Segala penat yang
mengkristal di kepalaku, mencair seperti air yang menetes di dedaunan selepas
hujan. Kau tahu? Perjalanan melintasi 8 kabupaten dan kota—kurang lebih 400 km
jika matematikaku tidak keliru—amat seru dan menyenangkan. Yang membuat
petualanganku dan teman-teman lebih menyenangkan karena kami mengendarai motor.
Segala keindahan yang tersaji di sepanjang perjalanan bisa kunikmati dengan
lebih bebas.
Pagi ini aku
merasa perlu menceritakan perjalananku kepadamu. Izinkan aku memulainya dari
sejak kami memulai perjalanan ini.
Kami berempat. Aku,
kak Hera, bu Evi dan Anha. Nama terakhir baru kukenal di perjalanan. Orangnya
cukup seru dan membuat saya senang memiliki teman baru. Kami berangkat
meninggalkan Gowa pada Sabtu sekitar jam 07.00 pagi setelah berkumpul di
Pallangga. Taman Cinta di Palleko Takalar menjadi sampul utama dari buku
perjalanan kami.
Aku bertanya-tanya, apakah kau juga setuju jika kukatakan kalau
nama taman ini romantis seromantis tempatnya? Tidak apa-apa jika kau tidak
ingin menjawab.
Pokoknya setelah puas menikmati taman ini sambil berfoto, kami
segera berangkat, melanjutkan perjalanan yang jauh dari kata sampai. Meskipun
kami tidak begitu terburu-buru karena tujuan utama kami ialah berpetualang.
Menikmati segala yang bisa dijangkau di perjalanan.
Selanjutnya Jenneponto, kabupaten yang di sepanjang perjalanan
menyajikan hamparan sawah yang menghijau. Mataku tidak bisa berhenti
melihatnya. Dan kurasa kau juga perlu tahu ini, di perjalanan kali ini aku
terus duduk di bocengan hingga bisa dengan bebas lirik kiri lirik kanan. Mataku
jadi sehat karenanya. Aku pernah membaca artikel yang mengatakan, berdasarkan
psikologi warna, warna hijau memiliki arti keseimbangan yang membawa
keseimbangan emosi, menyegarkan mata dan pikiran, juga menenangkan. Bukankah
dalam Islam warna hijau itu spesial? Rasulullah menyukai warna hijau dan kelak
ahli surga akan mengenakan pakaian dari sutra halus yang berwarna hijau.
Setelah sampai di salah satu kecamatan di Jeneponto yang sebenarnya
tidak kutahu namanya, kak Hera mengajak kami singgah untuk menikmati laut biru
sepanjang mata memandang, juga untuk istirahat sejenak dari terik matahari.
Kalau tidak salah saat itu sekitar pukul sebelas kurang atau lebih. Panas,
bukan?
Tidak sampai tiga puluh menit di sana, kami segera melanjutkan
perjalanan menuju Bantaeng, kabupaten yang kami sepakati sebagai tempat singgah
untuk memuaskan cacing-cacing yang menggeliat marah di perut. Well, di
antara kami hanya satu orang yang mengaku sempat sarapan.
Matahari sudah di atas
kepala saat kami menikmati sop ayam dan sop ubi yang kami pesan setelah
menunggu dengan sedikit tidak sabar.
Kurasa dengan melihat tempatnya kau tahu kalau latar foto di atas
di Pantai Seruni.
Karena berkejaran dengan waktu agar kami bisa salat zuhur di pondok
pesantren di Bulukumba tempat kak Hera dulu mondok, dengan itu kau pasti bisa
menebak kalau kami tidak lama menikmati pantai ini. Cuacanya juga lagi tidak
romantis untuk itu. Jadi kami hanya take tiga foto sebelum satpol PP
yang mengawasi kami mendekat karena kelamaan. Kami parkir sembarangan.
Perjalanan menuju Bulukumba juga menyenangkan. Lagi-lagi aku melihat laut di sebelah kananku. Tapi tidak ada foto yang sempat kuabadikan di
sana. Kak Hera ngebut dan cukup membuatku takut memotret. Mungkin hanya ini
yang satu-satunya tidak kunikmati di perjalanan ini, saat kak hera tidak
tanggung-tanggung ngebut dengan kecepatan seratus.
Setelah sampai di pondok, begitu menyentuh sofa, saya terlelap yang
menurutku sangat lama. Tapi saat bertanya, ternyata aku hanya tidur lima menit.
Lima menit yang berkualitas karena membuatku begitu segar saat bangun, yaaaah
meskipun aku sempat salah mengenali arah sajadah hingga sempat takbir
membelakangi kiblat. Mata oh mata.
Setelah cukup beristirahat dan hujan mulai reda di luar, kami
segera pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai Apparalang.
Pantai yang membuatku terus terkagum dengan pesona alaminya begitu melihatnya,
terus tersenyum penuh kemenangan bahwa apa yang kualami demi melihat
keindahannya dibayar impas. Melupakan lutut yang lecet karena gesekan tanah
yang membuat aku dan kak Hera semakin mencintai tanah air dengan menciumnya.
Sebuah DRAMA untuk perjalanan ekstrim selepas hujan. Tapi lihatlah ini, lautnya
sangat jernih dan indah.
Sebelum melangkah pulang dari Apparalang, aku berdoa dengan
sungguh-sungguh di hati, semoga pantai ini tidak tersentuh tangan-tangan tidak
bertanggungjawab sampai kapan pun. Agar kejernihan dan ikan-ikan aneka warna di
sana bisa terus menikmati dunianya. Aku tidak tahu apa perlu memberi tahumu hal
ini, tapi aku memilih menulisnya. Entah kenapa setiap melihat ke bawah aku
selalu membayangkan diriku terpeleset turun dan tidak ada pangeran berkuda
putih yang bisa menolongku. Makanya aku hanya bisa mengintip ikan-ikan cantik
yang menari dengan takut-takut.
Matahari serasa berputar cepat menuju barat. Setelah puas di Apparalang,
kami bergegas berangkat menuju tujuan akhir. Sinjai. Rumah kediaman kak Hera.
Oh iya, sebelum itu kami sempat singgah di pantai Karangpuang Sinjai Timur.
Keluarga kak Hera menyambut kami dengan ramah. Beberapa buah durian
segera terhidang. Satu-satunya yang aku lakukan ialah sedikit menyingkir dari
mereka yang sedang menikmati buah durian. Menguat-nguatkan diri agar tidak
terganggu dengan aromanya. Sampai saat ini aku belum juga bisa berdamai dengan
durian, tidak tahu nanti.
Perjalanan kami tanggal 2-3 Maret ternyata sangat panjang
kutuliskan. Kuharap kau tidak bosan membacanya meskipun gaya menulisku mungkin
sedikit membosankan.
Demikianlah, kami menginap semalam di rumah kak Hera dan berangkat
ke esokan harinya pukul setengah sebelas siang menuju Kajuara Bone, pesantren Darul
Huffaz tempat adik kak Hera mondok. Sebelum itu, kami singgah di Hutan Mangrov atau lebih dikenal dengan Hutan Bakau di Sinjai Timur.
Kami juga
sempatkan singgah bersilaturahmi di rumah bu Evi yang berjarak sekitar 10 menit
dari pesantren Darul Huffaz. Salat dan makan siang di sana. Sekitar jam
setengah tiga, kami kembali berangkat. Berangkat menuju pulang sedang di atas
kepala kami langit Bone melambai mendung.
Di perjalanan pulang berkali-kali aku memanggil daun, padi yang
menghijau dan menguning, serta pohon-pohon untuk menghilangkan kantuk yang
menyerangku. Karena sungguh tidak keren kalau aku jatuh dari motor karena
ketiduran.
Seperti kata kak Hera, perjalanan kami ini seperti dalam game.
Kadang cuaca panas, hujan, jalanan yang menari-nari lenggak lenggok kiri kanan,
ngebut dan melambat ialah tantangan menuju level berikutnya.
Jika kau bertanya apakah kami lelah atau tidak, tentu saja kami
jawab lelah. Siapa yang tidak lelah berkendara motor selama dua hari? Tapi
sungguh, lelah yang membuatku sempat jalan penguin saat sampai di kost jam 20.30
berselimut kepuasan. Meskipun tidur kelelahan, namun pikir dan hatiku
terbungkus sejuk kulit dari buah petualangan kami.
Sawah yang menghijau dan menguning, laut dan langit biru,
kejernihan pantai Apparalang dan segala keindahan alam sengaja kutulis untukmu.
Ini persembahan untukmu. Agar kau tak ragu menjadi lelah demi mentadabburi
alam. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari alam, karena ia telah hidup
jutaan tahun (kalimat terakhir yang keren ini aku lupa siapa pemiliknya).
Jangan takut menjadi lelah untuk menelusuri segala pesona alam. Ia
benar-benar indah ketika TERSENYUM.
Gowa,
Senin 04 Maret 2019









Tidak ada komentar:
Posting Komentar