About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Jumat, 04 Desember 2015

Surat Ke-3 untuk Ayah


"Otousan ni Aitai"
Kucelupkan kata di telaga rinduku


  Hai, Ayah … apa kabar hari ini? Kalau kabarku Alhamdulillah baik, hanya saja sedikit capek bin lelah habis nyuci (hehehe). Sesuai janji, saya akan lebih sering nulis surat untuk Ayah.

Hari ini saya mau ceritakan ke Ayah tentang tulisanku. Pastinya Ayah belum tahu, kan, kalau sudah ada beberapa tulisanku yang dibukukan? Yaaah, meskipun masih skala penerbit indie, sich.Tapi, itu sudah cukup membuatku girang, setidaknya awal yang baik untuk memulai karir di dunia menulis. Kuharap Ayah bangga di sana.
Novel pertamaku judulnya PURNAMA, seputar kisah remaja islami. Sekarang novel itu sedang kuperjuangkan agar bisa terbit mayor, doanya, yah, Ayah, semoga bisa tembus. Selebihnya buku antologi, tapi keroyokan, ada juga sih yang duet dengan teman, judulnya LAFAZ DOA SANG PECINTA, kuabadikan menjadi nama blogku ini. 
Tapi, saya belum puas, Yah. Yang saya inginkan adalah melihat karyaku dipajang di Gramedia, apalagi kalau nangkring di rak best seller (wooww betapa girangnya).
Oh yah, Ayah, saya hampir lupa cerita kegamangan saya beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 23 November. Siang itu, begitu melepaskan penat usai kuliah, tiba-tiba saya mendapatkan inbox dari penerbit, bahwa novel saya akan diterbitkan dan akan segera diproses kontrak penerbitannya.
Tahu tidak, Ayah? Saat membaca itu saya tidak tahu bagaimana perasaanku. Entah senang entah gamang. Saya hanya bisa lemas, bahkan tidak tahu harus balas apa ke penerbit. Pasalnya, novel yang dimaksud penerbit itu—yang kusangkanya sudah ditolak—kukirim ke penerbit lain hampir enam bulan lalu dan belum ada konfirmasinya.
Tapi, jangan salah paham dulu, Yah. Bukannya saya berbuat curang ngirim naskah yang sama ke-2 penerbit. Ceritanya kan saya ikut lomba menulis novel, tuh, tapi ndak lolos, jadi saya edit dan dua bulan kemudian kukirim di penerbit lain. Tapi, ternyata penerbit yang ngadain lomba tadi tertarik menerbitkan naskahku. Pusingkan, Yah? Saya tidak bisa begitu saja setuju. Bagaimana kalau penerbit satunya nerima novelku juga? Runyam kan akhirnya? Saya juga kasihan dengan editor yang menangani naskahku, sudah capek-capek dibaca malah saya main membatalkan naskah begitu saja.
1x24 jam anakmu ini galau, Yah. Bolak-balik meminta pendapat teman. Akhirnya dengan berbagai nasihat teman yang luar biasa, saya memutuskan untuk setuju naskahku diterbitkan. Kata teman,“Lebih baik pilih yang pasti, penerbit satunya belum tentu nerima naskahmu. Emailmu juga tidak dibalas, kan?” 
Akhirnya setelah menunggu dan emailku tidak kunjung dibalas editor—dengan mengesampingkan rasa tidak enak hati, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya dan membatalkan naskah lewat email.
Setelah keputusan itu, galau saya menguap, tergantikan dengan rasa tak sabaran menunggu novel saya ini terbit. Tapi, masalahnya, Ayah, saya belum tahu apakah novelku itu nantinya akan masuk gramedia atau tidak. Saya tidak tahu. Intinya, saya mohon doa Ayah, semoga novel yang akan segera terbit ini diterima di masyarakat dan pada akhirnya bisa benar-benar masuk gramedia. Aamiiin.
Suratnya sampai di sini dulu, yah, Ayah. Sekarang sudah jam 00: 12 malam. Sebenarnya, rencana awalnya, surat ini mau saya selesaikan di tanggal 03, eh tapi malah molor, keasyikan nonton Academi Asia, suara Danang keren, sih (hehehe). Bye bye ….
Kecup rindu dari putrimu

Makassar—Ma’had Aly 04 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar