About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Kamis, 20 Agustus 2015

SEBUAH SIMFONI


            Ketika tangan akan melambai, saat itulah semuanya terasa berkelebat. Jumpa memang selalu menggandeng pisah, bahkan mengajak jua tangis yang dibujuk kenangan. Berat, namun harus terjadi.

            Tak terasa, aku telah meginjak tahun ke tiga di sini, asrama Ma’had Aly. Bertemu dan berpisah silih berganti. Melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kepada senior yang telah sarjana, dan mengulurkan tangan perkenalan kepada junior—keluarga baru Ma’had aly.
            Perpisahan yang diringi dengan perasaan berat, pertanda telah banyak kenangan yang tercipta, pertanda eratnya tali persaudaraan. Canda, tawa, haru bahkan tangis dilalui bersama. Saling menolong, berbagi, telah terjalin antar sesama penghuni, sebab kami satu di bawah naungan jurusan, Organanisasi SANAD dan Ma’had Aly.

            Berpisah tapi masih bisa bertemu kembali, itu tak mengapa. Namun, berpisah untuk selama-lamanya, itulah perpisahan yang paling menyedihkan. Aku teringat dengan seorang senior, sosok baik hati serta berkepribadian menyenangkan, Almarhun Ali Afi. Dia pergi dengan tak terduga, bahkan sebagian dari kami tak percaya di detik pertama mendengar kabarnya. Rasanya baru kemarin kami saling menyapa, tersenyum. Rasanya baru kemarin kami melihatnya duduk manis bermain piano di lantai dasar, rasanya baru kemarin ….
            Seluruh penghuni Ma’had berkabung atas kepergiannya. Kami telah kehilangan satu keluarga yang akan selalu dikenang dengan kelembutan hatinya—meski memiliki badan yang kekar.
            Kejadian itu adalah perpisahan pertama yang paling menyedihkan selama aku tinggal di Ma’had. Dan kedua, adalah perpisahan dengan sang musyrif, lebih tepatnya akan berpisah. Tidak lama lagi beliau akan pindah ke Kendari. Rasanya aku tidak ingin membayangkan hari itu, sebab perpisahan selalu mampu menyesakkan dadaku.
            Terdengar lebay, tapi itulah kenyataannya.
            Bagaimana tidak? Beliau adalah sosok orangtua, dosen, dan seorang musyrif yang kuidolakan di sini. Beliau yang mengajarkan kami tentang arti kebersamaan, berbagi dan agar saling peka bahkan menyatukan cinta antar penghuni. Beliau selalu memberikan contoh kepada kami tentang tanggung jawab dan keikhlasan dalam bertindak. Rasanya … ketika beliau pergi, kami akan kehilangan seorang musyrif yang amat berharga. Bahkan, pernah terbersit harapan semoga beliau tidak lulus PNS agar tidak meninggalkan Ma’had, tapi aku sadar itu harapan yang paling jahat. Jadi, aku menggantinya dengan doa semoga Allah memberikan yang terbaik baginya.
            Ini tidak hanya bercerita tentang perpisahan dengan sang musyrif, tetapi juga tentang istri beliau—pembina  putri yang lemah lembut, si cantik Najmi, terutama  si kecil Fawwaz yang super imut dan lucu. Ah … mungkin ketika berjumpa kelak dia tidak mengenal kami.
            Namun, bagaimanapun yang terjadi, pasti perpisahan akan terjadi jua. Sudah menjadi hukum alam. Sebab perjumpaan dan perpisahan merupakan salah satu simfoni kehidupan yang mewarnai perjalanan manusia.
            Tak mengapa, meski berat kami akan tetap melambaikan tangan perpisahan dengan hati ikhlas, sebab berpisah masih ada jalan untuk bertemu.

Makassar, Ma’had Aly 04 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar