About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Senin, 11 Januari 2016

SURAT KE-5 UNTUK AYAH


Otousan ni Aitai

       Apa kabar, Ayah? Hehehe, maaf, lumayan lama tidak nulis surat lagi. Pastinya Ayah sudah sangat penasaran dengan keseharianku (hahaha GR).

       Yah, sekarang di asrama kami sedang sibuk-sibuknya Pekan Ilmiah. Tepatnya, sih, sibuk mempersiapkan lomba. Dan asal Ayah tahu, saya tadi ikut lomba. Ets, tapi tunggu dulu, Ayah jangan ketawa begitu tahu saya ikut lomba apa.
       Tadarrus, Ayah, bayangkan tadarrus, berantai sih. Hahaha, dengan modal suara pas-pasan dan diusahakan pede, akhirnya berjalan lancar juga, meski kami juara lima. Lawan-lawan lainnya bagus-bagus, suara mereka merdu nan mempesona. Sebenarnya, sih, bisa tampil tidak memalukan itu sudah lebih dari cukup buatku. Dibandingkan dengan lomba tahun lalu, menyisakan jejak trauma yang cukup membayang-bayangi.
       Saya mungkin belum cerita ke Ayah tentang peristiwa memalukan itu yang mungkin tidak akan bisa kulupakan seumur hidup.
       Setahun yang lalu, saat pekan ilmiah diadakan, saat itu saya mendapatkan lomba pidato bahasa Arab. Wuiiih, bukan main percaya dirinya saya saat itu, yakin semuanya akan berjalan lancar seperti saat masih di pesantren dulu. Tapi, ah, Yah, panggung sepertinya ingin memberiku pengalaman tak terlupakan, panggung sepertinya ingin membuatku merasakan bagaimana menyedihkannya saat di telan oleh suara sendiri.
       Ah, Ayah, itu sungguh memalukan. Pidato bahasa Arab yang sudah kuhafalkan dengan sungguh-sungguh, teksnya lenyap begitu saja dari memoriku.
       Entah mengapa, saat sudah menyampaikan pembukaan, saya benar-benar tidak bisa melanjutkan lagi. Lupa. Satu kata pun tidak ada yang muncul di kepalaku, hingga akhirnya saya hanya diam membisu di atas panggung, berdiri mematung dengan sangat menyedihkan.
       Saat itulah, Ayah, saat itulah saya mulai merasakan, betapa menakutkannya tatapan penonton. Bahkan suara tawa mereka terdengar semakin menyeramkan. Aku sadar sepenuhnya, itu konsekuensi di atas panggung ketika tak mempersiapkan diri dengan baik.
       Setelah beberapa menit berdiri mematung—hanya jadi bahan tertawaan—dan tak kunjung menemukan satu kata pun di kepalaku, akhirnya saya memutuskan untuk menutupnya.
       Hahaha, sungguh itu adalah pidato ‘terkeren’ yang pernah ada. Pidato dengan pembukkan dan penutup, tanpa isi.
       Ah, sudahlah Ayah, lupakan tentang itu. Oh yah, besok saya akan ikut lomba lagi, KTI. Hhh, mohon doanya, Ayah, semoga saya tidak tekor duduk.
       Sudah dulu, Ayah, saya mau solat isya. Suratnya saya lanjutkan di lain kesempatan.
Peluk rindu dari putrimu

Gowa Makassar, 07-08 Jan 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar