“Heiii …, sampai kapan kamu akan menyianyiakanku? Membiarkanku
berlalu begitu saja?” Dia membentak, wajahnya merah padam menahan amarah.
Tubuhku
bergetar. Dengan langkah patah-patah, aku mundur menjauh darinya. Takut. “Kamu
siapa?
Aku tidak mengenalmu,” tanyaku akhirnya, karena semakin aku menjauh dia semakin pula mendekat.
Aku tidak mengenalmu,” tanyaku akhirnya, karena semakin aku menjauh dia semakin pula mendekat.
Dia menyeringai licik, kemudian menatapku penuh benci. “Hhee ….
Bagaimana bisa kamu tidak mengenalku? Aku adalah bagian dari hidupmu yang
takkan pernah bisa terpisahkan. Dan ingat! Semakin kamu menghindar atau
menjauh, semakin cepat pula aku mengejarmu. Suka atau tidak, masa itu akan
datang, dan hanya sesal yang akan menemanimu.”
“Se … benarnya kamu siapa?” tanyaku lagi, sedikit gugup, semakin
gemetar. Wajahnya tambah menakutkan, intonasi suaranya menikam.
“Aku … adalah sang waktu yang selalu kau abaikan. Banyak kesempatan
yang telah kuberikan padamu, namun dengan seenaknya kau menunda-nunda.
Sebentar, besok dan berbagai macam perangai malas lainnya. AKU MUAK DENGANMU …
MUAK. Bahkan …, kau lebih memilih memecahkan jendela kantor pemerintah daripada
duduk manis dikelas.”
Kukumpulkan keberanian, menantang
wajahnya yang semakin terlihat bengis. “Aku tidak akan pernah menyesal. Camkan
itu!”
“Lihat saja nanti! AKU AKAN KEMBALI
DAN MENERTAWAKAN PENYESALANMU.”
Dia lenyap, menyisakan gema suara yang menghantam gendang
telingaku.
***
Di pojok ruangan, tatapan hampa,
iri, sesal yang menghunjam, menatap teman-temanku yang berdiri pongah di
panggung kemenangan sambil memegang toga.
Lelah meratapi penyesalan yang
datang terlambat.
Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada.
Sarjana, tak akan pernah menjadi gelarku. Aku resmi di DO setelah tujuh tahun
di kampus.
Dari kejauhan, aku bisa melihat
seringai licik itu. Amat kukenal. Dia semakin dekat, tertawa mengejek.
Aku lemas, jatuh terduduk,
mencengkeram kaki kursi yang ada di hadapanku. “Maafkan aku … maafkan
aku. Tidak akan kusia-siakan dirimu lagi.”
Ma’had
Ali, 18 September 2014
@endang_eriana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar