali berangkat. Berangkat menuju pulang sedang di atas kepala kami langit Bone melambai mendung.
Di perjalanan pulang berkali-kali aku memanggil daun, padi yang menghijau dan menguning, serta pohon-pohon untuk menghilangkan kantuk yang menyerangku. Karena sungguh tidak keren kalau aku jatuh dari motor karena ketiduran.
Seperti kata kak Hera, perjalanan kami ini seperti dalam game. Kadang cuaca panas, hujan, jalanan yang menari-nari lenggak lenggok kiri kanan, ngebut dan melambat ialah tantangan menuju level berikutnya.
Jika kau bertanya apakah kami lelah atau tidak, tentu saja kami jawab lelah. Siapa yang tidak lelah berkendara motor selama dua hari? Tapi sungguh, lelah yang membuatku sempat jalan penguin saat sampai di kost jam 20.30 berselimut kepuasan. Meskipun tidur kelelahan, namun pikir dan hatiku terbungkus sejuk kulit dari buah petualangan kami.
Sawah yang menghijau dan menguning, laut dan langit biru, kejernihan pantai Apparalang dan segala keindahan alam sengaja kutulis untukmu. Ini persembahan untukmu. Agar kau tak ragu menjadi lelah demi mentadabburi alam. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari alam, karena ia telah hidup jutaan tahun (kalimat terakhir yang keren ini aku lupa siapa pemiliknya).
Jangan takut menjadi lelah untuk menelusuri segala pesona alam. Ia benar-benar indah ketika TERSENYUM.
Gowa, Senin 04 Maret 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar