“Daripada hidup di masa lalu, kita perlu fokus untuk
melakukan segala yang kita bisa sekarang”
(Ikeuchi Aya)
Kejamnya takdir yang menghunjam, terkadang
membuat kita menutup mata untuk menatap hari esok, bahkan menggunakan tiap
detik kesempatan untuk mengutuk waktu yang tak jua mau kembali ke masa lalu.
Pandangan sebelah mata dari sekitar, terkadang
menyeret kita menuju rasa pesimisme ke bagian terdalam, meniadakan suatu
kesempatan yang sebenarnya kelak bisa membawa kita menjadi orang yang berarti.
Film I Litre of Tears, benar-benar menumpahkan
satu liter air mataku saat menontonnya. Sebuah film Jepang yang diangkat dari
kisah nyata. Berkisah tentang seorang gadis yang bernama Ikeuchi Aya, menderita
penyakit mengerikan yang tak dapat disembuhkan sejak berumur 15 tahun. Penyakit
Spinocerebellar Degeneration.
Yang terus membuatku mengusap pipi dari lelehan
air mata ialah semangat dan perjuangan Aya dalam melawan penyakitnya, kisah
persahabatan dengan ikatan kepedulian, keluarga yang diselimuti kehangatan
serta kasih sayang, serta peluk hangat dan beribu mutiara lembut yang terlontar
dari bibir seorang ibu. Yah, seorang ibu yang berharap bisa menggantikannya
menjalani penyakit itu.
Benar saja, kita tidak akan pernah terlepas
dari mereka, keluarga, sahabat … sebab mereka adalah orang yang akan selalu ada
untuk menjadi tongkat saat kita terjatuh, senantiasa berbagi senyum dengan
gurauan hangat ketika kita bersedih. Bahkan senantiasa menjadi penyemangat yang
selalu berucap, “Ganbatte” ketika kita tengah memperjuangkan sesuatu.
Menonton film ini, benar-benar menyadarkanku
tentang banyak hal. Kalimat-kalimat inspiratif yang dirangkai dengan penuh air
mata oleh Ikeuchi Aya, amat menyentuh jiwa.
Terlepas dari semua itu, satu hal besar yang
saya tangkap dari kisah inspiratif itu.
“MENULIS”
Sebab dengan menulislah yang bisa membuatnya
dikenal oleh banyak orang. Dengan menulislah menjadikannya tokoh sumber
inspirasi banyak orang, bahkan penyemangat bagi penyandang cacat sepertinya.
Sebab dengan menulislah, hingga buku diary yang ditulisnya sejak berumur 15
tahun bisa dicetak menjadi buku sampai terbit sekian juta kopi, kemudian sukses
difilmkan. Yah, sebab dia menulis.
Maka, marilah kita menulis! Bahkan di saat kita
merasa tidak ada hal yang bisa kita lakukan dalam ketidakberdayaan, maka
menulislah, sebab dengan itu kita bisa berbagi pada semua orang tentang apa
yang kita rasakan.
Olehnya itu, SAYA MENULIS.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya akan
mengutip satu kalimat dalam soundtrack lagu 1 Litre of Tears yang super
sedih.
“Tsuyoku mae e susume”
“Jadilah kuat, tetap hadapi
dan terus maju”
GANBATTE
MINNA-SAN
Edisi Baper


Tidak ada komentar:
Posting Komentar