About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Selasa, 01 Desember 2015

Surat Ke-2 untuk Ayah


“Otousan ni Aitai”

       Assalamualaikum, Ayah, apa kabar? Pagi yang indah, bukan? Kuharap di sana, Ayah tak kurang suatu apa pun.  Maaf, cukup lama ku tak menulis surat untukmu, sebab kutumpuk rinduku dulu, agar rangkaian kata suratku terlihat lebih indah.

       Banyak hal berdesakan di otakku untuk kuceritakan pada Ayah, sangat banyak, hingga saya pusing akan memulai dari mana. Ah yah, bagaimana kalau tentangku hari ini saja?
       Yah, semalam saya begadang, sampai jam setengah empat. Keren kan? Hahaha, bagaimana ekspresi Ayah, yah, jika membaca surat ini? Mungkin jika Ayah ada, saya langsung dijitak plus ditabok. Eitss, tapi jangan marah dulu, meskipun semalaman begadang—berkat kuteguk kopi hitam, ada juga hal bermanfaat yang kulakukan.
       Saya berhasil merangkai tiga puisi yang dulunya amat susah kulakukan. Eh sebentar, apa Ayah sudah kuberitahu kalau saya bercita-cita jadi penulis best seller sekelas Asma Nadia? (hohoho mimpi)
       Ah iya, belum. Ini pertama kalinya kubincangkan cita-citaku pada Ayah. Doanya, yah, Ayah! Anakmu yang bertubuh kecil ini—kata orang tapi kuakui juga sih—mempunyai cita-cita sebanyak lautan melebihi besar gunung setinggi langit. Cita-citaku yang lainnya—salah satunya—sangat ingin menapakkan kaki di negeri sakura, di musim semi berjalan di bawah pohon sakura, bunganya beterbangan di atas kepalaku, indah. Ah senangnya jika itu tercapai.
       Tahu tidak, Ayah, demi mencapai mimpi itu, sekarang saya lagi giat-giatnya menghafal kosa kata jepang, note berwarna-warni kutempel di dinding kamar. Hahaha, bahkan teman sekamarku mungkin kadang terganggu dengan suara sumbangku menyanyikan lagu jepang.
       Oh yah, biar kuberikan Ayah bahasa Jepang, “Otousan ni aitai” artinya, aku rindu Ayah.
       Sebelum kuakhiri suratku, biar kuceritakan tentang sarapanku pagi ini—yang sebenarnya ingin kusampaikan sejak tadi.
Tadi, saya sarapan bareng teman-teman seangkatan di asrama, nasi putih, tempe goreng (kali ini tanpa sambal), serta tumis kangkung (dulunya sih lebih sering indomie telur). Dilengkapi pencuci mulut dempo’ pisang gula merah ala kak Heriah. Nikmat, Yah, apalagi kami makan bersama. Hahaha, tapi bukan saya yang masak. Teman.
Lain kali akan kuceritakan tentang teman-temanku di sini, lengkap dengan defenisi rindu menurut mereka. Kenapa rindu? Nanti deh saya ceritakan.
Sampai di sini dulu, yah, Ayah, nanti saya sambung lagi. Saya janji, akan lebih sering menulis surat untuk Ayah—meski sadar sesadar-sadarnya, takkan pernah Ayah baca walau bagaimanapun. Sebab beginilah caraku menumpahkan rindu yang membanjiri dada.

Kecup rindu dari putrimu
Makassar—Ma’had Aly 02 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar