About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Jumat, 05 Juni 2015

SURAT UNTUK AYAH


Telaga rindu yang tak akan pernah mengering

            Hai, Ayah …! Bagaimana kabarmu di sana? Baikkan? Pastilah, anakmu ini tidak pernah berhenti mendoakanmu.
                Emmm, aku menulis surat ini karena tiba-tiba saja aku rindu dengan Ayah. Dan jika ini tentang Ayah, pastinya sangat sulit untuk mengobatinya, Emm, tepatnya, sich, tidak akan pernah terobati.
Tidak terasa, yah, Ayah sudah pergi hampir sepuluh tahun. Waaah, sudah sangat lama. Saat Ayah  pergi waktu itu, umurku hampir 11 tahun, sekarang sudah menjelang 21. Ayah, sekarang aku sudah sangat besar, belum bisa disebut dewasa, sich, karena terkadang aku masih bersifat kekanak-kanakan (Piiiich, Ayah).
Aku bukan lagi anak kecil bandel yang sering mandi di sungai seharian, yang membuat Ayah  menungguku di tangga rumah, bersiap memarahiku (ups). Aku bukan lagi anak kecil yang kerap kali menemani Ayah ke tempat kerja, lalu masuk ke kolom balai-balai demi uang receh yang tidak sengaja dijatuhkan oleh pengunjung. Ah, Ayah, jujur saja, begitu banyak kenangan manisku denganmu meski … sangat singkat.
Tapi, Ayah  …aku minta maaf, sepertinya gambar Ayah yang tersimpan di memoriku sudah mulai mengabur. Ayah, kan, tahu sendiri, aku sangat lemah mengingat wajah—ah, yah, aku baru ingat, Ayah tidak tahu, emm, tepatnya … belum sempat tahu. Yang masih kuigat jelas hanyalah, Ayah punya tahi lalat besar di pipi, dan … kumis.
Ayah, meskipun kebersamaan kita sangat singkat, tapi, bagiku begitu berkesan. Meskipun sangat cepat Ayah pergi, Ayah tetap Ayah terhebat di dunia. Ayah yang tegas dengan sikap penyayang.
Ayah masih ingat tentang potongan kenangan ini? Saat itu aku sangat sering ketiduran di depan TV, dan Ayah akan selalu mengangkatku ke atas ranjang. Emm, sekarang aku akan mengaku, dulu, saat Ayah mengangkatku dari depan tv, sebenarnya aku terjaga (kadang), tapi aku pura-pura. Aku suka, saaaangaaat suka jika Ayah menggendongku, aku suka dimanjakan.
Tapi, Ayah jangan risau! Meskipun terkadang aku ingin merasakan bagaimana nasihat seorang Ayah pada putrinya, kasih sayangnya, tapi aku tidak pernah menyasali takdir. Aku tahu, semuanya telah diatur olehNya.
Suratnya sampai di sini dulu, Ayah. Meskipun tidak terobati sepenuhnya, tapi setidaknya dengan surat ini, hatiku sedikit lebih lega. Aku harap Ayah membalas suratku ini lewat mimpi, agar aku bisa kembali melekatkan sketsa wajah Ayah  di memoriku.
Kecup Rindu dari Putrimu ….

Makassar, 06/06/15

1 komentar:

  1. Saya sangat berterimah kasih banyak kepada nyi atas bantuannya saya bisa menang togel,
    saya benar2 tidak percaya angka ny kasi dan hampir pinsang karna angka yang di berikan nyi ternyata.
    tembus.
    awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di propensi sumatra dan.
    tidak ada onkos pulang,
    mulanya saya ragu tapi dengan penuh pengharapan saya pasangin 100lembar dan.
    ALHAMDULILLAH berhasil,
    sekali lagi makasih banyak yaa nyi… dan saya tidak akan lupa bantuan.
    dan budi baik Nyi Reksosaraswati,
    bagi anda yang ingin seperti saya.
    silahkan HBG/SMS 082 322 216 958
    Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.
    INGAT…kesempatan tidak akan datang untuk ke 2 kalinya…!

    BalasHapus