Menjadi mahasiswa tingkat
akhir yang tengah menyusun skripsi, bukan hal biasa jika berburu referensi di
berbagai perpus setiap ada kesempatan. Mata akan berbinar senang, begitu menemukan
buku yang berkaitan dengan materi skripsi yang sedang digarap. Sebaliknya,
bakal GeGaNa—baca Gelisah Galau Merana—kalau materi skripsi termasuk susah
referensinya.
Hhhh, virus GeGaNa itulah yang sedang
menjangkitku sekarang, sebab si ‘dia’ yang amat sulit kutemukan. Padahal
beberapa perpus sudah kujelajahi, termasuk perpus Fakultas lain—Fakultas
Kesehatan, karena skripsiku memang menggunakan pendekatan kesehatan.
Kata orang yang spesialis di bidang
kesehatan, materi yang kubahas itu termasuk banyak referensinya, hanya saja
tidak mempunyai pembahasan tersendiri. Justru di situlah letak GeGaNaku.
Membaca buku tentang kesehatan, apalagi kedokteran dengan istilah-istilah yang
teramat asing, membuatku memijat-mijat kepala.
Kemarin dengan ditemani kak Riri, saya
semangat 45 menuju perpus Fakultas Kesehatan, berharap menemukan referensi yang
kucari-cari. Saya memang menemukan sedikit referensiku di sana, tapi itu sudah
cukup membuatku dan kak Riri mau muntah karena pening membaca istilah-istilah
kedokteran yang sangat susah kami pahami. Wahai mahasiswa kesehatan, kedokteran,
kalian memang keren, seribu jempol untuk kalian.
Beberapa hari yang lalu saya juga ke
perpus masjid al-Markaz, namun, hasilnya nihil, tak juga kutemukan untuk
referensi bab duaku. Di saat teman-teman asyik mengetik dengan setumpuk buku di
meja, saya malah terlena mengelilingi rak buku sastra, sibuk mencari novel
untuk kupinjam saat pulang nanti.
Apa
lebih baik saya ganti judul saja, yah? Hhh, tapi saya sudah seminar proposal.
Oh Tuhan, pertemukan aku dengan
referensiku. Turunkanlah pangeran berkudah putih, yang dengan gagah perkasa
membawakan sekardus buku tentang skripsiku. Akan kusambut ia dengan membungkuk
anggun sambil berucap, “Arigatou gozaimausu ….” (Hohoho)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar