About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Senin, 21 Agustus 2017

KABUT LEMBAH RAMMA


Hiking merupakan salah satu cara untuk mentadabburi alam. Kau bisa melihat betapa indah lukisanNya yang terbentang di depan matamu. Kau bisa merasakan betapa nikmat kemenangan saat menginjak puncak setelah berjuang dan berlelah-lelah.
Kau bisa pula mempelajari banyak hal dari alam. Salah satu dari sekian kekata mutiara pendaki ialah alam telah hidup jutaan tahun, sebabnya itu alam akan mengajarkan lebih banyak pengetahuan daripada orang-orang cerdas yang kau temui.

Ini bukan kali pertama saya hiking, bisa dibilang untuk yang ke sekian. Tapi jujur saja, ini pendakian yang paling menantang dalam sejarah pendakianku, karena memang ini untuk pertama kalinya saya mendaki dengan jarak tempuh yang memakan waktu berjam-jam.
 Katanya, untuk sampai ke Lembah Ramma kau bisa menempuhnya dalam jangka waktu 4 jam non stop. Tapi rombongan kami kurang lebih 7 jam. Kami berangkat selepas isya dan sampai di lembah sekitar jam setengah empat subuh. Itu sudah terhitung istirahat kami berkali-kali (wajar ada perempuan), mengisi perut keroncongan dengan memasak indomie di pinggir sungai, menunggu teman yang membantu rombongan lain dalam mengatasi salah satu anggotanya yang kesurupan sampai pada hilangnya jaket salah satu anggota saat dia tersesat sewaktu berpisah dengan rombongan, sedang di jaket itu ada kunci motor dan power bank.  Barang penting, bukan?
Rombongan kami beranggotakan 8 orang. 2 orang di antaranya baru kukenal, dan uniknya mereka memiliki karakter yang berlawanan.

Biar kukenalkan satu-satu.
Yang pertama, Omku. Namanya Wawi, nama lengkapnya Nawawi. Sebenarnya dia pernah protes karena acap kali kupanggil om padahal masih muda, tapi aku tetap suka memanggilnya dengan sebutan om. Nah, beliau yang memperkenalkanku dengan Lembah Ramma.  Dalam setiap gambar, sangat jarang ditemukan fotonya, sebab beliaulah yang jadi fotografer. Jadi wajar kalau foto di atas tidak ada gambar dirinya. Oh iya, beliau juga merangkap jadi koki kami.
Selanjutnya ada AAN, tetanggaku. Sebelumnya, saya hampir tidak pernah berkomunikasi dengannya. Barulah saya sedikit mengenalnya di Lembah Ramma. Meskipun dia jauh lebih muda dariku, tapi sifatnya sangat dewasa, terbukti dengan banyak sekali ocehannya tentang segala sesuatu. Saya ingat salah satu nasihatnya saat perjalanan pulang yang belakangan kutemukan juga di salah satu nasihat para pendaki, “Jangan meninggalkan apa pun selain jejak, jangan mengambil apa pun selain gambar dan jangan membunuh apa pun selain waktu.” Kata-kata itu sangat keren menurutku.
Berikutnya ada Bima. Dia anggota termuda di rombongan, sekaligus terkocak. Sumpah, kocak banget. Mungkin dia lupa makan obat sebelum berangkat. Tapi orangnya sangat loyal bahkan kepada orang yang baru dikenalnya.
Kemudian OTA, nama aslinya Arul, tak kalah kocak dengan Bima. Saat kutanya kenapa bisa dipanggil OTA. “Itu singkatan dari ORANG TAMPAN,” akunya. Hahaha, belakangan dia malu sendiri gegara sering kupanggil ORANG TAMPAN, padahal dia cuma bercanda. Tapi tampan beneran, kok, Dinda, hahaha.
Selanjutnya ada Uccang. Emmm, dia masih misterius, saya tidak terlalu tahu tentang dia, mungkin karena dia terlalu pendiam. Jadi saya tidak bisa banyak komen, yang pasti, thanks for ur help.
Kemudian ada Epi, STRONG WOMAN. Dia yang memboncengku dari yayasan sampai di Malino. Keren, bukan? Berkat dia, saya bisa ikut ke Lembah Ramma. Nanti, kita partner lagi, yah! Hehehe ... gome gome sudah sangat merepotkanmu, apalagi saat lututku kena kram di perjalanan pulang. Pokoknya thank u so much.
Terakhir, my belovedsister, Tati, tapi lebih suka kupanggil TIO. Mungkin karena saya sangat mengenalnya sampai tidak tahu mau menulis apa tentangnya. Oh iya, ini pesanku untuknya, “Jadilah lebih kuat lagi jika ingin mendaki.” Hahaha, sok banget yah daengmu ini, seakan-akan saya kuat, padahal saat penurunan terakhir menuju lembah dan perjalanan pulang dari pos 1 menuju rumah penduduk, saya jalan pinguin gegara kram.
Pokoknya arigatou gozaimasu untuk kalian semua yang mengenalkan banyak hal tentang alam kepadaku. Saya hanya bisa bilang, alam itu sangat indah dan saya jatuh cinta pada alam. Kepada alam saya juga bisa belajar bersyukur tentang nikmat keindahan lukisan yang Ia ciptakan. Kepada alam, kita bisa pula mengukur kualitas diri sebagai seorang hamba. Apakah kita tetap akan mendirikan shalat subuh di tengah cuaca yang teramat dingin di saat berwudu seperti menggunakan air es, atau tetap terlelap berselimut Sleeping Bag di tenda.
Terima kasih kepada alam, kepada Lembah Ramma, yang menghadiahiku memori tentang lutut gemetaran saat berjalan di antara jurang dengan pemandangan yang memesona, dan terima kasih atas kabutmu yang selalu ingin kugenggam. Juga kepada doa yang kugantungkan di ranting pohon pinus, yang kutiupkan di antara kabut tebal dan yang kutitipkan di langit Lembah Ramma, aku akan selalu setia menunggu masa menjawabmu.

Lembah Ramma, memperingati HUT RI yang ke 72



Tidak ada komentar:

Posting Komentar