About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Rabu, 27 Januari 2016

GAGAL MOVE ON


            Kurang lebih sebulan yang lalu, saat salah satu teman sekamar—yang biasa kusapa dengan sebutan Kak Cui—berkata, “Teman mamaku yang bekerja di pabrik indomie mengatakan, kalau mie mengandung pengawet mayat, makanya dia berpesan jangan terlalu sering mengonsumsinya.”

            Saat mendengar pernyataan itu, perasaan saya langsung tidak enak. Pasalnya saya termasuk pengonsumsi berat indomie. Dalam sehari biasanya saya makan 3-5 bungkus mie.
            Saat itu memang bukan kali pertama saya mendengar kalau indomie mengandung pengawet, namun saya tidak menyangka kalau itu pengawet mayat. Saya ngeri.
            Walhasil, saya search di om google, dan apa yang saya dapatkan semakin memperkuat tekadku untuk move on dari indomie. Selain mengandung pengawet yang amat berbahaya, ternyata juga berdasarkan penelitian laboratorium Fakultas Univ. Indonesia, menyimpulkan bahwa indomie dari beberapa toko di pasaran yang diambil sebagai sample, 100% mengandung plastik. Saya langsung prihatin dengan tubuhku. Kasihan ia selama ini mengonsumsi plastik.
            Sejak saat itu, saya tidak mau lagi makan indomie sampai benar-benar melupakan tentang pengawet itu. Hhh, dan cobaannya benar-benar luar biasa. Hidup di asrama tanpa indomie, terkadang membuat kelaparan. Pasalnya telur sebagai pengganti indomie cepat habis daripada mie di jualan adik-adik semester V. Dan teman-teman ketika  makan bersama juga selalu ada mie.
Sebenarnya saya selalu hampir tergoda, jika teman sekamar kebetulan makan indomie, aromanya sungguh sangat menusuk hidung, dan rasanya menarikku untuk segera menyantapnya. Namun sekali lagi, saya ingin move on dan mana mungkin menyiksa teman sekamar dengan ke-move on-anku itu. Saya sadar terkadang mereka—demi makan bersama—tidak makan indomie. Love u full Vira, kak Cui, Nisa.
Saya jadi teringat saat sakit dulu, pasca lomba KTI, Vira yang sebenarnya ingin menambah mie di kuah ikan sarden, tidak jadi. Saat saya tanya kenapa, katanya saya tidak makan kalau ada mienya. Hiks, saya terharu.
            Dan akhirnya, lebih sebulan kemudian, saya gagal move on. Saya sadar, sebagai mahasiswa yang menetap di asrama, amat sulit bercerai dengan indomie, sebab ia seperti lauk wajib. Lauk cepat saji yang bisa disantap saat kelaparan sepulang kuliah, lauk paling efisien saat lagi kangker—baca kantong kering. Dan akhirnya saya membutakan mata dari pengawet dan plastik itu.
            Oh yah, lupa, hahaha … sebenarnya sih, saya pernah sekali-kali menyantap mie saat proses move on itu. Hahaha, saya makan pop mie, mie favoritku. Saya tidak pernah bisa tahan jika ke Royal tanpa membeli itu. Itu, sih, sebenarnya bukan move on. Hohoho.
            Tapi, saya harap, semoga suatu saat bisa benar-benar move on dari indomie, ketika sudah tidak menyandang gelar mahasiswa lagi.


Gowa Makassar, 28 Jan 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar