Hiking merupakan salah satu
cara untuk mentadabburi alam. Kau bisa melihat betapa indah lukisanNya yang
terbentang di depan matamu. Kau bisa merasakan betapa nikmat kemenangan saat
menginjak puncak setelah berjuang dan berlelah-lelah.
Kau bisa pula mempelajari banyak hal dari alam. Salah satu
dari sekian kekata mutiara pendaki ialah alam telah hidup jutaan tahun,
sebabnya itu alam akan mengajarkan lebih banyak pengetahuan daripada
orang-orang cerdas yang kau temui.
Ini bukan kali pertama saya hiking, bisa dibilang untuk
yang ke sekian. Tapi jujur saja, ini pendakian yang paling menantang dalam
sejarah pendakianku, karena memang ini untuk pertama kalinya saya mendaki dengan
jarak tempuh yang memakan waktu berjam-jam.
Katanya, untuk
sampai ke Lembah Ramma kau bisa menempuhnya dalam jangka waktu 4 jam non stop.
Tapi rombongan kami kurang lebih 7 jam. Kami berangkat selepas isya dan sampai
di lembah sekitar jam setengah empat subuh. Itu sudah terhitung istirahat kami
berkali-kali (wajar ada perempuan), mengisi perut keroncongan dengan memasak
indomie di pinggir sungai, menunggu teman yang membantu rombongan lain dalam
mengatasi salah satu anggotanya yang kesurupan sampai pada hilangnya jaket
salah satu anggota saat dia tersesat sewaktu berpisah dengan rombongan, sedang
di jaket itu ada kunci motor dan power bank. Barang penting, bukan?
Rombongan kami beranggotakan 8 orang. 2 orang di antaranya
baru kukenal, dan uniknya mereka memiliki karakter yang berlawanan.
Biar kukenalkan satu-satu.
Yang pertama, Omku. Namanya Wawi, nama lengkapnya Nawawi. Sebenarnya
dia pernah protes karena acap kali kupanggil om padahal masih muda, tapi aku
tetap suka memanggilnya dengan sebutan om. Nah, beliau yang memperkenalkanku
dengan Lembah Ramma. Dalam setiap gambar, sangat jarang ditemukan fotonya,
sebab beliaulah yang jadi fotografer. Jadi wajar kalau foto di atas tidak ada gambar dirinya. Oh iya, beliau juga merangkap jadi koki kami.
Selanjutnya ada AAN, tetanggaku. Sebelumnya, saya hampir
tidak pernah berkomunikasi dengannya. Barulah saya sedikit mengenalnya di
Lembah Ramma. Meskipun dia jauh lebih muda dariku, tapi sifatnya sangat dewasa,
terbukti dengan banyak sekali ocehannya tentang segala sesuatu. Saya ingat
salah satu nasihatnya saat perjalanan pulang yang belakangan kutemukan juga di
salah satu nasihat para pendaki, “Jangan meninggalkan apa pun selain jejak,
jangan mengambil apa pun selain gambar dan jangan membunuh apa pun selain
waktu.” Kata-kata itu sangat keren menurutku.
Berikutnya ada Bima. Dia anggota termuda di rombongan,
sekaligus terkocak. Sumpah, kocak banget. Mungkin dia lupa makan obat sebelum
berangkat. Tapi orangnya sangat loyal bahkan kepada orang yang baru dikenalnya.
Kemudian OTA, nama aslinya Arul, tak kalah kocak dengan
Bima. Saat kutanya kenapa bisa dipanggil OTA. “Itu singkatan dari ORANG TAMPAN,”
akunya. Hahaha, belakangan dia malu sendiri gegara sering kupanggil ORANG
TAMPAN, padahal dia cuma bercanda. Tapi tampan beneran, kok, Dinda, hahaha.
Selanjutnya ada Uccang. Emmm, dia masih misterius, saya
tidak terlalu tahu tentang dia, mungkin karena dia terlalu pendiam. Jadi saya
tidak bisa banyak komen, yang pasti, thanks
for ur help.
Kemudian ada Epi, STRONG WOMAN. Dia yang memboncengku dari
yayasan sampai di Malino. Keren, bukan? Berkat dia, saya bisa ikut ke Lembah
Ramma. Nanti, kita partner lagi, yah! Hehehe ... gome gome sudah sangat
merepotkanmu, apalagi saat lututku kena kram di perjalanan pulang. Pokoknya thank
u so much.
Terakhir, my belovedsister, Tati, tapi lebih suka kupanggil
TIO. Mungkin karena saya sangat mengenalnya sampai tidak tahu mau menulis apa
tentangnya. Oh iya, ini pesanku untuknya, “Jadilah lebih kuat lagi jika ingin
mendaki.” Hahaha, sok banget yah daengmu ini, seakan-akan saya kuat,
padahal saat penurunan terakhir menuju lembah dan perjalanan pulang dari pos 1
menuju rumah penduduk, saya jalan pinguin gegara kram.
Pokoknya arigatou gozaimasu untuk kalian semua yang
mengenalkan banyak hal tentang alam kepadaku. Saya hanya bisa bilang, alam itu
sangat indah dan saya jatuh cinta pada alam. Kepada alam saya juga bisa belajar
bersyukur tentang nikmat keindahan lukisan yang Ia ciptakan. Kepada alam, kita
bisa pula mengukur kualitas diri sebagai seorang hamba. Apakah kita tetap akan
mendirikan shalat subuh di tengah cuaca yang teramat dingin di saat berwudu
seperti menggunakan air es, atau tetap terlelap berselimut Sleeping Bag di
tenda.
Terima kasih kepada alam, kepada Lembah Ramma, yang
menghadiahiku memori tentang lutut gemetaran saat berjalan di antara jurang
dengan pemandangan yang memesona, dan terima kasih atas kabutmu yang selalu
ingin kugenggam. Juga kepada doa yang kugantungkan di ranting pohon pinus, yang
kutiupkan di antara kabut tebal dan yang kutitipkan di langit Lembah Ramma, aku
akan selalu setia menunggu masa menjawabmu.
Lembah Ramma, memperingati HUT RI yang ke 72


Tidak ada komentar:
Posting Komentar