Adakah dunia yang lebih indah dari dunia imajiku, kupu-kupu?
Mendekap di dalam kotak putih, membuat sekujur tubuhku ngilu,
dengan suasana dan pemandangan yang tak berubah. Bahkan, sayap yang telah
kujahit, kutekuni beberapa masa, tak bisa kukepakkan seperti kepakan kupu-kupu
yang menjengukku beberapa waktu lalu. Akhirnya, lagi dan lagi, aku memilih
mendekap di dalam jeruji imaji yang tiada batas. Yah, itu lebih menyenangkan,
meski mungkin tiada yang mengertiku dan aku malah dianggap aneh.
Namun, sekali lagi ... itu jauh lebih menyenangkan.
Tiba-tiba saja ucapan kupu-kupu terbersit di kepalaku. “Jangan
menyiksa dirimu, Kawanku. Jika kau ingin berteriak, maka berteriaklah. Jika kau
ingin marah, maka marahlah. Jika kau ingin melempar semua benda yang
menjengkelkanmu di kotak putih ini, lemparlah, sampai mereka hancur
berkeping-keping. Jangan pedulikan tetanggamu di kotak putih sebelah, toh kalau
mereka mau marah palingan hanya berteriak jengkel, setelah itu selesai.”
“Tapi, kupu-kupu, Kawanku,” tanggapku. “Sungguh aku tidak bisa
melakukan semua itu. Di saat aku ingin berteriak, seperti ada sesuatu yang
mencekat tenggorokanku. Saat aku mau marah, itu tak kuasa terlampiaskan—yang akhirnya
hanya kembali ke dalam hati dan menyiksa benda yang tak bersalah itu. Dan … di
saat aku akan melempar segala benda yang membuatku muak di kotak putih ini,
seperti ada tangan raksasa yang membelenggu ke dua tanganku, hingga hanya bisa
terkulai lemas.
“Tolong aku, kupu-kupu, Kawanku, sungguh aku tak tahu harus
berbuat apa. Hanya imaji, yah, hanya dunia imaji yang dapat merenggangkan
ikatan yang membelengguku. Tapi, sebelumnya pun kau melarangku terlalu terlena
dengan dunia imajiku. Aku harus bagaimana, Kawanku?”
Kupu-kupu pun tersenyum, lalu melebarkan sayapnya yang selalu
berhasil membuatku jatuh cinta. “Jahitlah sepasang sayap yang indah, Kawanku.
Saat sayap itu sudah selesai kau jahit, gunakanlah ia. Terbanglah dan biarkan
kotak putih ini hancur, akan kau dapati dunia yang lebih indah dari dunia
imajimu itu.”
Namun ternyata, ucapan kupu-kupu
hanya omong kosong belaka. Saat telah selesai kujahit, sepasang sayap itu tak
bisa kugunakan.
Sekarang
ini, aku duduk tak sabaran dengan perasaan dongkol yang menggumpal, menanti
kedatangan kupu-kupu untuk meminta pertanggungjawabannya.
Di Kotak
Putih, 31 Jan 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar