About Me

Foto saya
Perempuan penikmat bulan purnama yang mempunyai mimpi, kelak berjalan di bawah pohon sakura bersama seseorang yang telah halal

Sabtu, 21 Desember 2013

Lafaz Doa Para Pecinta



            Rembulan di malam jum’at tersenyum malu-malu mengintip melalui sela-sela jendela ke dalam masjid Fath al-Rahman, menyaksikan insan Tuhan yang tengah menari-nari di taman surga, sekelompok insan yang tengah bermajelis ilmu. Mereka tengah mengkaji tentang Tazkiyah al-Nafs, dibimbing oleh seorang Ustadz muda jebolan pesantren Gontor Jawa Timur yang menjadi obor penerang di salah satu kampung terpencil di kota Makassar itu.
            Seorang wanita sederhana nan bersahaja dengan balutan jilbab abu-abu, terlihat tengah berusaha untuk fokus mendengarkan penjelasan ustadz muda yang bernama lengkap Ikhwan Zarfan
itu. Apabila kita menelusuri lorong-lorong hatinya, tedapat lumut-lumut cinta yang menghiasi setiap dindingnya. Pengharapan seorang muslimah akan cinta sejati yang dinantinya. Tak ada yang bisa ia lakukan melainkan cinta dan pengharapan yang ia persembahkan melalui doa-doa setiap tahajjudnya, agar Allah menitipkan sepercik cinta untuknya dari ustadz muda itu. Rasa kagum yang bermekaran menjadi cinta telah dipeliharanya sejak setahun lalu, sejak ustadz muda itu pindah ke kampungnya dalam rangka mengabdikan diri, mengamalkan ilmu yang didapatnya di Pulau Jawa.
            Meski kelihatannya tenang namun hatinya bergemuruh hebat. Wanita sholehah yang biasa dipanggil Khaila itu tengah berusaha melawan tekanan hatinya yang begitu berat. Berita yang dia dengar dari sahabatnya sebelum pengajian berlangsung, mampu membuat semangatnya down. Tersebar kabar bahwa sang ustadz akan menikah dan tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengkhitbah gadis yang amat beruntung, gadis yang amat cantik, seorang bidadari. Begitulah yang ia dengar dari Isti sahabatnya yang didengarnya pula dari sahabat ustadz Zarfan.
            Ia sempat menyesali dirinya karena memendam cinta yang mustahil akan terbalas. Dia bukan gadis cantik, wajahnya biasa-biasa saja, namun satu hal yang terpancar dari dirinya, keelokan akhlaknya. Sedangkan ustadz Zarfan adalah purnama di kampungnya, impian para dara-dara desa. Seorang Dira bunga desa yang juga mengidolakannya ditolak  halus olehnya, apatah lagi dirinya yang biasa-biasa saja. Meski disadarinya ungkapan yang mengatakan bahwa cinta tak selamanya memiliki.
            Khaila menghentikan lamunan panjangnya setelah ucapan salam sang ustadz tanda pengajian telah usai terdengar. Karena tak ingin berdesak-desakan Khaila dan Isti sahabatnya tak beranjak dari tempat duduknya hingga satu persatu para pemuda pemudi meninggalkan masjid. Tersisalah mereka berdua dan sang ustadz muda di dalam masjid. Khaila sempat melihat ustadz Zarfan melempar senyum kearahnya (tidak GR karena ustadz Zarfan memang ramah kepada siapa saja) yang dibalasnya mungkin dengan senyum hambar. Bukan lagi getaran-getaran indah yang dirasakannya namun tusukan-tusukan jarum yang menohok hatinya.
            Apabila dilema telah menyerang, tak aka ada yang bisa mengobatinya melainkan mengadu kepada Kholiqnya. Malam ini mungkin akan menjadi malam yang amat panjang bagi Khaila. Saat ini dia amat merindukan sunyinya malam agar dapat segera bermunajat kepada Tuhannya, tempat melabuhkan segala keluh kesahnya.
***
            Saat gelap, kesunyian malam mulai mendekap adalah saat-saat yang amat dinantikan oleh para pecinta Allah dari berbagai penjuru dunia. Terfokus pada seorang insan yang begitu khusyu di dalam tahajjudnya, sujud yang terlihat begitu nikmat dari yang biasanya, rintihan yang begitu pilu dari yang sebelumnya, air mata yang begitu deras mengalir mewakili bahasa hatinya yang dihantam palu cinta, yang harapannya diremas-remas tangan kekecewaan.
            “Wahai Allah … hamba sadar, hamba ini adalah makhluk yang sangat dhoif, itu juga tak terlepas dari kodrat hamba sebagai seorang wanita. Apatah lagi dalam masalah cinta. Wahai Allah wahai Robbku…mutiara-mutiara cinta yang Engkau hembuskan ke dalam hati hamba janganlah Engkau biarkan menjadi  pecahan-pecaan kekecewaan. Sungguh hamba mecintainya, mencintainya karena diri-Mu. Peliharalah beningnya cinta ini dari nikmatnya syahwat agar tak merajai hatiku yang tengah terlena.
Ya Allah… kupinta ia lewat sujud dan doa-doaku, karena Engkulah Maha Pemberi Cinta, Maha penyatu hati, Maha membolak-balikkan hati manusia.
            Ya Allah…kupinta ia lewat sujudku, satukanlah aku dengan dirinya dalam cinta sejati yang Engkau ridhoi dengan kuasa-Mu, biarkanlah ia menjadi imam di dalam keluarga kecilku, karena ia adalah sebaik-baik hamba-Mu menurut hamba.
            Ya Allah Maha Pemilik Cinta, sampaikanlah getaran cinta ini kepadanya melalui hembusan-hembusan nafas cinta-Mu, berikanlah hamba jawaban akan semua ini, agar hamba yang dhoif ini tidak merana karena cinta, tidak patah atau jatuh karna cinta.
            Hamba mohon ya Allah, anugrahkankanlah cinta terindah kepada hamba lewat dirinya, karena begitu besar cinta yang menggelayut di hati hamba.
Ya Robb…kupinta cintanya dengan keagungan segala cinta-Mu.”
Meskipun harapan sangat kecil, Khaila masih melantunkan doa-doa cinta, karena hanya doalah senjata ampuhnya. Karena dia pernah mendengarkan pernyataan seorang ustadz,  doa adalah usaha langit dan usaha adalah ikhtiar bumi.
***
            “Khaila anakku! Ada yang ingin ibu bicarakan kepadamu,” ucap ibu Khaila saat mereka berdua mempersiapkan makan siang di dapur.
            “Ingin bicara apa, Bu?”
            “Khaila, kamu sudah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. 23 tahun, telah cukup umurmu untuk berumah tangga.” Ibu Khaila menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, sementara Khaila hanya menunduk menatap lantai rumahnya karena sudah menduga akan ke mana arah pembicaraan ibunya.
            “Ibu mengerti perasaanmu, Nak, akan cintamu kepada ustadz Zarfan. Tapi kamu harus belajar untuk menerima bahwa ustadz Zarfan telah menentukan pilihannya, siapa pun itu. Begitulah kabar yang ibu terima, kamu harus ikhlas menerimanya dan ibu yakin pasti kamu sudah tahu juga. Nanti malam ba’da isya, akan ada seorang pemuda yang mengkhitbahmu dan ibu sangat berharap kamu bisa mengambil keputusan yang bijak, janganlah kecewakan ayah ibu yang renta ini, dan juga adikmu Nabila.”
           Khaila lama terdiam sebelum menjawab pertanyaan ibunya, sungguh perasaannya berkecamuk hebat. Dia hanya bisa membalas pernyataan ibunya dengan senyuman yang hambar.
            “Dan sungguh kesyukuran yang tiada terhingga buat ibu, bersamaan dengan kamu adikmu juga akan dikhitbah, juga nanti malam ba’da isya.”
            “Oh yah! Siapa, Bu?” tanya Khaila dengan antusias untuk menepis sedikit kekecawaannya dengan kegembiraan, bahwa adiknya sang bidadari keluarga--yang entah mengapa tidak mirip dengan dirinya yang hanya berparas biasa-biasa saja--sebentar lagi akan dikhitbah.
            “Insya Allah sebentar malam kamu tahu, dan ibu sangat berharap kamu bisa menerima semuanya dengan hati ikhlas.”
            Waktu berjalan sangat cepat bagi penghuni rumah Khaila, tak terasa segerombolan dua keluarga sebentar lagi akan tiba di rumah mereka, entah mengapa mereka bisa bersamaan datangnya, apakah sudah direncanakan atau tidak, Khaila tidak tahu.
            Dia tampil biasa-biasa saja dengan gamis hijau muda serta jilbab yang senada, wajahnya sangat sederhana tapi senyumnya sangat manis, namun baginya senyum termanisnya hanya untuk cinta sejatinya nanti. Sedangkan Nabila adiknya, meski hanya memakai pakaian yang sederhana sepertinya namun terlihat sangat cantik karena keelokan parasnya.
            Betapa terkejut Khaila setelah para tamu itu datang, kakinya bagai tak berpijak di bumi, dunianya menjadi gelap ditutupi kain-kain hitam yang bermotifkan “cemburu”. Ternyata laki-laki yang akan melamar adiknya adalah ustadz pujaan hatinya. Ustadz yang selalu menghiasi doa-doanya. Sanggupkah dia menerima kenyataan ini, kenyataan untuk melihat adiknya bersanding dengan dengan orang yang amat dia cintai. Sanggupkah ia mengabdikan diri kepada sepupu ustadz yang ternyata akan melamarnya.
            “Ya Robb…topanglah hamba dengan tongkat-tongkat cintamu agar hamba-Mu yang lemah ini tidak goyah.” Namun dunia cintanya tetap memilihnya ambruk untuk mengistirahatkan sejenak hatinya yang sudah kelewat rapuh sebelum acara lamaran benar-benar terlaksana.
                                                                                ***
            “Kenapa ustadz memilihku?”
            “Wah, jangan panggil ustadz dong kedengarannya sangat tua, panggil kakak aja, deh,” kata ustadz Zarfan sedikit bercanda.
            “Kalau begitu, kenapa kakak ustadz memilihku?”
          “Dik Khaila, saya tidak akan menjawab sebelum kata-kata ustadznya hilang,” ucap ustadz sedikit mempertegas ucapannya namun tak lepas dari nada candaan, hingga membuat Khaila cekikikan.
            “Iya deh Ustadznya hilang, saya serius nih kenapa kakak memilihku di antara sekian banyak bidadari-bidadari di dunia ini?” tutur khaila kemudian sambil menatap wajah suami sekaligus cinta sejatinya.
            Ustadz Zarfan menatap balik wajah istrinya pula dengan mimik  sangat serius yang mampu membuat Khaila keki sendiri, namun menciptakan getaran-getaran indah di hatinya.
            “Kakak memilihmu karena adik selalu hadir disetiap istikharah-istikharah panjangku.”
            Mendengar pernyataan suaminya, Khaila hanya menitikkan air mata. Air mata cinta, air mata syukur, air mata bahagia karena doa-doanya diijabah oleh Allah.
Meski sebelumnya dia telah salah kaprah pasca kejadian lamaran malam itu yang membuatnya pingsan. Ternyata ustadz Zarfan melamarnya dan pemuda gagah yang bernama Darul yang ternyata sepupu suaminya melamar adiknya. Ibunya ternyata sengaja menyembunyikan siapa orang yang akan melamarnya siang itu dan sedikit mengerjai dirinya dengan alasan ingin memberikan kejutan. Namun,  belakangan ibunya menyesal karena ternyata berefek sangat buruk untuk Khaila malam itu, Yang Khaila baru tahu setelah sadar dari pingsannya, disambut tawa oleh semua orang yang hadir saat itu karena salah kaprah.
***
           Tak ada larangan berdoa kepada Allah mengatas namakan cinta, meminta cinta, karena terkadang kekuatan lafaz-lafaz doa yang mengalir dari lidah-lidah suci para pecinta Allah, mampu merobohkan segala benteng-benteng yang ada.
           
            Samata Gedung Ma’had Ali 01-11-2013
Di Kamarku adalah syurgaku



Tidak ada komentar:

Posting Komentar