“Jadi bagaimana
hubunganmu dengan suamimu? Ada perkembangan?” tanya Nita dengan
pandangan prihatin. Aku memang banyak curhat padanya akhir-akhir ini.
“Terlalu banyak
ketidakcocokan di antara kami, Nit! Yang sayangnya baru kami sadari setelah
menikah. Andai saat itu aku mendengarkan nasihatmu …,” jawabku tidak bergairah
dan dibarengi dengan nada menyesal.
Aku teringat
dengan nasihatnya dulu, waktu aku memutuskan menikah dengan orang yang sudah kuanggap
cocok walau belum terlalu lama kenal. Yang hanya kulihat pada dirinya saat itu
adalah dia bisa menjadi imam dalam keluargaku.
Dia menjelaskan
panjang lebar tentang pentingnya ta’aruf sebelum menikah. Katanya tidak sedikit
pasangan yang rentan bercerai karena banyaknya perbedaan-perbedaan di antara
mereka. Karena terlalu tak sabaran, maunya langsung instan. Baru kenal seminggu
sudah merasa cocok, dua minggu kemudian acara lamaran, setelah menikah barulah
menyesal. Banyak hal yang mesti dipertimbangkan dalam urusan pernikahan. Tidak
sesederhana menyeduhkan kopi pada suami di pagi hari. Gegabah sedetik, nantinya
menyesal sepanjang waktu, sobat. Nasihatnya saat itu panjang lebar. Aku hanya
menanggapi dengan senyum saat itu, dan penuh percaya diri berkata, “Aku
sudah merasa sangat srek dengannya. Aku yakin kami cocok. Jadi buat apa
menunggu lama?”
Barulah aku
mengaminkan ucapannya saat itu setelah mengalaminya sendiri.
“Tidak usah
menyesal! Nasi sudah menjadi bubur. Memang rasa sesal tidak bisa dihindari,
pasti ada meski secuil, namun yang bisa dilakukan hanyalah menjadikan rasa
sesal itu sebagai sebuah pelajaran. Think before doing. Jadi bagaimama
keputusan kalian selanjutnya?”
“Mungkin kami akan
bercerai,” jawabku putus asa.
“Kalau boleh memberi saran, jika masih bisa dipertahankan, perjuangkanlah! Kamu tahu kan? Perkara
halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian.”
Aku
mengangguk-angguk mengerti. Aku akan mencoba memperjuangkannya, karena
pernikahan tidak sesederhana menyeduh kopi pada suami di pagi hari.
Ahad, 28-04-2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar