About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Senin, 23 Juni 2014

THINKING BEFORE DOING


            “Jadi bagaimana hubunganmu dengan suamimu? Ada perkembangan?” tanya Nita dengan pandangan prihatin. Aku memang banyak curhat padanya akhir-akhir ini.
            “Terlalu banyak ketidakcocokan di antara kami, Nit! Yang sayangnya baru kami sadari setelah menikah. Andai saat itu aku mendengarkan nasihatmu …,” jawabku tidak bergairah dan dibarengi dengan nada menyesal.
            Aku teringat dengan nasihatnya dulu, waktu aku memutuskan menikah dengan orang yang sudah kuanggap cocok walau belum terlalu lama kenal. Yang hanya kulihat pada dirinya saat itu adalah dia bisa menjadi imam dalam keluargaku.
            Dia menjelaskan panjang lebar tentang pentingnya ta’aruf sebelum menikah. Katanya tidak sedikit pasangan yang rentan bercerai karena banyaknya perbedaan-perbedaan di antara mereka. Karena terlalu tak sabaran, maunya langsung instan. Baru kenal seminggu sudah merasa cocok, dua minggu kemudian acara lamaran, setelah menikah barulah menyesal. Banyak hal yang mesti dipertimbangkan dalam urusan pernikahan. Tidak sesederhana menyeduhkan kopi pada suami di pagi hari. Gegabah sedetik, nantinya menyesal sepanjang waktu, sobat. Nasihatnya saat itu panjang lebar. Aku hanya menanggapi dengan senyum saat itu, dan penuh percaya diri berkata, “Aku sudah merasa sangat srek dengannya. Aku yakin kami cocok. Jadi buat apa menunggu lama?”
            Barulah aku mengaminkan ucapannya saat itu setelah mengalaminya sendiri.
            “Tidak usah menyesal! Nasi sudah menjadi bubur. Memang rasa sesal tidak bisa dihindari, pasti ada meski secuil, namun yang bisa dilakukan hanyalah menjadikan rasa sesal itu sebagai sebuah pelajaran. Think before doing. Jadi bagaimama keputusan kalian selanjutnya?”
            “Mungkin kami akan bercerai,” jawabku putus asa.
            “Kalau boleh memberi saran, jika masih bisa dipertahankan, perjuangkanlah! Kamu tahu kan? Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian.”
            Aku mengangguk-angguk mengerti. Aku akan mencoba memperjuangkannya, karena pernikahan tidak sesederhana menyeduh kopi pada suami di pagi hari.

Ahad, 28-04-2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar