Sejak membaca tuk kali pertama karya Akiyoshi Rikako—penulis
asal Jepang—yang berjudul The Dead Returns, saya mulai mendeklrasikan diri
sebagai penggemar karyanya. Saat itu Desember di tahun 2015. Karyanya yang
ditutup dengan ending yang mengejutkan membuat saya puas.
Tak jauh beda dengan The
Dead Returns, Girl in the Dark juga menyajikan cerita yang menarik,
misteri dan thriller. Bercerita tentang Klub Sastra anak SMA putri yang hanya beranggotakan
7 orang. Berisikan gadis-gadis pilihan yang ditunjuk langsung oleh sang ketua
klub.
Permasalahannya adalah ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi,
yang tiba-tiba mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily. Pembunuhan atau
bunuh diri?
Seminggu setelahnya, klub sastra mengadakan pertemuan yang
telah menjadi tradisi klub tersebut setiap akhir semester, Yami Nabe. Di pertemuan
itu semua anggota harus membacakan cerita pendek yang mereka buat dan ternyata
cerita mereka berisikan analisis masing-masing tentang siapa pembunuh
sebenarnya.
Ceritanya benar-benar bikin penasaran karena setiap anggota
membaca cerita yang saling bertentangan. Membuat saya begadang membacanya,
kurang lebih mulai jam 23.30-03.30 pagi dengan tebal halaman 284. Endingnya benar-benar
mengejutkan. Baca aja! Eh, omong-omong lama banget yah saya membaca? 4 jam
dengan tebal segitu? Ah Lupakan!
Sebelum mengakhiri ini saya ingin bertanya karena
benar-benar penasaran. Adakah orang yang seperti saya yang lebih rileks jika
membaca baring (maksudnya dalam posisi baring) ketimbang duduk? Aneh, yah?
Sudahlah!
Lupakan!
Di
Ruang Baca
25
Oktober 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar