About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Sabtu, 30 Januari 2016

DI KOTAK PUTIH, AKU DAN KUPU-KUPU


Adakah dunia yang lebih indah dari dunia imajiku, kupu-kupu?


Mendekap di dalam kotak putih, membuat sekujur tubuhku ngilu, dengan suasana dan pemandangan yang tak berubah. Bahkan, sayap yang telah kujahit, kutekuni beberapa masa, tak bisa kukepakkan seperti kepakan kupu-kupu yang menjengukku beberapa waktu lalu. Akhirnya, lagi dan lagi, aku memilih mendekap di dalam jeruji imaji yang tiada batas. Yah, itu lebih menyenangkan, meski mungkin tiada yang mengertiku dan aku malah dianggap aneh.
Namun, sekali lagi ... itu jauh lebih menyenangkan.

Tiba-tiba saja ucapan kupu-kupu terbersit di kepalaku. “Jangan menyiksa dirimu, Kawanku. Jika kau ingin berteriak, maka berteriaklah. Jika kau ingin marah, maka marahlah. Jika kau ingin melempar semua benda yang menjengkelkanmu di kotak putih ini, lemparlah, sampai mereka hancur berkeping-keping. Jangan pedulikan tetanggamu di kotak putih sebelah, toh kalau mereka mau marah palingan hanya berteriak jengkel, setelah itu selesai.”
“Tapi, kupu-kupu, Kawanku,” tanggapku. “Sungguh aku tidak bisa melakukan semua itu. Di saat aku ingin berteriak, seperti ada sesuatu yang mencekat tenggorokanku. Saat aku mau marah, itu tak kuasa terlampiaskan—yang akhirnya hanya kembali ke dalam hati dan menyiksa benda yang tak bersalah itu. Dan … di saat aku akan melempar segala benda yang membuatku muak di kotak putih ini, seperti ada tangan raksasa yang membelenggu ke dua tanganku, hingga hanya bisa terkulai lemas.
“Tolong aku, kupu-kupu, Kawanku, sungguh aku tak tahu harus berbuat apa. Hanya imaji, yah, hanya dunia imaji yang dapat merenggangkan ikatan yang membelengguku. Tapi, sebelumnya pun kau melarangku terlalu terlena dengan dunia imajiku. Aku harus bagaimana, Kawanku?”
Kupu-kupu pun tersenyum, lalu melebarkan sayapnya yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta. “Jahitlah sepasang sayap yang indah, Kawanku. Saat sayap itu sudah selesai kau jahit, gunakanlah ia. Terbanglah dan biarkan kotak putih ini hancur, akan kau dapati dunia yang lebih indah dari dunia imajimu itu.”
            Namun ternyata, ucapan kupu-kupu hanya omong kosong belaka. Saat telah selesai kujahit, sepasang sayap itu tak bisa kugunakan.
Sekarang ini, aku duduk tak sabaran dengan perasaan dongkol yang menggumpal, menanti kedatangan kupu-kupu untuk meminta pertanggungjawabannya.
Di Kotak Putih, 31 Jan 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar