"Otousan ni Aitai"
Kulebur Rindu, Menyatu ke dalam Kata
Mengeja kenangan
Ampuh leburkan senyum
Rindu kusesap pahit
Zikir jadi penyedap
Untuk Ayah sembahkan doa
Kuntum al-Fatihah mekar terlafazkan
Assalamualaiku, Ayah ….Tak bosan-bosannya saya bertanya, apa kabar hari ini? Kuharap di sana Ayah selalu dalam naunganNya. Kalau kabarku,seperti hari sebelumnya, Alhamdulillah sehat.
Pastinya Ayah bertanya-tanya, kenapa ada puisi di atas? Oh baiklah, akan saya jelaskan maksudnya. Jika Ayah memperhatikan dengan detil puisi di atas—baca yang di bolt di setiap awal larik, maka Ayah akan menemukan sebuah nama di sana. Yah, itu nama Ayah. Nama yang selalu kueja dengan desahan nafas rindu. Nama yang pabila kusebut, menciptakan getaran pedih nan pilu di hatiku. Yah, rindu … rindu yang tak akan pernah terobati dan tak akan pernah mengering di telaga hatiku. Nama dari sosok yang selalu kuterawang dalam memori. Kujaga ketat dalam box kenangan agar tidak ada cela baginya untuk menghilang. Itulah segala tentang Ayah, jasa-jasa yang tak akan pernah kubalas kecuali dengan pinta doa.
Ooh baiklah, lupakan tentang puisi di atas. Saya tidak ingin bersedih. Sebenarnya saya menulis surat ke-4 ini untuk berbagi cerita hari ini. Ah ya, lupa, sekarang sudah berganti hari, jadi kusebut cerita kemarin.
Kemarin siang, setelah bolak-balik ngurus ini itu—hahaha sok sibuknya lebay—dan menunggu kurang lebih sejam di fakultas, akhirnya sang dosen pembimbing yang dinanti-nanti—sebelumnya mengajar di kelas—keluar membawa proposalku yang sudah dicoret-coret (Ayah tahu, kan, kalau saya sudah semester 7?). Uuffhh, Ayaah, betapa leganya saat itu. Akhirnya saya bimbingan setelah menunggu sekian lama waktu luang dosen yang supeeer sibuk.
Dan ternyata yang lebih membahagiakan lagi, setelah perbaikan draft itu, sang pembimbing meminta membahas proposalku selanjutnya di seminar. Doakan ya, Ayah, semoga urusanku dipermudah. Tapi, masalahnya saya tidak tahu kapan perbaikan itu akan selesai, habisnya saya belum menemukan literatur mengenai pembahasan yang saya masukkan. Ada sih, tapi internet dan pembimbing tidak mau itu. Semoga saya cepat menemukannya. Doanya ya, Ayah.
Huaaaaaahh, anakmu ini sudah menguap, Ayah, ngantuk. Dan juga sisa pegal karena lama duduk di kajian hadis tadi masih tersisa. Jadi suratnya sampai di sini dulu, yah. Bye bye …
Kecup rindu dari putrimu
Makassar--Ma’had Aly, 05 Desember 2015


Tidak ada komentar:
Posting Komentar