About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Senin, 22 September 2014

WAKTU


“Heiii …, sampai kapan kamu akan menyianyiakanku? Membiarkanku berlalu begitu saja?” Dia membentak, wajahnya merah padam menahan amarah.
Tubuhku bergetar. Dengan langkah patah-patah, aku mundur menjauh darinya. Takut. “Kamu siapa?
Aku tidak mengenalmu,” tanyaku akhirnya, karena semakin aku menjauh dia semakin pula mendekat.
Dia menyeringai licik, kemudian menatapku penuh benci. “Hhee …. Bagaimana bisa kamu tidak mengenalku? Aku adalah bagian dari hidupmu yang takkan pernah bisa terpisahkan. Dan ingat! Semakin kamu menghindar atau menjauh, semakin cepat pula aku mengejarmu. Suka atau tidak, masa itu akan datang, dan hanya sesal yang akan menemanimu.”
“Se … benarnya kamu siapa?” tanyaku lagi, sedikit gugup, semakin gemetar. Wajahnya tambah menakutkan, intonasi suaranya menikam.
“Aku … adalah sang waktu yang selalu kau abaikan. Banyak kesempatan yang telah kuberikan padamu, namun dengan seenaknya kau menunda-nunda. Sebentar, besok dan berbagai macam perangai malas lainnya. AKU MUAK DENGANMU … MUAK. Bahkan …, kau lebih memilih memecahkan jendela kantor pemerintah daripada duduk manis dikelas.”
            Kukumpulkan keberanian, menantang wajahnya yang semakin terlihat bengis. “Aku tidak akan pernah menyesal. Camkan itu!”
            “Lihat saja nanti! AKU AKAN KEMBALI DAN MENERTAWAKAN PENYESALANMU.”
Dia lenyap, menyisakan gema suara yang menghantam gendang telingaku.
***
            Di pojok ruangan, tatapan hampa, iri, sesal yang menghunjam, menatap teman-temanku yang berdiri pongah di panggung kemenangan sambil memegang toga.
            Lelah meratapi penyesalan yang datang terlambat.
            Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Sarjana, tak akan pernah menjadi gelarku. Aku resmi di DO setelah tujuh tahun di kampus.
            Dari kejauhan, aku bisa melihat seringai licik itu. Amat kukenal. Dia semakin dekat, tertawa mengejek.
Aku lemas, jatuh terduduk,  mencengkeram kaki kursi yang ada di hadapanku. “Maafkan aku … maafkan aku. Tidak akan kusia-siakan dirimu lagi.”
Ma’had Ali, 18 September 2014

@endang_eriana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar