Telaga rindu yang tak akan pernah mengering
Hai, Ayah …! Bagaimana kabarmu
di sana? Baikkan? Pastilah, anakmu ini tidak pernah berhenti mendoakanmu.
Emmm, aku menulis surat ini
karena tiba-tiba saja aku rindu dengan Ayah. Dan jika ini tentang Ayah,
pastinya sangat sulit untuk mengobatinya, Emm, tepatnya, sich, tidak akan
pernah terobati.
Tidak
terasa, yah, Ayah sudah pergi hampir sepuluh tahun. Waaah, sudah sangat lama.
Saat Ayah pergi waktu itu, umurku hampir
11 tahun, sekarang sudah menjelang 21. Ayah, sekarang aku sudah sangat besar,
belum bisa disebut dewasa, sich, karena terkadang aku masih bersifat
kekanak-kanakan (Piiiich, Ayah).
Aku
bukan lagi anak kecil bandel yang sering mandi di sungai seharian, yang membuat
Ayah menungguku di tangga rumah, bersiap
memarahiku (ups). Aku bukan lagi anak kecil yang kerap kali menemani Ayah ke
tempat kerja, lalu masuk ke kolom balai-balai demi uang receh yang tidak
sengaja dijatuhkan oleh pengunjung. Ah, Ayah, jujur saja, begitu banyak
kenangan manisku denganmu meski … sangat singkat.
Tapi,
Ayah …aku minta maaf, sepertinya gambar
Ayah yang tersimpan di memoriku sudah mulai mengabur. Ayah, kan, tahu sendiri,
aku sangat lemah mengingat wajah—ah, yah, aku baru ingat, Ayah tidak tahu, emm,
tepatnya … belum sempat tahu. Yang masih kuigat jelas hanyalah, Ayah punya tahi
lalat besar di pipi, dan … kumis.
Ayah,
meskipun kebersamaan kita sangat singkat, tapi, bagiku begitu berkesan.
Meskipun sangat cepat Ayah pergi, Ayah tetap Ayah terhebat di dunia. Ayah yang
tegas dengan sikap penyayang.
Ayah
masih ingat tentang potongan kenangan ini? Saat itu aku sangat sering ketiduran
di depan TV, dan Ayah akan selalu mengangkatku ke atas ranjang. Emm, sekarang
aku akan mengaku, dulu, saat Ayah mengangkatku dari depan tv, sebenarnya aku
terjaga (kadang), tapi aku pura-pura. Aku suka, saaaangaaat suka jika Ayah
menggendongku, aku suka dimanjakan.
Tapi,
Ayah jangan risau! Meskipun terkadang aku ingin merasakan bagaimana nasihat
seorang Ayah pada putrinya, kasih sayangnya, tapi aku tidak pernah menyasali
takdir. Aku tahu, semuanya telah diatur olehNya.
Suratnya
sampai di sini dulu, Ayah. Meskipun tidak terobati sepenuhnya, tapi setidaknya
dengan surat ini, hatiku sedikit lebih lega. Aku harap Ayah membalas suratku
ini lewat mimpi, agar aku bisa kembali melekatkan sketsa wajah Ayah di memoriku.
Kecup
Rindu dari Putrimu ….
Makassar,
06/06/15


Saya sangat berterimah kasih banyak kepada nyi atas bantuannya saya bisa menang togel,
BalasHapussaya benar2 tidak percaya angka ny kasi dan hampir pinsang karna angka yang di berikan nyi ternyata.
tembus.
awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di propensi sumatra dan.
tidak ada onkos pulang,
mulanya saya ragu tapi dengan penuh pengharapan saya pasangin 100lembar dan.
ALHAMDULILLAH berhasil,
sekali lagi makasih banyak yaa nyi… dan saya tidak akan lupa bantuan.
dan budi baik Nyi Reksosaraswati,
bagi anda yang ingin seperti saya.
silahkan HBG/SMS 082 322 216 958
Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.
INGAT…kesempatan tidak akan datang untuk ke 2 kalinya…!