About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Rabu, 27 Januari 2016

Surat ke-7 untuk Ayah

"Otousan ni Aitai"

Ayah, pabila galau, pena dan imajiku beradu
Ayah, pabila ditolak, seperti hatiku tertohok telak
Jika naskah ditolak melulu
Akankah aku jadi penulis sebenarnya kelak?


       Ayah, maaf, lumayan lama baru nulis surat lagi. 16 hari. Kuharap di sana Ayah tidak kurang suatu apa pun dan senantiasa dalam naungan cintaNya.
Hhhh, Ayah, sekarang saya lagi galau berat. Beberapa menit yang lalu sebelum menulis surat ini, saya sempatkan buka email. Saat melihat ada inbox yang masuk, saya sangat semangat, berhubung karena inbox itu balasan dari email yang kukirim beberapa waktu lalu. Setelah membuka inbox yang masuk itu,hhhh …, Ayah, saya hanya bisa menarik napas berat dan panjang. Kecewa.
       NASKAH SAYA DITOLAK, lebih tepatnya, novel yang baru saya kirim beberapa hari lalu ditolak penerbit. Ini balasan tercepat penerbit dibandingkan dari novel-novel sebelumnya.
       Sebenarnya, Ayah, perasaan kecewa dan galau karena ditolak penerbit bukan pertama kalinya buatku. Pertama kali perasaan itu kurasakan di tahun 2014. Namun, Ayah, saya benar-benar belum bisa kebal dari rasa kecewa sebab itu. Saya sangat berharap novel saya bisa masuk gramedia. Saya sangat ingin banyak orang yang membaca karyaku. Saya tidak peduli jikalau tidak ada yang mengenal namaku—olehnya itu saya memakai nama pena, tapi saya ingin semua orang mengenal karyaku.
       Ayah, sejak memutuskan untuk mengirim naskah ke penerbit mayor, sejak saat itu pula saya menanamkan tekad untuk terus berusaha. Tolak-edit-kirim sudah menjadi biasa. Apalagi novel pertamaku, sekarang ia berjuang di penerbit ke-5 setelah ditolak empat kali. Penerbit pertama, hanya dua jam—karena memang sudah tidak menerima naskah fiksi. Penerbit ke dua, 4 bulan (setelah di php-in beberapa saat). Penerbit ke tiga, 9 bulan (ini yang paling menyiksa) dan penerbit ke empat 7 bulan. Jadi, Ayah, total perjuangan novel pertamaku 20 bulan 2 jam. Dan sekarang sudah sekitar sebulanan di penerbit ke-5.
Hhh, terkadang saya berpikir, novel saya pasti sangat jelek sampai di tolak berkali-kali, Ayah. Namun, jika melirik sejarah penulis-penulis besar, di antara mereka bahkan ada yang naskahnya ditolak berulang kali baru diterbitkan dan butuh waktu yang sangat panjang. Contohnya J.K Rowling, penulis yang dikenal seluruh dunia karena karyanya, Harry Potter. Namun, siapa sangka, Ayah, novel itu mulanya ditolak 12 kali. Lah, saya baru 4 kali. Olehnya itu saya berkesimpulan, mungkin naskahku belum dapat jodohnya.
Mungkin, novelku yang nasibnya sedikit mujur dan tidak butuh perjuangan panjang, adalah novelku yang ke-3. Ia hanya butuh waktu 8 bulan hingga penerbit mengkonfirmasi tertarik untuk menerbitkannya, itu pun setelah melewati dua penerbit dan urusannya cukup pelik. Ini sudah saya ceritakan ke Ayah di surat sebelumnya.
Ayah, sungguh saya benar-benar ingin menjadi seorang penulis. Penulis yang sebenarnya. Bukan menyandang gelar penulis karena menerbitkan indie. Saya ingin diakui oleh penerbit mayor, sebab jika penerbit indie semua orang bisa melakukannya—bukan berarti saya meremehkan penulis indie, sebab banyak pula penulis besar yang berhasil berkat menerbitkan indie.
Saya ingin merasakan sensasi itu, Ayah. Sensasi bahagia ketika melihat karyaku terpajang di rak buku gramedia, apalagi jika tempatnya spesial, di rak best seller. Sensasi itu hanya bisa saya terawang sekarang.
Mohon doanya, Ayah, semoga saya bisa menggapai cita itu.
Oh yah, Ayah, baru sadar … surat ini surat terpanjang yang pernah kutulis untuk Ayah. Habisnyaaaa, saya galau berattt. Bahkan saat kuliah malam tadi, tidak bersemangat.
Sudah dulu, Ayah, suratnya lain kali saya sambung.

Peluk cinta rindu dari anakmu

Gowa Makassar, 27 Jan 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar