Kurajut rindu dengan benang kata, agar kelak menjadi rajutan paragraf yang bisa kulepas kenakan semauku
Assalamualaikum, Ayah … saya harap Ayah
dalam keadaan sehat selalu.
Kali ini saya akan bercerita kepada Ayah
tentang kelanjutan pekan ilmiah. Saya sudah menyinggung di surat sebelumnya,
kalau saya ikut lomba KTI. Wuiiih, Ayah, hari itu luar biasa, kami duduk dari
jam 08.00-17.00, beragam macam gaya sudah saya lakukan untuk merenggangkan
badan.
Efeknya setelah itu, Ayah, saya sakit,
demam. Bahkan saat mengetik surat ini saya masih kurang enak badan. Batuk serta
flu dan kepala nyut-nyut.
Tapi, Alhamdulillah, ternyata sakit saya
tidak sia-sia, setidaknya saya masuk final. Namun, Yah, masalah selanjutnya,
saya tidak bisa belajar dengan maksimal sebab sakit. Saya juga amat khawatir di
saat presentase tidak bisa menjawab pertanyaan juri, itu sungguh memalukan,
apalagi jika disaksikan seluruh penghuni Ma’had Aly.
Tapi, Alhamdulillah Ayah, saat presentase
tadi semuanya berjalan lancar, pertanyaan juri bisa saya jawab. Itu sudah lebih
dari cukup buatku. Lagi-lagi, setidaknya saya tidak memalukan di atas penggunf
seperti tahun lalu.
Kalau masalah dapat juara berapa, itu
tidak menjadi soal, kan, Ayah? Setidaknya saya sudah berusaha melakukan yang
terbaik.
Suratnya sekian dulu.Kuharap Ayah juga
menulis surat untukku, meskipun surat itu hanya akan kuterima lewat mimpi. Rinduku
pada Ayah mungkin sudah tak terkata lagi.
Peluk
rindu untuk Ayah
11
Jan 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar