Awalnya aku tidak takut dengan hewan itu. Bahkan, saat kecil dulu
aku pernah digigit olehnya, dan hal itu tidak membuatku trauma saat melihatnya.
Hingga suatu hari,
selepas salat subuh berjamaah di masjid kampus, aku memutuskan berjalan-jalan
santai menghirup udara segar. Kali itu aku sedang sendiri, karena teman-teman
yang lain pada enggan.
Sebenarnya, yang
membuat teman-teman enggan untuk berjalan-jalan subuh karena di waktu itu akan
sangat banyak anjing yang berkeliaran. Bergonggong saling bersahutan, membuat
pendengarnya takut.
Begitupula dengan
waktu itu. Suara gonggong anjing memecahkan sunyi subuh hari, tapi aku tetap
memilih untuk berjalan-jalan, merefreshkan otak sehabis menghafal
al-Qur’an, sekaligus juga mengulang-ulangnya sambil melangkah. Biasanya, aku
tidak pernah sampai melewati segerombolan anjing itu, jika sudah melihat mereka
dari kejauhan, aku pasti memutar arah, memilih kembali ke asrama kampus.
Namun, hari itu
aku benar-benar berani. Dari jarak beberapa meter di depan, aku melihat anjing
sekisaran sepuluh ekor lebih mengikuti seorang ibu yang memang setiap subuh
mengelilingi kampus memulung gelas-gelas plastik. Mungkin anjing-anjing itu
peliharaan ibu itu, karena mereka selalu mengikutinya. Itu hanya kesimpulanku
saja.
Aku tetap berjalan
dengan santai, meski sebentar lagi aku akan berpapasan dengan anjing-anjing
itu. Tapi, entah kenapa, gonggongan anjing-anjing itu tiba-tiba mengarah
padaku. Membuatku gentar dan takut, memilih menghindar sebelum jadi mangsa mereka.
Naas bagiku, mungkin karena melihatku menghindar, sehingga anjing-anjing itu
malah mendatangiku. Semuanya. Sepuluh ekor lebih.
Aku mulai ketakutan.
Tepat di bawah
pohon mangga, anjing-anjing itu sempurna mengepungku. Aku berada di
tengah-tengah. Kepala anjing-anjing itu menengadah ke atas, menggonggong dengan
keras ke arahku. Jaraknya hanya sekitar satu setengah langkah. Jangan ditanya
lagi bagaimana keadaanku, benar-benar ketakutan, gemetar. Aku benar-benar tidak
bisa bergerak saat itu. Sibuk memikirkan hal buruk bahwa sebentar lagi aku akan
dicabik-cabik oleh anjing. Ngeri.
Sebenarnya ada
orang yang melihatku. Tetapi dengan teganya mereka hanya menonton, berdiri
terpaku, bukannya menolong. Di tengah ketakutan yang amat sangat, aku hanya
bisa komat-kamit, berdoa, berharap pertolongan Allah. Bahkan saat itu, aku
sudah berpikir untuk pasrah jika dicabik-cabik anjing-anjing itu.
Asal kalian tahu, saat itu, untuk berteriak saja aku tidak sanggup.
Hingga akhirnya pertolongan
Allah datang. Ibu yang kusebutkan tadi itu muncul. Dia melempari anjing-anjing
itu dengan batu sehingga mereka lari. Setelah anjing-anjing itu pergi, butuh
beberapa waktu bagiku untuk kembali mengumpulkan kekuatan. Kakiku terlalu
lemas, sulit melangkah. Aku yakin, saat itu wajahku amat pucat. Bahkan aku
lupa, apakah saat itu aku berterima kasih dengan ibu yang menolongku itu atau
tidak. Saking takutnya.
Sejak saat itu, aku selalu takut apabila berpapasan dengan seekor
anjing, seakan kejadian itu akan kembali terulang. Aku trauma. Amat trauma.
03 Oktober 2014
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar