Kurang lebih sebulan yang lalu, saat
salah satu teman sekamar—yang biasa kusapa dengan sebutan Kak Cui—berkata, “Teman
mamaku yang bekerja di pabrik indomie mengatakan, kalau mie mengandung pengawet
mayat, makanya dia berpesan jangan terlalu sering mengonsumsinya.”
Saat mendengar pernyataan itu,
perasaan saya langsung tidak enak. Pasalnya saya termasuk pengonsumsi berat
indomie. Dalam sehari biasanya saya makan 3-5 bungkus mie.
Saat itu memang bukan kali pertama
saya mendengar kalau indomie mengandung pengawet, namun saya tidak menyangka
kalau itu pengawet mayat. Saya ngeri.
Walhasil, saya search di om google,
dan apa yang saya dapatkan semakin memperkuat tekadku untuk move on dari
indomie. Selain mengandung pengawet yang amat berbahaya, ternyata juga
berdasarkan penelitian laboratorium Fakultas Univ. Indonesia, menyimpulkan
bahwa indomie dari beberapa toko di pasaran yang diambil sebagai sample, 100%
mengandung plastik. Saya langsung prihatin dengan tubuhku. Kasihan ia selama
ini mengonsumsi plastik.
Sejak
saat itu, saya tidak mau lagi makan indomie sampai benar-benar melupakan
tentang pengawet itu. Hhh, dan cobaannya benar-benar luar biasa. Hidup di
asrama tanpa indomie, terkadang membuat kelaparan. Pasalnya telur sebagai
pengganti indomie cepat habis daripada mie di jualan adik-adik semester V. Dan
teman-teman ketika makan bersama juga
selalu ada mie.
Sebenarnya saya selalu hampir tergoda, jika teman sekamar
kebetulan makan indomie, aromanya sungguh sangat menusuk hidung, dan rasanya
menarikku untuk segera menyantapnya. Namun sekali lagi, saya ingin move on dan
mana mungkin menyiksa teman sekamar dengan ke-move on-anku itu. Saya sadar
terkadang mereka—demi makan bersama—tidak makan indomie. Love u full Vira, kak
Cui, Nisa.
Saya jadi teringat saat sakit dulu, pasca lomba KTI, Vira
yang sebenarnya ingin menambah mie di kuah ikan sarden, tidak jadi. Saat saya tanya
kenapa, katanya saya tidak makan kalau ada mienya. Hiks, saya terharu.
Dan akhirnya, lebih sebulan kemudian,
saya gagal move on. Saya sadar, sebagai mahasiswa yang menetap di asrama, amat
sulit bercerai dengan indomie, sebab ia seperti lauk wajib. Lauk cepat saji
yang bisa disantap saat kelaparan sepulang kuliah, lauk paling efisien saat
lagi kangker—baca kantong kering. Dan akhirnya saya membutakan mata dari
pengawet dan plastik itu.
Oh yah, lupa, hahaha … sebenarnya
sih, saya pernah sekali-kali menyantap mie saat proses move on itu. Hahaha,
saya makan pop mie, mie favoritku. Saya tidak pernah bisa tahan jika ke Royal
tanpa membeli itu. Itu, sih, sebenarnya bukan move on. Hohoho.
Tapi, saya harap, semoga suatu saat
bisa benar-benar move on dari indomie, ketika sudah tidak menyandang gelar
mahasiswa lagi.
Gowa
Makassar, 28 Jan 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar