About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Kamis, 03 Maret 2016

FILM 1 LITRE OF TEARS; BENAR-BENAR MENUMPAHKAN 1 LITER AIR MATA




“Daripada hidup di masa lalu, kita perlu fokus untuk melakukan segala yang kita bisa sekarang”
(Ikeuchi Aya)
Kejamnya takdir yang menghunjam, terkadang membuat kita menutup mata untuk menatap hari esok, bahkan menggunakan tiap detik kesempatan untuk mengutuk waktu yang tak jua mau kembali ke masa lalu.

Pandangan sebelah mata dari sekitar, terkadang menyeret kita menuju rasa pesimisme ke bagian terdalam, meniadakan suatu kesempatan yang sebenarnya kelak bisa membawa kita menjadi orang yang berarti.
Film I Litre of Tears, benar-benar menumpahkan satu liter air mataku saat menontonnya. Sebuah film Jepang yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang seorang gadis yang bernama Ikeuchi Aya, menderita penyakit mengerikan yang tak dapat disembuhkan sejak berumur 15 tahun. Penyakit Spinocerebellar Degeneration.
Yang terus membuatku mengusap pipi dari lelehan air mata ialah semangat dan perjuangan Aya dalam melawan penyakitnya, kisah persahabatan dengan ikatan kepedulian, keluarga yang diselimuti kehangatan serta kasih sayang, serta peluk hangat dan beribu mutiara lembut yang terlontar dari bibir seorang ibu. Yah, seorang ibu yang berharap bisa menggantikannya menjalani penyakit itu.
Benar saja, kita tidak akan pernah terlepas dari mereka, keluarga, sahabat … sebab mereka adalah orang yang akan selalu ada untuk menjadi tongkat saat kita terjatuh, senantiasa berbagi senyum dengan gurauan hangat ketika kita bersedih. Bahkan senantiasa menjadi penyemangat yang selalu berucap, “Ganbatte” ketika kita tengah memperjuangkan sesuatu.
Menonton film ini, benar-benar menyadarkanku tentang banyak hal. Kalimat-kalimat inspiratif yang dirangkai dengan penuh air mata oleh Ikeuchi Aya, amat menyentuh jiwa.
Terlepas dari semua itu, satu hal besar yang saya tangkap dari kisah inspiratif itu.
MENULIS”
Sebab dengan menulislah yang bisa membuatnya dikenal oleh banyak orang. Dengan menulislah menjadikannya tokoh sumber inspirasi banyak orang, bahkan penyemangat bagi penyandang cacat sepertinya. Sebab dengan menulislah, hingga buku diary yang ditulisnya sejak berumur 15 tahun bisa dicetak menjadi buku sampai terbit sekian juta kopi, kemudian sukses difilmkan. Yah, sebab dia menulis.
Maka, marilah kita menulis! Bahkan di saat kita merasa tidak ada hal yang bisa kita lakukan dalam ketidakberdayaan, maka menulislah, sebab dengan itu kita bisa berbagi pada semua orang tentang apa yang kita rasakan.
Olehnya itu, SAYA MENULIS.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya akan mengutip satu kalimat dalam soundtrack lagu 1 Litre of Tears yang super sedih.
“Tsuyoku mae e susume”
“Jadilah kuat, tetap hadapi dan terus maju”
    GANBATTE MINNA-SAN

Edisi Baper

Tidak ada komentar:

Posting Komentar