Otousan ni Aitai
Apa kabar, Ayah? Hehehe, maaf, lumayan
lama tidak nulis surat lagi. Pastinya Ayah sudah sangat penasaran dengan
keseharianku (hahaha GR).
Yah, sekarang di asrama kami sedang
sibuk-sibuknya Pekan Ilmiah. Tepatnya, sih, sibuk mempersiapkan lomba. Dan asal
Ayah tahu, saya tadi ikut lomba. Ets, tapi tunggu dulu, Ayah jangan ketawa
begitu tahu saya ikut lomba apa.
Tadarrus, Ayah, bayangkan tadarrus,
berantai sih. Hahaha, dengan modal suara pas-pasan dan diusahakan pede,
akhirnya berjalan lancar juga, meski kami juara lima. Lawan-lawan lainnya
bagus-bagus, suara mereka merdu nan mempesona. Sebenarnya, sih, bisa tampil
tidak memalukan itu sudah lebih dari cukup buatku. Dibandingkan dengan lomba tahun
lalu, menyisakan jejak trauma yang cukup membayang-bayangi.
Saya mungkin belum cerita ke Ayah tentang
peristiwa memalukan itu yang mungkin tidak akan bisa kulupakan seumur hidup.
Setahun yang lalu, saat pekan ilmiah
diadakan, saat itu saya mendapatkan lomba pidato bahasa Arab. Wuiiih, bukan
main percaya dirinya saya saat itu, yakin semuanya akan berjalan lancar seperti
saat masih di pesantren dulu. Tapi, ah, Yah, panggung sepertinya ingin
memberiku pengalaman tak terlupakan, panggung sepertinya ingin membuatku
merasakan bagaimana menyedihkannya saat di telan oleh suara sendiri.
Ah, Ayah, itu sungguh memalukan. Pidato
bahasa Arab yang sudah kuhafalkan dengan sungguh-sungguh, teksnya lenyap begitu
saja dari memoriku.
Entah mengapa, saat sudah menyampaikan
pembukaan, saya benar-benar tidak bisa melanjutkan lagi. Lupa. Satu kata pun
tidak ada yang muncul di kepalaku, hingga akhirnya saya hanya diam membisu di
atas panggung, berdiri mematung dengan sangat menyedihkan.
Saat itulah, Ayah, saat itulah saya mulai
merasakan, betapa menakutkannya tatapan penonton. Bahkan suara tawa mereka
terdengar semakin menyeramkan. Aku sadar sepenuhnya, itu konsekuensi di atas
panggung ketika tak mempersiapkan diri dengan baik.
Setelah beberapa menit berdiri
mematung—hanya jadi bahan tertawaan—dan tak kunjung menemukan satu kata pun di
kepalaku, akhirnya saya memutuskan untuk menutupnya.
Hahaha, sungguh itu adalah pidato ‘terkeren’
yang pernah ada. Pidato dengan pembukkan dan penutup, tanpa isi.
Ah, sudahlah Ayah, lupakan tentang itu.
Oh yah, besok saya akan ikut lomba lagi, KTI. Hhh, mohon doanya, Ayah, semoga
saya tidak tekor duduk.
Sudah dulu, Ayah, saya mau solat isya.
Suratnya saya lanjutkan di lain kesempatan.
Peluk
rindu dari putrimu
Gowa
Makassar, 07-08 Jan 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar