Beberapa
waktu yang lalu kau berbisik di telingaku, Kawan, tentang sebuah cinta yang
dikhianati dan kepercayaan yang dirobohkan.
Kau
bersedih, dalam diammu teramat kecewa. Kau salah menaruh cinta, keliru
menggenggam setia yang keluar dari bibirnya. Tutur manisnya merengkuh hatimu
yang ternyata pada akhirnya mengiris binarmu dengan sembilu khianat.
Sudahlah,
Kawan! Jangan bersedih, lenyapkan laramu! Hapuskan segala hal tentangnya! Bukannya
kau pernah berkata yang entah dengar dari siapa, bahwa jika kita telah meminta
yang terbaik dari Sang Pemilik Cinta, lalu seseorang datang kemudian hanya
untuk pergi meninggalkan jejak luka, berarti bukan ia yang terbaik bagi kita
menurutNya.
Kawan,
sosok yang terbaik itu mungkin berada jauh dari pandanganmu, kau hanya perlu
menghadirkannya dalam doa-doamu.
Aku
mungkin bukan pakar cinta, tapi terkadang narsis menyebut diri dokter cinta. Izinkan
aku berucap sebagai seorang sahabat. Jangan salahkan cinta, Kawan! Jangan sekali-kali!
Bukan ia yang mengundang dukamu, namun orang yang tak mengerti untuk apa cinta
hadirlah yang menyalahgunakannya. Sebab cinta adalah makhluk suci yang tak
bernapas.
Sahabatmu
Gowa, 12 Juni 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar