About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Senin, 16 Maret 2015

TRAUMA




Awalnya aku tidak takut dengan hewan itu. Bahkan, saat kecil dulu aku pernah digigit olehnya, dan hal itu tidak membuatku trauma saat melihatnya.
            Hingga suatu hari, selepas salat subuh berjamaah di masjid kampus, aku memutuskan berjalan-jalan santai menghirup udara segar. Kali itu aku sedang sendiri, karena teman-teman yang lain pada enggan.
            Sebenarnya, yang membuat teman-teman enggan untuk berjalan-jalan subuh karena di waktu itu akan sangat banyak anjing yang berkeliaran. Bergonggong saling bersahutan, membuat pendengarnya takut.
            Begitupula dengan waktu itu. Suara gonggong anjing memecahkan sunyi subuh hari, tapi aku tetap memilih untuk berjalan-jalan, merefreshkan otak sehabis menghafal al-Qur’an, sekaligus juga mengulang-ulangnya sambil melangkah. Biasanya, aku tidak pernah sampai melewati segerombolan anjing itu, jika sudah melihat mereka dari kejauhan, aku pasti memutar arah, memilih kembali ke asrama kampus.
            Namun, hari itu aku benar-benar berani. Dari jarak beberapa meter di depan, aku melihat anjing sekisaran sepuluh ekor lebih mengikuti seorang ibu yang memang setiap subuh mengelilingi kampus memulung gelas-gelas plastik. Mungkin anjing-anjing itu peliharaan ibu itu, karena mereka selalu mengikutinya. Itu hanya kesimpulanku saja.
            Aku tetap berjalan dengan santai, meski sebentar lagi aku akan berpapasan dengan anjing-anjing itu. Tapi, entah kenapa, gonggongan anjing-anjing itu tiba-tiba mengarah padaku. Membuatku gentar dan takut, memilih menghindar sebelum jadi mangsa mereka. Naas bagiku, mungkin karena melihatku menghindar, sehingga anjing-anjing itu malah mendatangiku. Semuanya. Sepuluh ekor lebih.
Aku mulai ketakutan.
            Tepat di bawah pohon mangga, anjing-anjing itu sempurna mengepungku. Aku berada di tengah-tengah. Kepala anjing-anjing itu menengadah ke atas, menggonggong dengan keras ke arahku. Jaraknya hanya sekitar satu setengah langkah. Jangan ditanya lagi bagaimana keadaanku, benar-benar ketakutan, gemetar. Aku benar-benar tidak bisa bergerak saat itu. Sibuk memikirkan hal buruk bahwa sebentar lagi aku akan dicabik-cabik oleh anjing. Ngeri.
            Sebenarnya ada orang yang melihatku. Tetapi dengan teganya mereka hanya menonton, berdiri terpaku, bukannya menolong. Di tengah ketakutan yang amat sangat, aku hanya bisa komat-kamit, berdoa, berharap pertolongan Allah. Bahkan saat itu, aku sudah berpikir untuk pasrah jika dicabik-cabik anjing-anjing itu.
Asal kalian tahu, saat itu, untuk berteriak saja aku tidak sanggup.
Hingga akhirnya  pertolongan Allah datang. Ibu yang kusebutkan tadi itu muncul. Dia melempari anjing-anjing itu dengan batu sehingga mereka lari. Setelah anjing-anjing itu pergi, butuh beberapa waktu bagiku untuk kembali mengumpulkan kekuatan. Kakiku terlalu lemas, sulit melangkah. Aku yakin, saat itu wajahku amat pucat. Bahkan aku lupa, apakah saat itu aku berterima kasih dengan ibu yang menolongku itu atau tidak. Saking takutnya.
Sejak saat itu, aku selalu takut apabila berpapasan dengan seekor anjing, seakan kejadian itu akan kembali terulang. Aku trauma. Amat trauma.
03 Oktober 2014
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar