Menikmati angin sejuk di Taman Kili Suci,
menjadi pilihan pertama kami setelah 5 hari bergelut dengan materi-materi.
Setidaknya dari kegiatan 6x pertemuan sehari,
yang berarti 30 pertemuan dalam sepekan, sudah sangat cukup menguras tenaga dan
otak. Refreshing memang diperlukan sebagai penyegar otak untuk menuju pekan
selanjutnya, bukan?
Jadilah pagi tadi, kami—baca aku, Eki, Kak Ira
yang kemudian bergabung Sarah, Fitria dan Evi, mengayuh sepeda dengan semangat
menuju Taman Kili Suci.
Setelah berselfie ria beberapa kali, sambil
menikmati Good Day Cappuccino—kopi yang begitu kurindukan selama di sini, di
bawah pohon rindang, salah satu teman mengajukan usul untuk melanjutkan
perjalanan ke SLG (Simpang Lima Gumul), yang katanya menjadi icon
Kediri. Tidak butuh waktu lama untuk mengambil keputusan, yosh ... kami semua
setuju.
Hal yang tak terencana memang terkadang lebih
mengasyikkan. Muncul begitu saja di kepala dan langsung terealisasi. Akhirnya kami
menempuh perjalanan 22 km demi mengunjungi Parisnya Kediri (demikian
julukannya).
Kini aku lebih mengenal mereka setelah wisata
tadi. Kami memang tidak sekamar, hanya Eki, sedang yang lain di kamar berbeda.
Kini aku mengenal kak Ira sebagai kakak yang
lembut dan perhatian, Si Sarah yang di mataku selalu terlihat cute, Si Evi yang
ternyata doyan selfie tapi paling bisa bahasa Inggris dan Si Fitria yang suka
heboh. Kalau Si Eki mah tidak usah ditanya, kami sekamar.
Ada begitu banyak cara untuk membingkai
ukhuwah. Salah satunya, cukup meluangkan waktu, menikmati kebersamaan, maka
suatu saat kita akan selalu saling mengingat di mana pun berada.
Pare Kediri, 30 Juli 2016






Tidak ada komentar:
Posting Komentar