Rembulan di malam
jum’at tersenyum malu-malu mengintip melalui sela-sela jendela ke dalam masjid
Fath al-Rahman, menyaksikan insan Tuhan yang tengah menari-nari di taman surga,
sekelompok insan yang tengah bermajelis ilmu. Mereka tengah mengkaji tentang
Tazkiyah al-Nafs, dibimbing oleh seorang Ustadz muda jebolan pesantren Gontor
Jawa Timur yang menjadi obor penerang di salah satu kampung terpencil di kota
Makassar itu.
Seorang wanita
sederhana nan bersahaja dengan balutan jilbab abu-abu, terlihat tengah berusaha
untuk fokus mendengarkan penjelasan ustadz muda yang bernama lengkap Ikhwan
Zarfan
itu. Apabila kita menelusuri lorong-lorong hatinya, tedapat lumut-lumut cinta yang menghiasi setiap dindingnya. Pengharapan seorang muslimah akan cinta sejati yang dinantinya. Tak ada yang bisa ia lakukan melainkan cinta dan pengharapan yang ia persembahkan melalui doa-doa setiap tahajjudnya, agar Allah menitipkan sepercik cinta untuknya dari ustadz muda itu. Rasa kagum yang bermekaran menjadi cinta telah dipeliharanya sejak setahun lalu, sejak ustadz muda itu pindah ke kampungnya dalam rangka mengabdikan diri, mengamalkan ilmu yang didapatnya di Pulau Jawa.
itu. Apabila kita menelusuri lorong-lorong hatinya, tedapat lumut-lumut cinta yang menghiasi setiap dindingnya. Pengharapan seorang muslimah akan cinta sejati yang dinantinya. Tak ada yang bisa ia lakukan melainkan cinta dan pengharapan yang ia persembahkan melalui doa-doa setiap tahajjudnya, agar Allah menitipkan sepercik cinta untuknya dari ustadz muda itu. Rasa kagum yang bermekaran menjadi cinta telah dipeliharanya sejak setahun lalu, sejak ustadz muda itu pindah ke kampungnya dalam rangka mengabdikan diri, mengamalkan ilmu yang didapatnya di Pulau Jawa.
Meski kelihatannya
tenang namun hatinya bergemuruh hebat. Wanita sholehah yang biasa dipanggil
Khaila itu tengah berusaha melawan tekanan hatinya yang begitu berat. Berita
yang dia dengar dari sahabatnya sebelum pengajian berlangsung, mampu membuat
semangatnya down. Tersebar kabar bahwa sang ustadz akan menikah dan
tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengkhitbah gadis yang amat
beruntung, gadis yang amat cantik, seorang bidadari. Begitulah yang ia dengar
dari Isti sahabatnya yang didengarnya pula dari sahabat ustadz Zarfan.
Ia sempat
menyesali dirinya karena memendam cinta yang mustahil akan terbalas. Dia bukan
gadis cantik, wajahnya biasa-biasa saja, namun satu hal yang terpancar dari
dirinya, keelokan akhlaknya. Sedangkan ustadz Zarfan adalah purnama di
kampungnya, impian para dara-dara desa. Seorang Dira bunga desa yang juga
mengidolakannya ditolak halus olehnya,
apatah lagi dirinya yang biasa-biasa saja. Meski disadarinya ungkapan yang mengatakan
bahwa cinta tak selamanya memiliki.
Khaila menghentikan
lamunan panjangnya setelah ucapan salam sang ustadz tanda pengajian telah usai
terdengar. Karena tak ingin berdesak-desakan Khaila dan Isti sahabatnya tak
beranjak dari tempat duduknya hingga satu persatu para pemuda pemudi meninggalkan
masjid. Tersisalah mereka berdua dan sang ustadz muda di dalam masjid. Khaila
sempat melihat ustadz Zarfan melempar senyum kearahnya (tidak GR karena ustadz
Zarfan memang ramah kepada siapa saja) yang dibalasnya mungkin dengan senyum
hambar. Bukan lagi getaran-getaran indah yang dirasakannya namun
tusukan-tusukan jarum yang menohok hatinya.
Apabila dilema
telah menyerang, tak aka ada yang bisa mengobatinya melainkan mengadu kepada
Kholiqnya. Malam ini mungkin akan menjadi malam yang amat panjang bagi Khaila.
Saat ini dia amat merindukan sunyinya malam agar dapat segera bermunajat kepada
Tuhannya, tempat melabuhkan segala keluh kesahnya.
***
Saat gelap,
kesunyian malam mulai mendekap adalah saat-saat yang amat dinantikan oleh para
pecinta Allah dari berbagai penjuru dunia. Terfokus pada seorang insan yang
begitu khusyu di dalam tahajjudnya, sujud yang terlihat begitu nikmat dari yang
biasanya, rintihan yang begitu pilu dari yang sebelumnya, air mata yang begitu
deras mengalir mewakili bahasa hatinya yang dihantam palu cinta, yang
harapannya diremas-remas tangan kekecewaan.
“Wahai Allah …
hamba sadar, hamba ini adalah makhluk yang sangat dhoif, itu juga tak terlepas
dari kodrat hamba sebagai seorang wanita. Apatah lagi dalam masalah cinta.
Wahai Allah wahai Robbku…mutiara-mutiara cinta yang Engkau hembuskan ke dalam
hati hamba janganlah Engkau biarkan menjadi pecahan-pecaan kekecewaan. Sungguh hamba
mecintainya, mencintainya karena diri-Mu. Peliharalah beningnya cinta ini dari
nikmatnya syahwat agar tak merajai hatiku yang tengah terlena.
Ya Allah… kupinta ia lewat sujud dan doa-doaku, karena Engkulah
Maha Pemberi Cinta, Maha penyatu hati, Maha membolak-balikkan hati manusia.
Ya Allah…kupinta
ia lewat sujudku, satukanlah aku dengan dirinya dalam cinta sejati yang Engkau
ridhoi dengan kuasa-Mu, biarkanlah ia menjadi imam di dalam keluarga kecilku,
karena ia adalah sebaik-baik hamba-Mu menurut hamba.
Ya Allah Maha
Pemilik Cinta, sampaikanlah getaran cinta ini kepadanya melalui hembusan-hembusan
nafas cinta-Mu, berikanlah hamba jawaban akan semua ini, agar hamba yang dhoif
ini tidak merana karena cinta, tidak patah atau jatuh karna cinta.
Hamba mohon ya
Allah, anugrahkankanlah cinta terindah kepada hamba lewat dirinya, karena
begitu besar cinta yang menggelayut di hati hamba.
Ya Robb…kupinta cintanya dengan keagungan segala cinta-Mu.”
Meskipun harapan sangat kecil, Khaila masih melantunkan doa-doa
cinta, karena hanya doalah senjata ampuhnya. Karena dia pernah mendengarkan
pernyataan seorang ustadz, doa adalah usaha langit dan
usaha adalah ikhtiar bumi.
***
“Khaila anakku!
Ada yang ingin ibu bicarakan kepadamu,” ucap ibu Khaila saat mereka berdua
mempersiapkan makan siang di dapur.
“Ingin bicara apa, Bu?”
“Khaila, kamu
sudah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. 23 tahun, telah cukup umurmu untuk
berumah tangga.” Ibu Khaila menarik napas sejenak sebelum melanjutkan
ucapannya, sementara Khaila hanya menunduk menatap lantai rumahnya karena sudah
menduga akan ke mana arah pembicaraan ibunya.
“Ibu mengerti
perasaanmu, Nak, akan cintamu kepada ustadz Zarfan. Tapi kamu harus belajar untuk
menerima bahwa ustadz Zarfan telah menentukan pilihannya, siapa pun itu.
Begitulah kabar yang ibu terima, kamu harus ikhlas menerimanya dan ibu yakin
pasti kamu sudah tahu juga. Nanti malam ba’da isya, akan ada seorang pemuda
yang mengkhitbahmu dan ibu sangat berharap kamu bisa mengambil keputusan yang
bijak, janganlah kecewakan ayah ibu yang renta ini, dan juga adikmu Nabila.”
Khaila lama terdiam
sebelum menjawab pertanyaan ibunya, sungguh perasaannya berkecamuk hebat. Dia
hanya bisa membalas pernyataan ibunya dengan senyuman yang hambar.
“Dan sungguh
kesyukuran yang tiada terhingga buat ibu, bersamaan dengan kamu adikmu juga
akan dikhitbah, juga nanti malam ba’da isya.”
“Oh yah! Siapa, Bu?” tanya Khaila dengan antusias untuk menepis sedikit kekecawaannya dengan
kegembiraan, bahwa adiknya sang bidadari keluarga--yang entah mengapa tidak mirip
dengan dirinya yang hanya berparas biasa-biasa saja--sebentar lagi akan
dikhitbah.
“Insya Allah
sebentar malam kamu tahu, dan ibu sangat berharap kamu bisa menerima semuanya
dengan hati ikhlas.”
Waktu berjalan
sangat cepat bagi penghuni rumah Khaila, tak terasa segerombolan dua keluarga
sebentar lagi akan tiba di rumah mereka, entah mengapa mereka bisa bersamaan
datangnya, apakah sudah direncanakan atau tidak, Khaila tidak tahu.
Dia tampil
biasa-biasa saja dengan gamis hijau muda serta jilbab yang senada, wajahnya
sangat sederhana tapi senyumnya sangat manis, namun baginya senyum termanisnya
hanya untuk cinta sejatinya nanti. Sedangkan Nabila adiknya, meski hanya
memakai pakaian yang sederhana sepertinya namun terlihat sangat cantik karena
keelokan parasnya.
Betapa terkejut
Khaila setelah para tamu itu datang, kakinya bagai tak berpijak di bumi,
dunianya menjadi gelap ditutupi kain-kain hitam yang bermotifkan “cemburu”.
Ternyata laki-laki yang akan melamar adiknya adalah ustadz pujaan hatinya. Ustadz
yang selalu menghiasi doa-doanya. Sanggupkah dia menerima kenyataan ini,
kenyataan untuk melihat adiknya bersanding dengan dengan orang yang amat dia
cintai. Sanggupkah ia mengabdikan diri kepada sepupu ustadz yang ternyata akan
melamarnya.
“Kenapa ustadz
memilihku?”
“Wah, jangan
panggil ustadz dong kedengarannya sangat tua, panggil kakak aja, deh,” kata ustadz
Zarfan sedikit bercanda.
“Kalau begitu, kenapa kakak ustadz
memilihku?”
“Dik Khaila, saya
tidak akan menjawab sebelum kata-kata ustadznya hilang,” ucap ustadz sedikit
mempertegas ucapannya namun tak lepas dari nada candaan, hingga membuat Khaila
cekikikan.
“Iya deh Ustadznya
hilang, saya serius nih kenapa kakak memilihku di antara sekian banyak
bidadari-bidadari di dunia ini?” tutur khaila kemudian sambil menatap wajah
suami sekaligus cinta sejatinya.
Ustadz Zarfan menatap
balik wajah istrinya pula dengan mimik sangat serius yang mampu membuat
Khaila keki sendiri, namun menciptakan getaran-getaran indah di hatinya.
“Kakak memilihmu
karena adik selalu hadir disetiap istikharah-istikharah panjangku.”
Mendengar
pernyataan suaminya, Khaila hanya menitikkan air mata. Air mata cinta, air mata
syukur, air mata bahagia karena doa-doanya diijabah oleh Allah.
Meski sebelumnya dia telah salah kaprah pasca kejadian lamaran
malam itu yang membuatnya pingsan. Ternyata ustadz Zarfan melamarnya dan pemuda
gagah yang bernama Darul yang ternyata sepupu suaminya melamar adiknya. Ibunya
ternyata sengaja menyembunyikan siapa orang yang akan melamarnya siang itu dan
sedikit mengerjai dirinya dengan alasan ingin memberikan kejutan. Namun, belakangan ibunya menyesal karena ternyata
berefek sangat buruk untuk Khaila malam itu, Yang Khaila baru tahu setelah
sadar dari pingsannya, disambut tawa oleh semua orang yang hadir saat itu
karena salah kaprah.
***
Tak ada larangan
berdoa kepada Allah mengatas namakan cinta, meminta cinta, karena terkadang
kekuatan lafaz-lafaz doa yang mengalir dari lidah-lidah suci para pecinta
Allah, mampu merobohkan segala benteng-benteng yang ada.
Samata Gedung
Ma’had Ali 01-11-2013
Di Kamarku adalah syurgaku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar