"Otousan ni Aitai"
Ayah, pabila galau, pena dan imajiku beradu
Ayah, pabila ditolak, seperti hatiku tertohok telak
Jika naskah ditolak melulu
Akankah aku jadi penulis sebenarnya kelak?
Ayah, maaf, lumayan lama baru nulis surat
lagi. 16 hari. Kuharap di sana Ayah tidak kurang suatu apa pun dan senantiasa
dalam naungan cintaNya.
Hhhh, Ayah, sekarang saya lagi galau berat. Beberapa menit
yang lalu sebelum menulis surat ini, saya sempatkan buka email. Saat melihat
ada inbox yang masuk, saya sangat semangat, berhubung karena inbox itu balasan
dari email yang kukirim beberapa waktu lalu. Setelah membuka inbox yang masuk
itu,hhhh …, Ayah, saya hanya bisa menarik napas berat dan panjang. Kecewa.
NASKAH SAYA DITOLAK, lebih tepatnya,
novel yang baru saya kirim beberapa hari lalu ditolak penerbit. Ini balasan
tercepat penerbit dibandingkan dari novel-novel sebelumnya.
Sebenarnya, Ayah, perasaan kecewa dan
galau karena ditolak penerbit bukan pertama kalinya buatku. Pertama kali
perasaan itu kurasakan di tahun 2014. Namun, Ayah, saya benar-benar belum bisa
kebal dari rasa kecewa sebab itu. Saya sangat berharap novel saya bisa masuk
gramedia. Saya sangat ingin banyak orang yang membaca karyaku. Saya tidak
peduli jikalau tidak ada yang mengenal namaku—olehnya itu saya memakai nama
pena, tapi saya ingin semua orang mengenal karyaku.
Ayah, sejak memutuskan untuk mengirim
naskah ke penerbit mayor, sejak saat itu pula saya menanamkan tekad untuk terus
berusaha. Tolak-edit-kirim sudah menjadi biasa. Apalagi novel pertamaku, sekarang
ia berjuang di penerbit ke-5 setelah ditolak empat kali. Penerbit pertama,
hanya dua jam—karena memang sudah tidak menerima naskah fiksi. Penerbit ke dua,
4 bulan (setelah di php-in beberapa saat). Penerbit ke tiga, 9 bulan (ini yang
paling menyiksa) dan penerbit ke empat 7 bulan. Jadi, Ayah, total perjuangan
novel pertamaku 20 bulan 2 jam. Dan sekarang sudah sekitar sebulanan di
penerbit ke-5.
Hhh, terkadang saya berpikir, novel saya pasti sangat jelek
sampai di tolak berkali-kali, Ayah. Namun, jika melirik sejarah penulis-penulis
besar, di antara mereka bahkan ada yang naskahnya ditolak berulang kali baru
diterbitkan dan butuh waktu yang sangat panjang. Contohnya J.K Rowling, penulis
yang dikenal seluruh dunia karena karyanya, Harry Potter. Namun, siapa
sangka, Ayah, novel itu mulanya ditolak 12 kali. Lah, saya baru 4 kali. Olehnya
itu saya berkesimpulan, mungkin naskahku belum dapat jodohnya.
Mungkin, novelku yang nasibnya sedikit mujur dan tidak
butuh perjuangan panjang, adalah novelku yang ke-3. Ia hanya butuh waktu 8
bulan hingga penerbit mengkonfirmasi tertarik untuk menerbitkannya, itu pun
setelah melewati dua penerbit dan urusannya cukup pelik. Ini sudah saya ceritakan
ke Ayah di surat sebelumnya.
Ayah, sungguh saya benar-benar ingin menjadi seorang
penulis. Penulis yang sebenarnya. Bukan menyandang gelar penulis karena
menerbitkan indie. Saya ingin diakui oleh penerbit mayor, sebab jika penerbit
indie semua orang bisa melakukannya—bukan berarti saya meremehkan penulis indie,
sebab banyak pula penulis besar yang berhasil berkat menerbitkan indie.
Saya ingin merasakan sensasi itu, Ayah. Sensasi bahagia
ketika melihat karyaku terpajang di rak buku gramedia, apalagi jika tempatnya
spesial, di rak best seller. Sensasi itu hanya bisa saya terawang sekarang.
Mohon doanya, Ayah, semoga saya bisa menggapai cita itu.
Oh yah, Ayah, baru sadar … surat ini surat terpanjang yang
pernah kutulis untuk Ayah. Habisnyaaaa, saya galau berattt. Bahkan saat kuliah
malam tadi, tidak bersemangat.
Sudah dulu, Ayah, suratnya lain kali saya sambung.
Peluk
cinta rindu dari anakmu
Gowa
Makassar, 27 Jan 2015


Tidak ada komentar:
Posting Komentar