
Tanjoubi
Omedotou, Ayah. Kuharap Allah senantiasa memberikan hadiah terindah untuk ayah
di alam sana. Di alam penantian. Semoga segala doa yang kulafazkan untukmu
diijabah oleh-Nya. Meskipun lama tidak menulis surat, namun doaku tak pernah
terputus untukmu.
Ada
banyak hal yang bersesak-sesak di kepalaku, berebut untuk diceritakan kepadamu,
Ayah. Banyak. 2 tahun ini saya melalui banyak hal. Berita terbesar yang kupilih
untuk kuceritakan ialah ... saya jadi guru, Ayah. Guru. Suatu profesi yang sama
sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Profesi yang bagiku di waktu dulu
sangat mustahil bisa kujalani. Tapi dengan dunia anak di sekelilingku, membuat
pandanganku berubah dengan profesi ini.
Saya
sungguh menikmati menjadi bagian di dunia mereka. Mengajari mereka huruf demi
huruf hijaiyah, menuntun mereka untuk menghafal ayat-demi ayat sungguh
menyenangkan. Melihat mereka tertawa, menangis, kebingungan adalah hal seru.
Tapi harus kuakui ini, Ayah, hampir saja saya menangis waktu masa-masa awal
mengajar mereka. Saya hampir tidak bisa mengontrol mereka.
Saya
tidak tahu apakah Ayah tahu ini atau tidak, tapi suaraku sungguh tidak bisa
lantang. Untuk membuat orang yang banyak diam saat ribut, bukankah butuh suara
lantang? Ayah, hampir-hampir saya menyerah karena suaraku. Untunglah, sekarang
ini saya merasa sedikit bisa melewati problem ini.
Suratku
sampai di sini dulu, Ayah. Ada hal mendesak yang harus segera kuselesaikan.
Saya sedang dikejar deadline.
Berkunjunglah
ke mimpiku sekali-kali, agar retak rinduku yang sudah membatu.
Kecup Rindu di Hari Lahirmu
Ruang Rindu, Kamis, 14 Februari 2019
Otousan ni Aitai

������������������������
BalasHapusPasti beliau bangga karena anaknya tumbuh menjadi sosok yang kuat ,tangguh dan sangaaaaaaat baik semoga kita semua kelak akan berjumpa kembali dengan semua yang kita cintai di surga ...di tempat kekal yang takkan pernah lagi terpisah Aamiin
Aamiiiin.Semoga ....
BalasHapus