“Ketahuilah, Nak, hidup
ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang
kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah
memenangkan seluruh pertempuran.”
Nasihat di atas adalah
nasihat yang dialirkan melalui pena oleh Tere Liye dalam novelnya yang berjudul
PULANG. Novel setebal 400 halaman ini menyimpan nasihat-nasihat indah nan
menyejukkan. Itulah alasan mengapa saya suka membaca novel-novel karya Tere Liye, sebab selalu saja kutemukan nasihat-nasihat bijak yang disampaikan dengan
gaya bahasa ringan menyangkut kehidupan, baik yang pernah maupun tidak pernah
kualami. Memang benar, setiap penulis memiliki pembacanya masing-masing,
mengingat ada teman-teman yang juga—bisa dibilang—tidak suka membaca
karya-karyanya.
Nasihat di atas, sungguh
sangat menghentakkan hatiku. Terjawablah segala risau-risau yang kerap mengusik.
Kegelisahan-kegelisahan yang mencengkeram, sebab banyak hal yang tak sejalan
dengan hati.
Yah, solusinya hanya satu ...
hanya perlu berdamai. Bukankah dengan bisa berdamai dengan hal-hal—apapun itu—yang
mengganggu hati, maka semuanya akan selesai? Sebab dengan berdamai berarti
mengibarkan lambang “penerimaan”. Penerimaan berarti mengulurkan jabat tangan
perdamaian, penerimaan berarti menghapuskan sifat-sifat hitam yang mengotori
hati. Dan dengan berdamai dan menerima, berarti menanamkan pikiran positif dan
ikhlas. Ikhlas menerima segala keadaan, hingga lenyaplah segala hal negatif
yang menggoda hati, hingga tiada tempat tuk segala gelisah, risau, sakit—apa pun
itu—di hati. Sebab biasanya risau dan selainnya hadir karena bentuk protes dari
tidak terimanya dengan sesuatu yang telah atau akan terjadi.
Pun aku sadar, selain
berdamai aku juga harus membaca kehidupan. Kehidupanku maupun kehidupan orang
lain yang telah berlalu, sebagai bentuk pelajaran untuk melangkah ke masa
depan. Entah yang berlalu itu pahit, atau entah itu manis. Guna sebagai penuntun,
petunjuk jalan dan sebagai guru yang memperingatkan jika akan jatuh ke lubang
yang sama tuk kedua kali.
Di sini aku juga akan
menuliskan nasihat Tere Liye yang lain dalam novel PULANG, yang menurutku amat
dalam maknanya.
“Hidup ini adalah
perjalanan panjang. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari
yang sangat spesial, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghirup
udara pertama kali. Di salah satu hari lainnya, kita belajar tengkurap, belajar
merangkak, untuk kemudian berjalan. Di salah satu hari berikutnya kita bisa
mengendarai sepeda, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini
kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari yang terbit.
“Lantas hari-hari melesat
cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui
pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih
karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam
sesak, tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai
datang. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin
kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemudian kita masih
berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh
kehidupan. Hari-hari menyakitkan.” (Hal. 337)
“Tapi sungguh, jangan
dilawan semua hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Mau semuak
apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah. Mau sejijik
apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit
dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha
melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.” (Hal. 339)
Di ruang baca, 16 Maret
2016

baguskan
BalasHapusIya, bagus (y)
BalasHapus