Ketika tangan
akan melambai, saat itulah semuanya terasa berkelebat. Jumpa memang selalu
menggandeng pisah, bahkan mengajak jua tangis yang dibujuk kenangan. Berat,
namun harus terjadi.
Tak terasa, aku
telah meginjak tahun ke tiga di sini, asrama Ma’had Aly. Bertemu dan berpisah
silih berganti. Melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kepada senior yang
telah sarjana, dan mengulurkan tangan perkenalan kepada junior—keluarga baru
Ma’had aly.
Perpisahan yang
diringi dengan perasaan berat, pertanda telah banyak kenangan yang tercipta,
pertanda eratnya tali persaudaraan. Canda, tawa, haru bahkan tangis dilalui
bersama. Saling menolong, berbagi, telah terjalin antar sesama penghuni, sebab
kami satu di bawah naungan jurusan, Organanisasi SANAD dan Ma’had Aly.
Berpisah tapi
masih bisa bertemu kembali, itu tak mengapa. Namun, berpisah untuk
selama-lamanya, itulah perpisahan yang paling menyedihkan. Aku teringat dengan
seorang senior, sosok baik hati serta berkepribadian menyenangkan, Almarhun Ali
Afi. Dia pergi dengan tak terduga, bahkan sebagian dari kami tak percaya di
detik pertama mendengar kabarnya. Rasanya baru kemarin kami saling menyapa,
tersenyum. Rasanya baru kemarin kami melihatnya duduk manis bermain piano di
lantai dasar, rasanya baru kemarin ….
Seluruh penghuni
Ma’had berkabung atas kepergiannya. Kami telah kehilangan satu keluarga yang
akan selalu dikenang dengan kelembutan hatinya—meski memiliki badan yang kekar.
Kejadian itu
adalah perpisahan pertama yang paling menyedihkan selama aku tinggal di Ma’had.
Dan kedua, adalah perpisahan dengan sang musyrif, lebih tepatnya akan
berpisah. Tidak lama lagi beliau akan pindah ke Kendari. Rasanya aku tidak
ingin membayangkan hari itu, sebab perpisahan selalu mampu menyesakkan dadaku.
Terdengar lebay,
tapi itulah kenyataannya.
Bagaimana tidak?
Beliau adalah sosok orangtua, dosen, dan seorang musyrif yang kuidolakan
di sini. Beliau yang mengajarkan kami tentang arti kebersamaan, berbagi dan
agar saling peka bahkan menyatukan cinta antar penghuni. Beliau selalu
memberikan contoh kepada kami tentang tanggung jawab dan keikhlasan dalam
bertindak. Rasanya … ketika beliau pergi, kami akan kehilangan seorang musyrif
yang amat berharga. Bahkan, pernah terbersit harapan semoga beliau tidak
lulus PNS agar tidak meninggalkan Ma’had, tapi aku sadar itu harapan yang
paling jahat. Jadi, aku menggantinya dengan doa semoga Allah memberikan yang
terbaik baginya.
Ini tidak hanya
bercerita tentang perpisahan dengan sang musyrif, tetapi juga tentang
istri beliau—pembina putri yang lemah
lembut, si cantik Najmi, terutama si
kecil Fawwaz yang super imut dan lucu. Ah … mungkin ketika berjumpa kelak
dia tidak mengenal kami.
Namun,
bagaimanapun yang terjadi, pasti perpisahan akan terjadi jua. Sudah menjadi hukum
alam. Sebab perjumpaan dan perpisahan merupakan salah satu simfoni kehidupan
yang mewarnai perjalanan manusia.
Tak mengapa, meski
berat kami akan tetap melambaikan tangan perpisahan dengan hati ikhlas, sebab
berpisah masih ada jalan untuk bertemu.
Makassar, Ma’had Aly 04 Februari 2015


Tidak ada komentar:
Posting Komentar