“Otousan ni Aitai”
Assalamualaikum, Ayah, apa kabar? Pagi
yang indah, bukan? Kuharap di sana, Ayah tak kurang suatu apa pun. Maaf, cukup lama ku tak menulis surat
untukmu, sebab kutumpuk rinduku dulu, agar rangkaian kata suratku terlihat
lebih indah.
Banyak hal berdesakan di otakku untuk
kuceritakan pada Ayah, sangat banyak, hingga saya pusing akan memulai dari
mana. Ah yah, bagaimana kalau tentangku hari ini saja?
Yah, semalam saya begadang, sampai jam
setengah empat. Keren kan? Hahaha, bagaimana ekspresi Ayah, yah, jika membaca
surat ini? Mungkin jika Ayah ada, saya langsung dijitak plus ditabok. Eitss,
tapi jangan marah dulu, meskipun semalaman begadang—berkat kuteguk kopi hitam,
ada juga hal bermanfaat yang kulakukan.
Saya berhasil merangkai tiga puisi yang
dulunya amat susah kulakukan. Eh sebentar, apa Ayah sudah kuberitahu kalau saya
bercita-cita jadi penulis best seller sekelas Asma Nadia? (hohoho mimpi)
Ah iya, belum. Ini pertama kalinya
kubincangkan cita-citaku pada Ayah. Doanya, yah, Ayah! Anakmu yang bertubuh
kecil ini—kata orang tapi kuakui juga sih—mempunyai cita-cita sebanyak lautan
melebihi besar gunung setinggi langit. Cita-citaku yang lainnya—salah satunya—sangat
ingin menapakkan kaki di negeri sakura, di musim semi berjalan di bawah pohon
sakura, bunganya beterbangan di atas kepalaku, indah. Ah senangnya jika itu
tercapai.
Tahu tidak, Ayah, demi mencapai mimpi
itu, sekarang saya lagi giat-giatnya menghafal kosa kata jepang, note
berwarna-warni kutempel di dinding kamar. Hahaha, bahkan teman sekamarku
mungkin kadang terganggu dengan suara sumbangku menyanyikan lagu jepang.
Oh yah, biar kuberikan Ayah bahasa
Jepang, “Otousan ni aitai” artinya, aku rindu Ayah.
Sebelum kuakhiri suratku, biar
kuceritakan tentang sarapanku pagi ini—yang sebenarnya ingin kusampaikan sejak
tadi.
Tadi, saya sarapan bareng teman-teman seangkatan di asrama,
nasi putih, tempe goreng (kali ini tanpa sambal), serta tumis kangkung (dulunya
sih lebih sering indomie telur). Dilengkapi pencuci mulut dempo’ pisang gula
merah ala kak Heriah. Nikmat, Yah, apalagi kami makan bersama. Hahaha, tapi
bukan saya yang masak. Teman.
Lain kali akan kuceritakan tentang teman-temanku di sini,
lengkap dengan defenisi rindu menurut mereka. Kenapa rindu? Nanti deh saya
ceritakan.
Sampai di sini dulu, yah, Ayah, nanti saya sambung lagi.
Saya janji, akan lebih sering menulis surat untuk Ayah—meski sadar
sesadar-sadarnya, takkan pernah Ayah baca walau bagaimanapun. Sebab beginilah
caraku menumpahkan rindu yang membanjiri dada.
Kecup rindu dari putrimu
Makassar—Ma’had Aly 02 Desember 2015


Tidak ada komentar:
Posting Komentar