About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Rabu, 16 Maret 2016

MEMBACA KEHIDUPAN



“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.”

Nasihat di atas adalah nasihat yang dialirkan melalui pena oleh Tere Liye dalam novelnya yang berjudul PULANG. Novel setebal 400 halaman ini menyimpan nasihat-nasihat indah nan menyejukkan. Itulah alasan mengapa saya suka membaca novel-novel karya Tere Liye, sebab selalu saja kutemukan nasihat-nasihat bijak yang disampaikan dengan gaya bahasa ringan menyangkut kehidupan, baik yang pernah maupun tidak pernah kualami. Memang benar, setiap penulis memiliki pembacanya masing-masing, mengingat ada teman-teman yang juga—bisa dibilang—tidak suka membaca karya-karyanya.
Nasihat di atas, sungguh sangat menghentakkan hatiku. Terjawablah segala risau-risau yang kerap mengusik. Kegelisahan-kegelisahan yang mencengkeram, sebab banyak hal yang tak sejalan dengan hati.
Yah, solusinya hanya satu ... hanya perlu berdamai. Bukankah dengan bisa berdamai dengan hal-hal—apapun itu—yang mengganggu hati, maka semuanya akan selesai? Sebab dengan berdamai berarti mengibarkan lambang “penerimaan”. Penerimaan berarti mengulurkan jabat tangan perdamaian, penerimaan berarti menghapuskan sifat-sifat hitam yang mengotori hati. Dan dengan berdamai dan menerima, berarti menanamkan pikiran positif dan ikhlas. Ikhlas menerima segala keadaan, hingga lenyaplah segala hal negatif yang menggoda hati, hingga tiada tempat tuk segala gelisah, risau, sakit—apa pun itu—di hati. Sebab biasanya risau dan selainnya hadir karena bentuk protes dari tidak terimanya dengan sesuatu yang telah atau akan terjadi.
Pun aku sadar, selain berdamai aku juga harus membaca kehidupan. Kehidupanku maupun kehidupan orang lain yang telah berlalu, sebagai bentuk pelajaran untuk melangkah ke masa depan. Entah yang berlalu itu pahit, atau entah itu manis. Guna sebagai penuntun, petunjuk jalan dan sebagai guru yang memperingatkan jika akan jatuh ke lubang yang sama tuk kedua kali.
Di sini aku juga akan menuliskan nasihat Tere Liye yang lain dalam novel PULANG, yang menurutku amat dalam maknanya.
“Hidup ini adalah perjalanan panjang. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat spesial, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghirup udara pertama kali. Di salah satu hari lainnya, kita belajar tengkurap, belajar merangkak, untuk kemudian berjalan. Di salah satu hari berikutnya kita bisa mengendarai sepeda, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari yang terbit.
“Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemudian kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan.” (Hal. 337)
“Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.” (Hal. 339)
Di ruang baca, 16 Maret 2016

2 komentar: