Suara petasan
riuh dari segala penjuru, menyambut tahun baru masehi. Di halaman asrama,
adik-adik MABA yang mendapat tugas membakar jagung—memang tradisi setiap tahun
menjadi tugas di semester 1—terlihat antusias. Mereka kompak, saling membantu
satu sama lain.
Beberapa teman
memilih duduk di balkon asrama, menikmati jaringan wifi—yang syukurnya tidak
dimatikan pihak kampus. Sebagiannya lagi ada yang asyik bercengkerama dengan
keluarga, lewat telepon tentunya.
Saya?
Hhhh, sedang
mendesah kecewa sekarang. Baru saja via telepon, saya ikut merayakan ulang
tahun mama yang ke-49. Yah, hanya via telepon. Saya iri sekali dengan
saudara-saudara lain yang ikut merayakan. Lagi-lagi ketinggalan momen penting
di rumah. Rasanya sedih sekali saya hanya bisa mendengar suara tawa mereka saat
memberikan kejutan kue ulang tahun untuk mama.
Ya sudahlah,
lupakan!
Detik jam terus
berputar, malam semakin merangkak, suara petasan semakin ramai, tahun 2015
sebentar lagi berakhir. Esok, di tahun 2016, kuharap bisa menjadi pribadi yang
lebih baik. Di tahun 2015 ini, saya sadar banyak planingku yang tidak
berjalan, salah satunya proyek naskah yang tidak juga selesai. Yah, alasannya cuma
satu, menyianyiakan waktu.
Yah, kuharap
ketika membuka mata esok, saya bisa menjadi pribadi yang lebih lagi menghargai
waktu, sebelum suatu saat dia menebas leherku, sebelum saya menjadi insan yang
benar-benar merugi. Dan semoga saya bisa lebih baik lagi dalam menghamba
kepadaNya. Aamiin.
Makassar di penghujung
tahun 2015
Kamis, 31 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar